Konsolidasi Dakwah Menuju Khairu Ummah

0
423

KONSOLIDASI DAKWAH MENUJU KHAIRU UMMAH[1]

Dr. Wido Supraha

Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah MUI Pusat

wido.supraha@uika-bogor.ac.id | +628158912522 | @supraha | supraha.com

Allāh ﷻ berfirman dalam surat Āli ‘Imrān [3] ayat 110:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik

Menurut Ibn Katsir, ayat ini semakna dengan Surat Al-Baqarah [2] ayat 143:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Umat Islam diingatkan bahwa mereka adalah bagian daripada umat manusia sepanjang sejarah. Namun mereka dilebihkan di sisi Allah dengan gelar umat terbaik (khairu ummah), sebagaimana Allāh pernah melebihkan Bani Israil di masanya, sebagaimana firman-Nya pada 5 (lima) tempat dalam Al-Qur’ān Surat Al-Baqarah [2] ayat 47, 122, Ad-Dukhān [44] ayat 32, dan Al-Jātsiyāt [45] ayat 16, 24.

Terkait Bani Israil, surat Al-Baqarah adalah surat yang mengandung tema besar Pendidikan Kepemimpinan (Tarbiyah Qiyadhiyah). Ternyata sebanyak 5 (lima) rubū’ menceritakan kepemimpinan di kalangan Bani Isrāil, kaum yang diutamakan di masanya itu. Keutamaan yang sejatinya merupakan karunia yang besar atas mereka, malah dibalas mereka dengan melakukan banyak sekali kemaksiatan, keburukan, dan kerusakan, padahal mereka adalah kaum yang mendapatkan nikmat diturunkan banyak sekali Nabi-nabi kepada mereka. Hal ini tentu bermaksud agar menjadi pelajaran bagi umat terbaik di masa ini, umatnya Rasūlullāh ﷺ, agar tidak mengulangi kesalahan yang pernah terjadi, dan bahwa di antara jalan menuju khairu ummah adalah dengan tidak mengulangi kegagalan demi kegagalan orang-orang terdahulu.

Al-Qur’ān sendiri hadir sebagai sumber hidayah, bimbingan dan taufik. Di dalamnya mengandung sumber dari segala sumber ilmu, prinsip-prinsip kunci yang menjadi resep teraihnya dan kemudian terjaganya gelar khairu ummah. Kegagalan Bani Israil adalah di saat ilmu tidak terinternalisasi dalam jiwa mereka, sehingga menginternalisasikan ilmu dari dalam Al-Qur’an adalah pondasi paling awal, langkah paling pertama, sebelum segala sesuatu.

Di dalam ayat tersebut, terkandung syarat asasi menjadi umat terbaik yang seluruhnya harus ditunaikan. Memerintahkan manusia kepada yang ma’ruf, mencegah manusia dari yang munkar, dan beriman kepada Allah ﷻ adalah resepnya. Mereka akan tetap menjadi umat terbaik, umat penyempurna, umat terakhir, dan umat yang paling mulia di sisi Allah ﷻ, selama tetap melakukan ketiga syarat tersebut.

Diksi ma’ruf merujuk pada apa yang dikenal baik di kalangan orang-orang berilmu, sementara munkar merujuk pada apa yang dipandang buruk oleh orang-orang berilmu. Kedua amalan ini disempurnakan dalam bingkai sentiasa membenarkan Allah ﷻ, mengikhlaskan niat hanya untuk Allah ﷻ, dan beribadah hanya kepada-Nya.

Ketiga syarat itu sejalan dengan esensi dakwah. Tiada lagi kalimat terbaik kecuali kalimat dakwah atau menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada seluruh umat manusia, sebagaimana dalam Surat Fushshilat [41] ayat 33:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Umat ini akan selalu berada dalam pujian-Nya selama menjalankan ketiga syaratnya di atas ilmu. Oleh karenanya, setelah ayat tersebut, Allāh ﷻ mencela Ahli Kitab yang tidak memiliki ketiganya. Di antara ahli kitab, ada yang memiliki ilmu namun tidak menegakkannya dan menyampaikannya (Yahudi), sebaliknya ada juga yang menyampaikannya namun tidak di atas ilmu (Nashrani), keduanya mendapatkan celaan.

Selanjutnya, dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah, tentu bisa dilakukan sendiri-sendiri atau masing-masing. Namun Allah menggunakan diksi ‘kalian’ bukan ‘kamu’ untuk mendorong pentingnya hidup berjama’ah, sebagaimana kekuatan dakwah pun akan semakin kokoh jika dikelola dengan profesional. Sampai titik ini, kesadaran untuk berkonsolidasi dibangkitkan.

Siapapun yang tidak memiliki ilmu, tidak akan dapat menyebarkan ilmu. Berawal dari kegemaran menuntut ilmu, akan membawanya mencintai penegakan amal-amal shalih, hingga berlanjut pada tahap mendakwahkan kenikmatan amal shalih tersebut. Barulah konsolidasi dakwah terlahir di atasnya.

Konsolidasi merupakan upaya untuk terus memperteguh atau memperkuat komunikasi dan kerjasama strategis di antara para muballigh atau da’i. Kesiapan untuk saling berkonsolidasi adalah tangga pertama menuju khairu ummah. Darinya akan menguat semangat saling mencintai dan saling melengkapi, sehingga terbangun ukhuwah imaniyah. Satu kaidah mengatakan:

الحق بلا نظام يغلبه الباطل بنظام

Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.

Tentunya konsolidasi dakwah harus diawali dengan mengkondisikan diri pribadi yang merupakan paduan jasad, akal, dan jiwa. Ketiga unsur pembentuk manusia ini harus saling menguatkan sebelum terjadinya konsolidasi di antara pribadi-pribadi muballigh atau da’i dalam cakupan yang semakin luas.

Ciri umat terbaik itu sungguh amatlah banyak, di antaranya selalu berada di antara bersyukur, bersabar, dan ihtisab (mengharapkan pahala Allah). Meskipun umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat terakhir, namun mereka akan menjadi yang pertama di hari kiamat, dan yang paling pertama memasuki Jannah, sebagaimana sabda beliau dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah r.a.:

“نَحْنُ الآخِرُونَ الأوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَنَحْنُ أوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ”. وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيثِ

Kita adalah orang-orang yang terakhir, tetapi orang-orang yang pertama di hari kiamat, dan kita adalah orang yang mula-mula masuk surga.

Gelar umat terbaik akan sentiasa diraih selama istiqamah menjalankan syarat-syaratnya. Siapa yang terus bergerak menebarkan kebaikan terbaik, akan dibalas dengan balasan terbaik (khairun tsawaban wa ‘uqban) oleh Hakim Terbaik (khairul hākimin).

Konsolidasi akan melahirkan persatuan, sementara persatuan akan menghadirkan kekuatan, dan tidak ada kekuatan tanpa didasari atas ilmu. Konsolidasi berbasis ilmu inilah yang akan awet dan bertahan lama, bahkan saling mencukupi dan menguatkan satu sama lain di dalam dakwah.

Dakwah adalah jalan berliku yang penuh onak dan duri. Muballigh tidak mengharapkan sedikitpun yang bersifat materi keduniaan dari dakwah, namun justeru dakwah akan meminta segalanya dari sosok-sosok muballigh. Konsolidasi selain akan memetakan kelemahan-kelemahan diri, juga akan membuka peluang-peluang beraliansi strategis dan bekerjasama, sehingga menghadirkan kekuatan baru dengan daya dobrak yang lebih besar, maka ancaman demi ancaman dakwah pun akan semakin berkurang.

Namun begitu, tidaklah dakwah ini mampu dipikul kecuali oleh orang-orang yang kuat. Kekuatan dalam dakwah itu hadir karena kefahaman mengapa harus berada di jalan dakwah. Kefahaman yang mendalam akan melahirkan kefaqihan. Proses menuju faqih itulah yang disebut sebagai tafaqquh. Dengan demikian tiada kekuatan tanpa ilmu dan konsolidasi. Rawatlah keduanya, agar gelar khairu ummah sentiasa dapat dirawat bersama-sama dan dipertanggungjawabkan kelak. Wallāhu a’lam.

[1] Disampaikan dalam acara Konferensi Muballigh Indonesia Bakomubin, Sabtu, 23 Maret 2019 di Gedung Nusantara V MPR RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here