Mutiara Keberkahan Ramadhan

0
250

Oleh : Wido Supraha, M.Si.

ramadhanMengambil bentuk masdar dari fi’il ramidha, yang artinya menjadi terbakar karena panas yang amat terik, Ramadhan, dinamakan demikian, menjadi bulan yang sangat dinanti kaum beriman sebab keberkahan yang luar biasa berlimpah di dalamnya. Meskipun umumnya kondisi pada bulan tersebut menjadikan fisik serasa terbakar disebabkan beratnya rasa lapar dan teriknya udara panas yang begitu menyengat, sehingga orang-orang dahulu memberi nama khusus padanya, Ramadhan tetap menjadi impian para pemerhati ruhani yang sedang kering, dan para pejuang keadilan yang hendak beristirahat sejenak dari kepenatan, tentunya karena ada sesuatu yang tidak biasa darinya yang dapat mengisi kekosongan jiwa, kekeringan motivasi, dan kekuatan semangat. Dengannya produktivitas ternyata justru semakin meningkat, karya-karya besar terlahir, dan kekuatan umat terbangun lebih kokoh. Sejarah Islam membuktikan bahwa banyak kemenangan diraih karena berkah Ramadhan.

Ramadhan adalah bulan yang diliputi rahmat, ampunan, dan keterbebasan dari neraka. Bagian awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan bagian akhirnya adalah keterbebasan dari neraka[1]. Pahala yang telah disiapkan Allah pun tidak lagi dalam kalkulasi biasa, akan tetapi menjadi luar biasa sesuai kehendak Allah Jalla wa ‘Ala yang akan secara langsung mendidik (tarbiyah wa ta-dib) setiap pribadi hamba-nya. Rasulullah Saw. bersabda,

Jika telah tiba bulan Ramadhan, maka pintu-pintu Surga dibuka,                                                                                    pintu-pintu Neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.[2]

Keberkahan Ramadhan berujung pada lahirnya pribadi yang benar-benar bertaqwa. Benteng permanen keimanan, sehingga Allah kelak menunaikan batasan hidupnya, menjadi target utama yang harus tercapai jika berhasil menyatukan keberkahan-keberkahan Ramadhan yang tersebar merata di dalamnya. Sebuah target capaian yang tidak berimplikasi sekedar keselamatan diri dalam konteks sesaat (short-term) akan tetapi keselamatan multi-dimensi menuju kesejahteraan hakiki (long-term).

Persiapan yang matang menyambut keberkahan agung yang akan berkunjung menjadi prasyarat utama selama proses penyeleksian berlangsung, khususnya memastikan tiada halangan turunnya rahmat Allah Swt. Sungguh Allah Maha Pemurah dalam menurunkan rahmat-Nya. Namun syarat turunnya rahmat berupa keberkahan hendaklah kita jaga. Bukankah kita diingatkan selalu untuk tunduk dalam seluruh ajaran Islam tanpa memilah dan memilih, think and act completely not partially. Bukankah kita pun sering diingatkan untuk memastikan seluruh yang masuk ke dalam tubuh kita, terpakai di atas kulit kita, menjadi atap kita, atau menjadi kendaraan kita, seluruhnya ada dalam keridhoan Allah Swt. Rasullah Saw. pernah bercerita akan adanya seorang pria yang beribadah dan berdo’a dengan sungguh-sungguh, bahkan ia berdo’a dengan amat khusyuk sembari mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, dan berharap dengan amat sangat, “Yaa Rabbi, Yaa Rabbi”. Namun di sisi lain, pria ini lupa bahwa makanannya, minumannya, pun pakaiannya ternyata diperoleh dari hasil yang tidak diridhoi Allah Swt. Bagaimana keberkahan dan rahmat Allah akan turun kepada pria ini?

Pastikan bahwa interaksi sosial sesama manusia (mu’amalah) telah terselesaikan atau minimal terkomunikasikan dengan baik. Jika pernah berbuat kesalahan, hendaknya bersegera meminta permohonan ma’af darinya semaksimal mungkin. Hutang yang masih dimiliki dalam wujud materi, bersegeralah mengembalikannya dalam wujud materi pula,  sekecil apapun nilai hutang tersebut, terkecuali telah dikomunikasikan secara baik mekanisme penyelesaiannya kepada pemberi hutang. Ingatlah bahwa Rasulullah Saw pernah tidak mau men-shalat-kan jenazah yang meninggal dengan masih meninggalkan hutang, kecuali ada sahabat yang mau menjamin pembayarannya.[3] Menahan pembayaran hutang ketika mampu melakukannya pun adalah sebuah kezhaliman. Rasulullah Saw. Bersabda,

“Sesungguhnya dosa terbesar di sisi Allah yang akan dibawa seorang hamba bertemu denganNya setelah dosa-dosa besar yang telah Allah larang adalah seseorang meninggal dalam keadaan menanggung hutang yang tidak mampu ia lunasi.” [4]

Rasulullah Saw. di masa hidupnya senantiasa men-dawam­-kan do’a perlindungan dari kondisi berhutang, Allahumma innii a’uudzu bika minal ma’tsami wal maghram (Aku berlindung dari kesalahan dan lilitan hutang).[5] Allāhumma innī a’ūdzubika minal hammi wal hazani wal ‘ajzi wal kasali wal bukhli wal jubni wa dlalā’id daini wa ‘alaihi wa ghalābatir rijāli (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dan dari lilitan hutang dan penindasan).[6] Bagi pemberi hutang menjadi tambahan kebaikan baginya jika mampu meringankan cara pembayaran kepada penerima hutang ketika mengalami kesulitan dalam pembayaran. Bahkan meridhoi hutang yang diberikan dan menganggapnya sebagai sedekah jauh lebih baik jika kondisi memungkinkan sebagaimana nasihat Rasulullah Saw. kepada Ka’ab bin Malik.

Al ‘Irbadh bin Sariyah berkisah, “Rasulullah Saw. mengundangku untuk makan sahur pada Bulan Ramadhan, beliau berkata: “Kemarilah untuk makan yang mendapat berkah!”.[7] Keberkahan Ramadhan bukanlah milik mereka yang paling lama puasanya dalam sehari, karena sebaik-baik mukmin adalah yang mengakhirkan sahurnya dan mensegerakan berbuka. Rahasia sahur tidak saja terletak pada makanannya yang mampu memberikannya kekuatan dalam berpuasa dan menjadikannya berkumpul makan bersama keluarganya – sesuatu yang mungkin jarang dilakukannya, namun adanya tambahan keberkahan yang hadir karena dengan sahur menjadi sebab yang membangunkan manusia[8] di sepertiga akhir malam, waktu yang paling mustajab untuk berdo’a kepada Allah, qiyamullail (mendirikan shalat malam), hingga kemudian melaksanakan Subuh berjama’ah di Masjid. Maka dengan mudah terlihat, jama’ah shalat Subuh di bulan Ramadhan jauh lebih banyak dibanding pada bulan selainnya. Inilah keberkahan Ramadhan. Inilah kehidupan ideal yang semestinya berlaku di sepanjang masa. Ramadhan mengingatkan manusia untuk kembali menghidupkan kehidupan yang ideal tersebut, kehidupan yang diperintahkan dan karenanya diridhoi Allah Swt. Dengan demikian, Ramadhan mengajarkan bahwa menjadi ahlul masjid bukanlah di kala usia sudah senja atau usia tidak lagi produktif. Jadilah hamba yang senantiasa memakmurkan masjid sedini mungkin. Karenanya, tiada keberkahan bagi mereka yang bersahur namun tidak memakmurkan masjid bahkan menjauhi masjid, dan malah mengisi sepertiga akhir malam dengan kesia-siaan amal, terlena dengan hiburan ‘kotak ajaib’ (istilah untuk televisi) yang boleh jadi memang bertujuan menjauhkan umat Islam dari satu-satunya jalan kebenaran (ad-din al-Islam).

Ramadhan memfasilitasi umatnya dengan tambahan kesempatan untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Shalat Tarawih, Buka Bersama, hingga I’tikaf (menginap) di masjid pada 10 malam terakhir (‘asyrul awakhir) menjelaskan hal itu. Gunakanlah momen-momen tersebut untuk mempererat tali silaturrahim antar warga, dan meningkatkan keterlibatan aktif dalam berbagai persoalan kemasyarakatan dimana kita hidup dan tinggal bersama di dalamnya. Rasulullah Saw. memerintahkan umatnya untuk tidak sekedar mengenal tetangga 1 rumah di sisi kanan dan kiri, akan tetapi bersosialisasi aktif dengan 40 rumah di depan, belakang, kiri, dan kanan rumah.[9] Sembari menjaga lisan selama bulan suci ini akan melahirkan peningkatan kualitas sosialisasi antar warga yang penuh keberkahan. Rasulullah Saw. bersabda,

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Allah tidak membutuhkan puasanya.”[10]

Keberkahan yang begitu banyak ini pun ternyata dapat kita tambah dengan amalan yang cerdas. Yang dimaksud dengan amalan cerdas disini adalah sebuah amalan sederhana namun mendapatkan ganjaran yang berlipat. Memberi bukaan kepada yang berbuka adalah salah satu contohnya. Barangsiapa yang memberi bukaan kepada orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti pahala yang berpuasa itu, dimana orang yang berpuasa itu tidak kurang pahala puasanya sedikitpun. Demikian arahan dari Nabi Saw.[11]

Perlu diresapi dalam perenungan yang mendalam, bagaimana rasa lapar yang dialami selama satu bulan ini akan menyadarkan manusia akan derita kelaparan yang juga dialami oleh saudara seiman yang berada dalam taraf kemiskinan. Hadirnya rasa syukur sembari kesadaran pentingnya menyantuni sesama, akan menjadikan hati kita lembut, bersih, dan jauh dari penyakit hati yang dapat merusak amalan. Inilah satu keberkahan yang jarang terfikirkan, yakni hati yang suci dan tersucikan karena amalan puasa dan semakin bercahaya karena terdistribusinya sebagian harta tercinta dalam bentuk zakat, infaq, dan shadaqah. Manusia akan tersadarkan bahwa kekayaan adalah titipan dari Allah yang tidak akan dibawa mati.

Adapun keberkahan utama yang akan diberikan-Nya kepada kita kelak adalah dimasukkannya kita ke dalam Surga-Nya melalui pintu ar-Rayyan, satu dari delapan pintu Surga, yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa karena keimanan dan mengharapkan keberkahan-Nya saja. Keberkahan ini pun ditambah lagi dengan kesempatan bertemu dan melihat wajah Allah Swt., dan pada saat itu kita berbahagia karena amalan puasa kita. Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan yang ia bergembira dengannya; yaitu apabila ia berbuka ia bergembira, dan apabila ia bertemu Rabb-nya, ia bergembira dengan puasanya.”[12]

Sungguh umur yang berkah adalah umur yang dipanjangkan Allah Swt. dan dengan umur tersebut terlahir begitu banyak amal shalih. Keberkahan itu akan semakin bernilai di bulan Ramadhan, ketika detik demi detik dari tarikan nafas kita kita gunakan untuk menjemput keberkahan Allah. Mari sambut hadirnya Ramadhan dengan penuh sukacita. Gugah seluruh keluarga dengan persiapan bekal ruhani, ilmu, harta, dan kesehatan fisik. Mari jalani Ramadhan dengan agenda pribadi yang tersusun rapih. Ini masa yang tepat mengkondisikan rumah-rumah keluarga muslim untuk menikmati keindahan bersama Islam. Ya Rabbana, sampaikanlah usia kami hingga Ramadhan berakhir nanti, dan turunkanlah keberkahan kepada kami, hamba-Mu yang rindu menemukan masa dimana dibukanya tabir wajah-Mu.


[1] Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Majalisu Syahri Ramadhan, Riyadh: Dar ats-Tsurayya li an-Nasyr, Cetakan ke-1, 2002, hlm. 2

[2] Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah r.a.

[3] HR. Abu Daud dari Abu Musa al-‘Asyari. Sahabat itu bernama Abu Qatadah.

[4] HR. Bukhari dari Salamah bin al-Akwa’ r.a.

[5] HR. Bukhari dari ‘Aisyah r.a.

[6] HR. Bukhari dari pembantunya, Anas bin Malik r.a.

[7] HR. Abu Daud dari al-‘Irbadh bin Sariyah

[8] Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, Taudhih al-ahkaam min bulugh al-maram, Hadits 548

[9] Pendapat al-Auza’i yang senada dengan pendapat Ibn Syihab sebagaimana dikutip Ibn Hajar dalam al-Fath (10/447)

[10] HR. Bukhari dari Abu Hurairahs r.a.

[11] HR. Tirmidzi, Hasan Shahih, dari Zaid ibn Khalid al-Jahniy r.a.

[12] HR. Bukhari, dari Abu Shalih az-Zayyat r.a.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here