Rahasia Pemilihan Tempat Kelahiran Nabi

0
403

Pilihan Allah yang memilih dan mengutamakan sesuatu di atas yang lain menunjukkan Rububiyah Allah dan memperlihatkan keutamaan akan sesuatu itu pada jenisnya. Itulah yang terlihat ketika Allah memilih langit yang paling atas dari tujuh tingkatan, Surga Firdaus, Tiga Malaikat Utama (Jibril, Mikail, Israfil), dan 2 khalil (kekasih) dari 5 Rasul Ulul Azmi dari 313 Rasul dari 124.000 Nabi. Demikian pula pilihan Allah kepada Nabi Muhammad Saw dari Bani Hasyim, dari Suku Quraisy, dari keturunan Kinanah[1], dari Khuzaimah, dari keturunan Ismail a.s.[2]

Pemilihan Tanah Suci untuk para Nabi juga tidak terlepas dari tujuannya sebagai tempat berkumpulnya manusia dari berbagai penjuru negeri untuk pelaksanaan ritual ibadah mereka, sebagai tempat tersucikannya hati mereka, sebagai tempat yang paling aman bagi penganutnya, dan sebagai sarana penghapusan dosa. Tentu saja tanah yang seperti itu akan menjadi negeri yang paling baik dan paling dicintai-Nya, sehingga Allah bersumpah dengannya[3], menjadikan masjid pertama yang dibangun di muka bumi ada di dalamnya, melarang manusia membuang hajat sembari menghadap dan membelakangi titik pusatnya, menyebutnya sebagai induk dari semua kampung (Umm al-Qurā), menjatuhi hukuman kepada yang berniat jahat di dalamnya[4], memasukinya dengan berihram dengan pengecualian, dan menjadikan perasaan manusia tidak akan pernah bosan untuk mengunjunginya kembali.

Ibn Qutaibah berkata, “Disebutkan dalam kitab Nabi Sya’ya tentang daerah Al-Haram sebagai berikut: Bahwasanya Allah berfirman, “Sesungguhnya serigala dan onta hidup bersamaan. Demikian pula seluruh hewan-hewan buas tidak akan berbuat kerusakan dan tidak dapat mengganggu pada daerah Haram-ku ini. Engkau dapat melihat bila hewan-hewan itu keluar dari kawasan ini mereka merasa panik dan merasa takut terhadap hewan-hewan buas. Hewan-hewan buas yang berada di kawasan Al-Haram ini sebelumnya mereka selalu berburu mencari mangsa.”[5]

Senantiasa ada keistimewaan di antara seluruh substansi, perbuatan, ruang, dan waktu, sebagaimana tidak semua manusia dapat diberikan tugas ke-Rasul-an[6], dan tidak semua waktu memiliki kesamaan dalam keutamaan. Sebaik-baik hari di sisi Allah adalah hari Raya Qurban, sebagaimana keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah, 10 malam terakhir Ramadhan, Ramadhan atas segala bulan, dan lailatul qadr atas seribu bulan, hari Jum’at dalam seminggu, dan hari ‘Arafah dalam setahun.

Tanah air bangsa Arab asli berada di kawasan Barat Daya Asia. Bagian Utara berbatasan dengan Syam, bagian Timur dengan Teluk Arab dan Laut Amman, bagian Selatan dengan Samudera Hindia, dan bagian Barat dengan Laut Merah. Kawasan ini disebut Jazirah Arab atau Anak Benua Arab, dengan menisbatkan nama ini kepada bangsa Arab karena merupakan tanah kelahiran asli mereka, dan sebagian bangsa Arab tinggal di luar jazirah Arab, terutama suku pedalaman di Syam. Sementara bangsa Arab pada aslinya merupakan keturunan dari dua bangsa besar: Qahthan dan ‘Adnan.[7]

Kalau kaum Qahthan mendiami bagian Selatan (Yaman bagiannya) dan telah mengenal kebudayaan dan cara kehidupan menetap[8], maka kaum ‘Adnan (keturunan Isma’il a.s.) yang mendiami bagian Utara (Hijaz bagiannya) masih menjalani kehidupan Badui dan nomaden[9]. Segala bentuk kejahiliyahan karena ketidaktahuan terjadi pada masa ini. Budaya kehidupan nomaden ini melahirkan penghargaan yang lebih tinggi kepada golongan laki-laki, dan merendahkan martabat golongan wanita. Terjadilah kisah seperti dikuburnya anak wanita agar tidak menjadi tawanan perang. Kalaupun ada yang membesarkan anak wanita mereka, mereka membesarkannya dalam keadaan malu.[10]

Kehidupan nomaden juga melahirkan watak berperang meski terdapat banyak watak positif seperti penghormatan terhadap bulan Haram, menjaga kehormatan, keberanian, konsistensi, memerangi kezhaliman, jujur, melindungi tetangga, pemaaf ketika berkuasa, menghormati tamu, dan lainnya. Perlindungan yang mereka jaga hadir baik melalui adopsi, perjanjian, sumpah, loyalitas, ataupun suaka politik. Kemungkinan besar akhlak yang paling menonjol dan paling banyak mendatangkan manfaat setelah pemenuhan janji adalah kemuliaan jiwa dan semangat pantang mundur, sebab kejahatan dan kerusakan tidak bisa disingkirkan, keadilan dan kebaikan tidak bisa ditegakkan kecuali dengan kekuatan dan ambisi seperti ini.[11]

Dapat terbayangkan di masanya, dunia dikuasai oleh dua negara adidaya, Persia dan Romawi, disusul India dan Yunani. Kalau Persia adalah ladang subur khurafat dan filosofis yang saling bertentangan, maka Romawi telah dikuasai sepenuhnya semangat kolonialisme. Demikian India dan Yunani yang berada pada puncak kebejatan agama, akhlak dan sosial. Namun hikmah diturunkannya Islam bukan di Persia maupun di Romawi sama seperti hikmah dijadikannya Rasulullah seorang ummi.[12]

Posisi jazirah Arab yang tepat di tengah jantung dunia purbakala, memiliki hikmah tersendiri. Belum pernah ada penakluk yang penuh ambisi merambah wilayah ini. Tak ada penguasa yang ingin menguasai daerah ini. Segala kegiatan aksi militer hanya sampai ke perbatasan Arab dengan Syiria, Palestina dengan Libanon. Bagi mereka, Jazirah Arab tidak pantas untuk diperebutkan.[13]

[1] Ibn Hisyam, Sirah Nabawiyah, dijelaskan bahwa Kaum Kinanah dan Khuza’ah menggantikan kaum Jurhum dalam menguasai Baitullah karena penyimpangan yang banyak dilakukannya.

[2] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zādul Ma’ād, Jilid I, Libanon: Ar-Resalah, 1418 H, hlm. 43-47

[3] Q.S. At-Tin: 3 dan Q.S.  Al-Balad: 1

[4] Q.S. Al-Hajj: 25

[5] Ibn al-Jauzi, Al-Wafa, bi Ahwal al-Musthafa Saw, Beirut: Al-‘Ashriyah, 1425 H

[6] Q.S. Al-An’am: 124 dan Q.S. Al-Qashash: 68

[7] Abdul Karim Zaidan, Al-Madkhal li Dirasatisy Syari’atil Islamiyyat, Baghdad: Mathba’atul ‘Ani, 1969, mengutip Ahmad Amin, Fajrul Islam, Jilid I, hlm. 1 dan Shubhy Mahmashani, Al-Audha’ at-Tasyri’iyyah fid-Duwal al-‘Arabiyyah, hlm. 14

[8] Q.S. Saba’: 15

[9] Q.S. Quraisy: 1-104

[10] Q.S. 81:8-9; 16:58-59; 17:31

[11] Shafiyurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahiqul Makhtum, Bahtsun fi as-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhalish-Shalati wa as-Salam, Riyadh: Darul-Salam, 1414 H, hlm. 65

[12] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy,  Fiqh as-Sirah, Dirasat Minhajiah ‘Ilmiyah li-Shiratil Musthafa ‘alaihi shalatu wa salam, Libanon: Darul Fikr, 1397 H

[13] Wahiduddin Khan, Muhammad: A Prophet for All Humanity, Inggris: Goodword Books, 1998, hlm. 15.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here