Catatan Kuliah Filsafat dan Penyempurnaannya (6) – Biaya Pendidikan

0
244

Ditulis ulang oleh : Wido Supraha, M.Si.

biaya_pendidikanDi dalam ajaran Islam, setiap muslim wajib belajar menuntut ilmu setinggi mungkin. Oleh karenanya, menjadi sebuah kewajiban pula untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelajaran baik secara formal maupun informal. Jika ada di antara kaum muslimin yang tidak bisa menikmati pendidikan karena tidak memiliki biaya,  maka tugas umat Islam untuk bahu-membahu mencari solusi bersama, baik dari sisi pemerintah, penyelenggara pendidikan maupun kaum muslimin pada umumnya, sehingga tercipta sistem pendidikan yang menjangkau seluru kaum muslimin dan terjangkau dari sisi biaya sesuai kapasitas masing-masing.

Madrasah Nizhamiyah di kota Baghdad, di zaman Harun al-Rasyid, Khalifah Makmun, itu sampai mengeluarkan anggaran pemerintah senilai hampir ekivalen 240 ton emas murni. Pada saat itu sudah sampai pada kesimpulan bahwa pendidikan itu memang membutuhkan biaya yang tinggi karena harus menjangkau semua daerah dan memfasilitas setiap muridnya. Di zaman Dinasti Abbasiyah ini, madrasah merupakan lembaga pendidikan per exelence[1]yaitu sistem pendidikan yang bercorak fiqih dan hadits. Perkembangan madrasah sangat pesat pada zaman ini, walaupun terjadi kemunduran di Bagdad, masalah pendidikan tetap menjadi perhatian. Khilafah menyediakan sarana dan prasarana pendidikan sampai kedaerah-daerah terpencil sekali pun. Gedung madrasah dibangunkan dengan bagus dan besar sekaligus dengan perpustakaannya, biaya pendidikan bagi siswa disediakan agar dapat belajar dengan gratis, dan disediakan pula guru-guru yang berpengetahuan luas dan medalam. Pada masa ini dibangun Madrasah Nizhamiyah, yang akan menjadi perguruan tinggi terbesar pada zamannya. Salah seorang pengajar di Madrasah Nizhamiyah adalah Al Ghazali. Al Ghazali terkenal dengan asas mengajarnya, yaitu:

1. Memperhatikan tingkat daya berpikir anak

2. Menerangkan pelajaran dengan jelas

3. Mengajarkan dari konkrit ke abstrak

4. Mengajarkan ilmu pengetahuan secara berangsur-angsur

Kehadiran Madrasah Nizhamiyah telah memberi pengaruh yang besar pada masyarakat baik bidang politik, ekonomi, maupun sosial keagamaan.[2] Dalam bidang ekomomi, madrasah ini telah menghasilkan lulusan yang siap menjadi pegawai pemerintah dibidang hukum dan administrasi. Pada sosial keagamaan, madrasah yang memfokuskan pada ajaran fiqih, dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakat umumnya.

Madrasah pada zaman Abbasiyah ini tampak ditangani langsung dan serius oleh pemerintah. Melalui lembaga madrasah muncullah kecintaan dan gairah para intelektual islam terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai ilmu agama dan sains yang mereka hasilkan.

Setelah mengetahui bahwa sekolah itu ternyata mahal namun terdapat realitas bahwa semua yang tidak mampu harus tetap bisa sekolah. Bagaimana mencari jalan keluarnya?

Hal ini bisa dilakukan dengan memperbesar anggaran belanja Negara untuk pendidikan sehingga 100% warga negaranya dapat menikmati pendidikan secara gratis. Jika hal ini tidak memungkinkan maka bisa disinergikan dengan konsep subsidi silang, dimana negara dan para orang tua yang kaya saling bahu-membahu untuk menciptakan kesempatan bagi orang yang lemah dalam hal pembiayaan.

Konsep yang lain adalah dengan membuat kategorisasi sekolah yakni dibuat Sekolah Mahal, Menengah, dan Murah. Sekolah Mahal mensubsidi kepada Sekolah Murah, dan sementara Sekolah Menengah dapat Berdikari.

Sekolah Bagus dan Biaya Murah akan menjadi tidak masuk akal jika bertumpu pada kemampuan pembiayaan sekolah an sich, karena untuk pengadaan peralatannya saja sudah membutuhkan biaya yang cukup mahal. Dalam hal ini dibutuhkan pemikir yang juga terjun praktis, bukan berhenti di tataran filsafat, yang bisa berbentuk ormas, atau LSM.

Kalau pada akhirnya ada sebagian kalangan yang memilih homeschooling karena dianggap tidak mengeluarkan biaya yang tinggi, maka perlu diketahui bahwa konsep homeschooling itu awalnya dibutuhkan oleh artis-artis yang suka diganggu di sekolah, dan ada juga memang kecewa dengan hasil sekolah umum. Akhirnya, rumah memanggil guru untuk belajar di rumah. Aslinya, homeschooling itu tidak punya nomor pokok dan raport, dan kemudian meminta ijazah SMP. Yang ada sekarang adalah kelompok belajar bersama, maka tentu hasil lebih bagus, karena orang tua para artis tersebut mampu menggaji guru yang baik.

Di IAIN sendiri dahulu ada Mata Kuliah Fiqh Pendidikan yang kemudian diganti dengan Teologi Pendidikan. Padahal ada kebutuhan atas konsep yang berkembang di tengah umat dimana kaum muslimin lebih senang membangun masjid daripada sekolah atau madrasah? Karena tidak ada konsepsi yang kuat bahwa keutamaan membangun sekolah atau madrasah itu boleh jadi memiliki keutamaan yang lebih di zamannya dibandingkan dengan pembangunan masjid. Bahkan di Indonesia, hanya pembangunan masjid yang diizinkan oleh Polisi untuk mengutip di tengah jalan.

UNISBA (Universitas Islam Bandung) dalam sejarahnya maju setelah kehadiran Letjen (Purn) H. Ahmad Tirto Sudiro yang kemudian melakukan perbaikan dan desain ulang pada bangunan fisik kampus, karena mengerti bahwa orang Bandung menyukai bangunan yang mewah, padahal waktu itu UNISBA hanya memiliki Fakultas Hukum saja. Kesimpulannya bahwa pembiayaan itu sebenarnya tetap berasal dari orang-orang kaya.

President University (PU) yang terletak dalam kawasan Kota Jababeka ini tidak sembarangan dalam menentukan berapa jumlah mahasiswa yang akan mereka terima setiap tahunnya. Sebagai sebuah pusat industri di tanah air, di Kota Jababeka terdapat banyak sekali perusahaan multinasional yang tentunya juga akan membutuhkan banyak tenaga kerja. Sebelum menerima mahasiswa, PU selalu berkoordinasi dengan seluruh perusahaan tersebut untuk mendata berapa jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan oleh tiap-tiap perusahaan. Dari data yang didapat, maka sebanyak itu pula PU akan menerima mahasiswa baru untuk tiap tahunnya. Dengan koordinasi dan sinkronisasi antara jumlah kebutuhan tenaga kerja dengan jumlah mahasiswa yang siap pakai, maka tingkat pengangguran akan bisa ditekan seminimal mungkin.

SMK Wikrama merupakan contoh sekolah murah namun berkualitas dengan menggunakan konsep bisnis sekolah dengan para mitra perusahaan, dan efisiensi operasional dengan membangun kesadaran setiap warga sekolah untuk turut berpartisipasi aktif dalam operasional sekolah.

Pada akhirnya pendidikan murah sekaligus berkualitas akan tercapai manakala muncul inisiasi dari banyak pihak yang memiliki kemampuan dalam hal ini inisiasi pemerintah terutama dengan kemampuan pendanaan dan regulasinya, dan kemudian inisiasi inovatif dari penyelenggara pendidikan yang memanfaatkan konsep-konsep sebagaimana sebutkan sebagiannya di atas tadi, dan bagaimana komitmen para alumnus yang telah berhasil untuk membangun kembali tempat dimana ia pernah merasakan pendidikan sebelumnya.

Bentuk komitmen para alumnus bisa mencontoh tradisi Islam masa dahulu dengan mendirikan lembaga wakaf.Wakaf pribadi dan yayasan-yayasan telah memainkan peranan penting dalam merangsang inovasi pendidikan dalam kawasan-kawasan tertentu dalam sistem pendidikan. Praktik ini terlihat dalam institusi-institusi pendidikan sejak zaman khalifah Abbasiah dimana lembaga-lembaga tenaga pengajar, dan murid-murid dibiayai dari wakaf ini. Malah praktik ini masih berjalan di al-Azhar sampai pada perang dunia kedua. Begitu juga di perguruan tinggi di Zaituna di Tunis dan al-Qurawiyyin di Marocco. Ini semua menjadi bukti bahwa wakaf dan zakat itu memegang peranan penting dalam pendidikan di dunia Islam semenjak lebih dari seribu tahun.[3]


[1] Pramujaya, S., Kurikulum dan Pola Pengembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Klasik Zaman Keemasan2007, .hlm 131.

[2]Ediwarman. Madrasah Nizhamiyah: Pengaruhnya terhadap Perkembangan Pendidikan Islam dan Aktivits Ortodoksi Sunni, 2007, hlm. 167-168.

[3] Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta: al-Husna Zikra, Cet. 1, 2000, hlm. 165

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here