Peran Pemuda dalam Masyarakat

0
249

Oleh : Wido Supraha, M.Si.[1]

Disampaikan dalam kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan 1431 H, 22 Agustus 2010, di Masjid Baiturrahman, Perumnas Rawalumbu, Bekasi.

“Wahai anakku! Janganlah bersedih! Kamu masih bisa berkhidmat kepada Islam dengan cara yang lain. Jika tidak lewat berjihad dengan pedang, masih bisa berjihad dengan lisan dan pena.”

                  Nasihat di atas keluar dari lisan Nawwar binti Malik kepada anaknya, seorang pemuda yang begitu mencintai Islam, begitu mencintai Nabi Muhammad Saw., begitu mencintai berjihad di jalan Allah Swt. Ya, pemuda itu adalah Zaid bin Tsabit r.a. Di kala itu, usia Zaid bin Tsabit tidak lebih dari 13 tahun dengan postur tubuh yang kecil dan kurus kerempeng. Tatkala anak kecil ini mendengar kabar bahwa pasukan Islam bersiap-siap untuk berangkat menuju lembah Badar berperang melawan kaum musyrikin, ia segera tergerak karena kecintaannya, membawa pedangnya yang lebih panjang dari tubuhnya, berangkat bersama kaum muslimin. Namun, betapa sedihnya nasib anak kecil yang sangat antusias dan berambisi untuk ikut serta dalam pasukan Islam ini ketika ia Rasulullah Saw. melihat usianya yang sangat muda dan postur tubuhnya yang sangat kecil, karena khawatir akan celaka di medan pertempuran nanti, beliau menolak keikutsertaannya dalam skuad pasukan kaum muslimin. Maka Zaid pulang kembali menjumpai ibundanya dalam keadaan menangis pilu karena kesedihan yang menderanya, sambil berkata, “Rasulullah Saw. melarang saya ikut berjihad.”[2]

Ibu yang bijak tersebut menyadarkan anaknya – sekaligus kita semua – bahwa ruang lingkup berjuang di jalan Allah sangat luas, beragam dan kemampuan serta potensi setiap individu sangat berbeda dan tidak sama. Orang yang tak mampu berbuat di satu medan, ia masih bisa berkarya pada lini yang lain. Setiap orang akan dimudahkan untuk mencapai tujuannya. Ibu yang cerdas itu kemudian berkata kepada anaknya yang masih kecil namun memiliki semangat membara itu, “Kamu harus tekun belajar membaca dan menulis – sebuah kegiatan yang jarang dilakukan masa itu – serta menghafal surat-surat Al-Qur’an dengan baik! Setelah itu, kita berangkat menghadap Rasulullah Saw. untuk mengetahui, bagaimana cara menggunakan potensi dan kemampuan yang kita miliki untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin!”

Maka kita ketahui kemudian, orang tua Zaid kembali menemui Rasulullah di masa berikutnya, dan berkata, “Wahai Nabi Allah, anak kami ini, Zaid bin Tsabit, telah menghafal 17 belas surat al-Qur’an. Ia membacanya dengan fasih dan benar sebagaimana diturunkan kepadamu. Ia juga mahir menulis dan membaca. Dengan itu ia ingin dekat denganmu dan selalu mendampingimu. Jika Anda bersedia, silakan mendengarkan bacaannya.” Lalu Rasulullah Saw. mendengarkan bacaan Zaid bin Tsabit hingga beliau mengetahui kemahiran dan kemampuan Zaid dalam menghafal.

Pada masa selanjutnya Rasulullah katakan, “Wahai Zaid, pelajarilah tata bahasa Yahudi untukku. Karena aku tidak merasa tenang dari mereka atas apa yang aku katakan.” Maka Zaid bin Tsabit sangat antusias mempelajari bahasa Ibrani hingga ia menguasainya dengan baik dalam waktu yang cukup singkat, dan bahkan ia sanggup berbicara dan menulis laksana seorang Ibrani. Bahkan kemudian ia sukses menerima tugas Rasulullah Saw. selanjutnya untuk mempelajari bahasa Suryani sehingga ia menjadi juru bijara (penerjemah) daulah Islamiyah, dan selalu ikut serta dalam berbagai perundingan, utusan, atau surat-menyurat antara kabilah-kabilah asing dengan daulah Islamiyah.

Zaid bin Tsabit kemudian menjadi sosok pemuda yang sangat berjasa bagi kemajuan Islam, bahkan ia menjadi penulis wahyu Allah yang sangat masyhur. Dan ketika Rasulullah wafat, Zaid dipercaya oleh Abu Bakar untuk melakukan tugas mulia mengumpulkan ayat Al-Qur’an yang berserakan, karena ialah sosok yang paling mengetahui persis seluk-beluk Al-Qur’an, kapan diturunkan, bagaimana turunnya, apa sebab turunnya, hingga tata cara menggabungkannya dengan ayat-ayat seelum dan sesudahnya.

Begitu banyak pemuda-pemudi di masa hidup Rasulullah Saw. yang telah berkhidmat untuk Islam di masa mudanya, menjadi tokoh penting bagi sejarah perkembangan Islam di masanya. Termasuk di antaranya adalah Usamah bin Zaid, simbol kepahlawanan pemuda yang paling spektakuler dalam sepanjang sejarah. Meskipun ia masih kecil, ia dikenal dengan kepribadian yang luar biasa. Ketika terjadi fitnah terhadap keluarga Rasulullah Saw., hanya Usamah dan Ali bin Abi Thalib  yang dimintai pendapat oleh Rasulullah Saw, padahal usia Usamah saat itu baru 12 tahun. Di usia 15 tahun, ia menjadi perantara para sahabat yang segan menyampaikan secara langsung kepada Rasululllah Saw. akan permasalahan yang mereka hadapi. Bahkan sebuah keputusan besar yang dibuat Rasulullah Saw. sebelum beliau wafat adalah menunjuk Usamah bin Zaid – yang usianya pada saat itu baru 18 tahun – sebagai komandan perang pasukan kaum muslimin yang sangat besar yang akan berangkat menuju Syam untuk melawan bangsa Romawi. Dalam pasukan besar ini, Usamah bukan memimpin sekelompok anak-anak kecil atau orang-orang biasa, namun ia memimpin sekelompok pahlawan, tokoh, dan pembesar Islam terkemuka yang ahli dan lebih hebat dalam segala hal, yakni mahir dalam berperang, mahir dalam membuat strategi militer yang jitu, iman mereka lebih unggul, dan mereka lebih dahulu masuk Islam dan lebih lama bergaul dengan Rasulullah Saw. seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, Qa’qa’ bin Amr, Syurahbil bin Hasnah, Mutsanna bin Haritsah, Amr bin Ash, dan sahabat besar lainnya. Pemuda belia ini ternyata telah berhasil menguasai berbagai bidang ilmu. Ia mahir menunggang kuda, berperang, memimpin, senin berdisiplin, ilmu fikih, dan ilmu pengetahuan lainnya, sehingga berbagai tugas berat dan berbahaya ini mampu ia laksanakan.

Usamah bukanlah sosok pemuda yang mengidam-idamkan sesuatu yang dikehendaki banyak pemuda hari ini, seperti status sosial yang terpandang, bentuk rupa yang elok dan ganteng, pakaian yang mewah dan serba necis. Ia adalah pemuda sederhana, anak dari seorang sahabat yang juga sangat sederhana. Ayahnya Zaid bin Haritsah adalah maula Rasulullah, yang dimerdekakan Rasulullah ketika sebelumnya hanya seorang hamba sahaya yang diperjualbelikan di pasar-pasar. Sungguh, kepribadian Usamah jauh berbeda dari kepribadian kebanyakan pemuda akhir-akhir ini, yang begitu banyak menghabiskan waktu emasnya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan sia-sia, bahkan tidak menambah ilmu sama sekali. Topik pembicaraan di kalangan kebanyakan pemuda hari ini hanya berputar-putar sekitar lagu-lagu, film-film, games-games, komik-komik, sinetron-sinetron, infotainment-infotainment, bintang film, artis, pemain bola, pacaran, nongkrong-nongkrong, alat komunikasi dan rokok, bahkan NAPZA, na’udzubillaahi min dzalik. Kebanyakan mereka berpendapat untuk memanfaatkan waktu muda untuk hura-hura dan bersenang-senang, persis seperti sindiran Allah Swt. dalam Q.S. Mu’minun ayat 37,

 “kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi”

Padahal Rasulullah Saw. telah mengingatkan para pemuda dengan sabdanya,

“Kelak pada hari Kiamat, kaki seorang anak manusia tidak akan tergelincir (ke Surga atau Neraka) dari sisi Rabb-nya, hingga lima perkara, ditanyakan kepadanya: tentang usianya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang ia perbuat dengannya.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikanlah bahwa Rasulullah menekankan penggunaan kata ‘masa-muda’, untuk menunjukkan betapa pentingnya masa muda sebagai masa keemasan seorang manusia, untuk digunakan semaksimal mungkin untuk meningkatkan kapasitas dan kecerdasan dirinya. Tingkatkanlah amal ibadah shalat fardhu berjama’ah di Masjid pada waktunya, karena ia kewajiban pemuda yang telah akil baligh. Hendaknya pula seorang pemuda segera melibatkan dirinya dalam aktifitas-aktifitas yang berkah dan bermanfaat seperti aktif di kepengurusan Remaja Masjid, aktif di organisasi kepemudaan Islam, aktif mengikuti forum-forum diskusi, aktif terlibat dalam menyelesaikan masalah di lingkungan seperti masalah sampah, kebersihan, masalah sosial dan sejenisnya, menumbuhkan kegemaran untuk membaca beragam jenis buku bacaan dan menuliskan ide-ide kreatif yang muncul dalam dirinya dalam bentuk tulisan. Kejarlah prestasi setinggi mungkin, tuntutlah ilmu sebanyak mungkin, tingkatkan kedekatanmu dengan Allah Swt., senantiasalah memohonkan ampunan dan rahmatNya, kemudahan atas segala urusanmu, dan berdo’a untuk kebahagiaan kedua orang tuamu. Semoga buku catatan amalmu kelak hanya terisi dengan catatan-catatan kebaikan saja.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihat supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr : 1-3)

Walhamdulillaahi rabbil ‘alamin. (wido.supraha@yahoo.com.sg).


[1] Penulis adalah mahasiswa doktoral Universitas Islam Ibn Khaldun, Bogor, pada jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam, atas Program Kaderisasi Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII)

[2] Raghib as-Sirjani, Risalatu ila Syabab al-Ummah, Muassasah Iqra’, Kairo, Cet. I, 1995

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here