Catatan Kuliah Filsafat dan Penyempurnaannya (1) – Hakikat Manusia

0
201

Ditulis ulang oleh : Wido Supraha, M.Si.

manusiaPengantar Filsafat

Terdapat beberapa pertanyaan di dalam pengajaran filsafat, yakni,

  • Apa filsafat itu?
  • Sampai dimana kekuatan filsafat?
  • Kalau bentrok dengan filsafat Tuhan, bagaimana mensikapinya?

Filsafat berarti pemikiran yang mendalam tentang segala sesuatu. Segala sesuatu bisa menjadi objek pemikiran dalam filsafat, baik yang jelas ada maupun yang belum ada. Buku Introduction of Philosophy sendiri berisi 500 halaman yang isinya hanya untuk menerangkan apa itu filsafat. Buku Prof. Ahmad Tafsir berisi 338 halaman juga untuk menerangkan tentang filsafat. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yan gtelah kita tahu dan apa yang kita belum tahu.[1]

Secara filosofi, kewajiban seorang mahasiswa itu adalah belajar bukan faham, maka tidak ada kewajiban lulus, karena yang merupakan kewajiban itu adalah proses belajarnya. Hal ini dimungkinkan keinginan tahu manusia yang besar sebagai refleksi dari potensi kemanusiaan yang dimilikinya yang dianugerahkan Allah Swt.[2]

Berfikir yang mendalam yang dimaksud dalam filsafat adalah berfikir sampai ke akarnya, atau berfikir mencari penyebab awalnya. Yaitu berfikir dengan tidak menggunakan bukti empirik atau sekedar berfikir logis, atau dengan bahasa lain “Berfikir logis yang tidak ada bukti empiris-nya”.

Contoh  Pertama, air sungai itu dangkal atau dalam? Dengan berfikir mendalam maka kita akan mendapatkan jawabannya.

Contoh Kedua, apakah Tuhan itu ada? Sementara sampai saat ini tidak ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa Tuhan itu ada. Di dalam Filsafat Ilmu, tidak ada hubungan antara Tuhan dan ciptaanNya karena tidak ada yang menyaksikannya.

Manusia “filosofis” adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal, sebagaimana ia juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual.[3] Keberadaan Tuhan dalam filsafat bersifat antinomi, yakni bahwa Tuhan itu bisa dibuktikan ada sekaligus tidak adanya. Menurut Filsafat Khan, Tuhan itu perlu ada karena terlalu banyak masalah ini yang perlu diselesaikan dengan adanya Tuhan. Bukti adanya Tuhan apat dibuktikan dengan :

  • Dalil penciptaan (huduts)
  • Dalil Pemeliharaan
  • Dalil Gerak
  • Dalil Harmonis
  • Dalil Tingkatan (grade)

Adapun mukjizat dalam filsafat bersifat metarasional, yakni bahwa mukjizat itu bisa rasional, tapi rasional dalam arti suprarasional. Jadi awalnya itu logis (masuk akal). Terminologi ‘logis’ bisa memiliki makna,

  • Rasional, dimana menurut Khan merupakan kata lain dari hukum alam
  • Supra Rasional/Meta Rasional (kata hati), berbeda dengan logika rasional

Filsafat Khan banyak digunakan di Iran dalam menggunakan filsafat ahl-bayt. Rasyidi pernah berpesan kepada Prof. Ahmad Tafsir untuk menjadikan filsafat Khan teman kita di Barat (untuk menjadikan kita lebih yakin tentang Tuhan).

Keberadaan Tuhan juga bisa dikatakan tidak rasional karena melanggar hukum alam. Namun keberadaan Tuhan juga bisa dibuktikan secara logis, yakni logis Supra Rasional (merujuk pada Khan, atau al-Ghazali.) Contohnya api, dimana api selalu bersifat panas. Secara filsafat, di dalam api ada sifat wa maushuf. Karena api buatan Tuhan maka secara filsafat lebih mudah diterangkan. Jika Tuhan minta api tidak panas seketika, maka sangat mungkin terjadi, namun kalau terjadi secara sering dan reguler maka pada saat itu akan berubah statusnya menjadi hukum alam. Termasuk hal yang sama terjadi pada tongkat Musa yang hanya bisa dipakai pada saat itu saja.

Rasulullah itu pada hakikatnya bersifat doktriner, bukan filosof. Ajaran Rasulullah harus difikirkan dahulu agar dapat berubah menjadi filsafat, barulah nanti bertemu dengan Filsafat Khan.

Imperative Categories merupakan rasa. Contohnya ketika kita sedang mengendarai motor di jalan, tiba-tiba seorang ibu ketabrak motor dan pingsan. Maka kita akan merasakan ada perintah di hati untuk berhenti sebentar dan menolong si ibu. Gejala inilah yang disebut dengan imperative Categories. Dalam Critic The Rein Pheronom, Practices Pheronom (Sebuah buku yang ditulis oleh berkebangsaan Jerman), konsep ‘akal praktis’ ini dibahas.

Filsafat rasa di atas dirasakan semua orang, dan kasih sayang Tuhan hanya bisa dirasakan dengan rasa. Maka ketika al-Hallaj merasakan telah ‘bersatu’ dengan Tuhan, seharusnya ia jangan dihukum mati. Dahulu juga terjadi, yakni ketika Abu Yazid sedang wirid bersama muridnya, tiba-tiba di tengah wiridnya ia melafalkan tanpa sadar ‘Subhani, Subhani, Maa a’zhomu ‘anni’, maka muridnya pada terkejut. Ketika dikonfirmasikan, Abu Yazid tidak merasa mengucapkannya, hal ini mungkin karena ia telah terhanyut dengan perasaannya.

Imperative ini dapat bermakna,

  • Akal Praktis, yakni Akal yang tidak terbelit-belit dan langsung membuat keputusan. Kalau yang digunakan Akal Teoritis, maka akan berbelit-belit
  • Perintah Keras yang harus dilaksanakan.

Pertanyaan selanjutnya adalah adakah sesuatu yang tidak rasional? Contohnya, Trinitas itu bisa rasional dengan supra rasional, akan tetapi konsep dosa waris, dimana orang lain sudah terlahir dengan memiliki dosa, maka ini adalah satu contoh yang tidak rasional. Prof. John, Guru Besar Kristologi Amerika, mengatakan bahwa dosa waris itu adalah doktrin.

Prof. Ahmad Tafsir pada awalnya menulis Filsafat Ilmu sebenarnya karena keinginannya untuk menyelesaikan masalah santet di masanya, namun ternyata karyanya ini bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah mukjizat. Akan tetapi terkait dosa waris, masih belum ditemukan bagaimana mencari sumber rasionalitasnya. Termasuk puasa Ramadhan, masih bersifat doktriner di dosen.

Pada akhirna kita harus menerima Grand Theory yang berkata bahwa karena Tuhan itu Maha Pintar, maka Dia pasti tidak pernah berbohong akan segala sesuatu. Contohnya meyakini bahwa Al-Qur’an benar-benar otentik sampai bersambung ke Nabi langsung. Hal ini sudah pernah dibuktikan oleh banyak pakar non-Muslim, namun mereka belum bisa membuktikan bahwa Al-Qur’an ini memang dari Allah yang mewahyukan kepada Nabi langsung. Maka tinggal keyakinan (iman) sajalah yang dapat mempertahankan keyakinan kita. Dalil yang hanya kita miliki hanyalah bahwa Nabi tidak pernah berbohong dalam hidupnya, namun dalam filsafat, dalil ini belum cukup kuat untuk dijadikan dasar.

Al-Ghazali sampai sakit maag selama 9 tahun karena berbicara filsafat dan memikirkannya terus menerus secara mendalam sampai pada akhirnya ia bertemu saudaranya, Ahmad al-Ghazali, yang ketika jadi makmum al-Ghazali, mengulang shalatnya karena adiknya itu beralasan melihat al-Ghazali berdarah-darah. Memang al-Ghazali saat itu sedang memikirkan bab Haid. Akhirnya al-Ghazali memutuskan untuk masuk Tasawuf.

Ada kebenaran logika dan ada kebenaran menurut rasa masyarakat, dan kebenaran menurut rasa masyarakat itu jangan sampai luput untuk diperhatikan. Pada akhirnya sebenarnya filsafat itu perlu, tapi bukanlah kebenaran terakhir. Filsafat itu kebenarannya sangat terbatas. Terkadang suara hati sangat benar. Dari uraian panjang di atas, pada intinya terdapat tiga tujuan pembelajaran filsafat, yakni,

  1. Belajar filsafat untuk mengetahui teori-teori tentang filsafat, hal ini cocok untuk para dosen
  2. Belajar filsafat agar mampu menyelesaikan masalah secara filsafat, agar mampu berfikir mendalam dan menjadikan filsafat sebagai metodologi berfikir
  3. Belajar filsafat untuk membangun our philosophy way of life

Kalangan pesantren ketika masuk politik ada yang kemudian menjadi goyang. Hal ini terjadi karena mereka kuat menjadikan Islam sebagai iman, tapi belum menjadi his philosophy way of life. Teori Pendidikan Islam harus mampu menghasilkan anak didik yang memiliki philosophy way of life. Mensikapi hal ini para ulama sudah menyebutkan bahwa bukti: Fitrah, akal, agama (syara’), mukjizat dan do’a, dimana pembuktian ini mencukupi.

Di dalam filsafat, banyak itu tidak menunjukkan kebenaran, tidak seperti seperti teori kuantitatif. Da’wah Nabi kalau divoting juga tidak akan bisa menang. Ketika Socrates disidang di pengadilan, ia tidak mengizinkan muridnya untuk voting, karena kalau voting pasti menang namun voting bisa dibayar. Hal ini karena kekhawatiran Socrates bahwa nanti kemenangan itu ditentukan oleh jari yang diangkat. Akhirnya yang disebut sebagai kebenaran adalah apa yang ada pada keimanan dan akal. Terkadang filsafat dianggap kebanyakan orang sebagai berbicara yang bertele-tele. Pada saat ini, filsafat sedang dilawan dengan teknis.

Bagaimana mengaplikasikan tiga tujuan Filsafat ke Pendidikan? Maka di dalam dunia pendidikan harus ada teori yang mengajarkan bagaimana anak didik memiliki way of life. Sebenarnya tidak semua pemikiran itu filsafat, karena ada pemikiran filsafat (philosophycal and knowledge), sains, dan supranatural (rasional knowledge/mistik). Untuk membuat pendidikan untuk manusia, maka kita harus mengetahui Hakikat Manusia. Wakil Gubernur haruslah siap untuk menjadi Gubernur dan memiliki sifat-sifat Gubernur, demikian pula menjadi wakil Tuhan (khalifatullah) harus memiliki sifat-sifat Ketuhanan.

Teori Hakikat Manusia

Hakikat Menusia atau The Essence of Human Being (al-Haqiqah) perlu dikaji lebih mendalam karena objek pendidikan adalah manusia. Hakikat (essence) berarti yang ada dengan sebenarnya, yang substance, sedangkan haq berarti benar, tapi kata benar dalam bahasa Arab ada banyak yang digunakan seperti, shawab, shahih, dan salim.

Konsep manusia dalam Western Philosophy (Filsafat Sekular), yang esensi hanya ada 2, yakni jasmani dan akal. Jiwa (psyche) itu tidak esensial dan tidak benar-benar ada atau tidak ada secara benar-benar. Sedih itu tidak benar-benar ada, namun karena ada sesuatu yang menerpa maka terjadi sedih. Gejala jiwa itu karena gejala kejadian pada akal atau fisik. Jasmani memang ada, bukan karena ada akal,  pun sebaliknya. Dan inilah yang substansial (haqiqah).

Penjelasan yang terbaik tentang hakikat manusia ialah penjelasan dari pencipta manusia itu.[4] Dalam pandangan Islam, yang esensi itu adalah Jasmani, Akal, dan Ruhani. Sakit Jiwa itu awalnya dari fikiran dan fisik, dan baru kemudian bisa mempengaruhi akal (gila), dan fisik (maag). Maka sakit maag dari gejala psikologis susah disembuhkan, tapi kalau dari gejala psikis mudah disembuhkan. Maka kembangkanlah 3 komponen ini secara proporsional.

Pendidikan Islam itu memang ada. Teorinya sebagian ada dari sekuler, dan ada yang ditambahkan. Maka di dalam membangun teori pendidikan Islam, tidak dapat dipungkiri untuk,

  1. Menggunakan teori-teori Barat
  2. Mengoreksi beberapa teori Barat
  3. Menambahkan teori di Barat yang memang belum ada

Ketika kita tidak melakukan urutan di atas, maka terkesan bahwa Pendidikan di Indonesia ini sekedar menduplikasi apa yang sudah berlaku di dunia Barat. Barat selalu diidentikkan dengan modern, padahal sebenarnya hanyalah kebetulan belaka. Munculnya model pendidikan yang paling modern sekalipun, bisa dari negara-negara Timur, tidak harus dari Barat.[5]

Menjadi sarjana pendidikan Barat mudah, karena hanya memikirkan Akal dan Jasad, tapi Ruhani, adalah sesuatu yang sangat susah. Pendidikan saat ini tidak pernah memperhatikan membangun manusia, maka terjadi banyak permasalahan manusia di muka bumi ini. Sains dan Teknologi atau Kemiskinan bukan hal yang penting dalam sejarah, tetapi Akhlak-lah yang paling penting. Dengan demikian, sudah waktunya bagi ilmuwan Muslim untuk juga memberikan paradigma baru bagi sains pasca-modern pada milenium baru. Dengan begitu, Islam diharapkan dapat sekali lagi menjadi landasan religius melalui paradigma sains yang islami bagi sains yang islami.[6]

Tuhan itu bersifat kun fa yakun. Ana bisa menjadi tuhan, dengan memiliki sebagian sifat Tuhan. Ruhani lebih esensial daripada Jasmani dan Akal, karena yang akan kembali ke akhirat adalah Ruhani, dan di dalam al-Qur’an dipakai kata nafs al-muthmainnah, atau qalb.

Bacaan Wajib

  • Omar Mohammad al-Tourmy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, Penerjemah Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang à Struktur Ilmu, the Body of Knowledge, merupakan bacaan wajib bacaan menjadi dosen
  • Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 à Merupakan percikan-percikan Pemikiran Pendidikan

 

Daftar Pustaka

Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008, Cet. III.

Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, Bandung: Rosdakarya, 2008, Cet. III.

Armahedi Mahzar, Revolusi Integralisme Islam Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami, Jakarta: Mizan, 2004.

Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999.

Jujun S. Surasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005, Cet. XVIII

Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007.

Mulyadhi Kartanegara, Pengantar Epistemologi Islam, Jakarta: Mizan, 2003.


[1] Jujun S. Surasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005, Cet. XVIII, hlm. 19.

[2] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999, hlm. 4.

[3] Mulyadhi Kartanegara, Pengantar Epistemologi Islam, Jakarta: Mizan, 2003, hlm. 13

[4] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, Bandung: Rosdakarya, 2008, Cet. III., hlm. 14.

[5] Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007, hlm. 211

[6] Armahedi Mahzar, Revolusi Integralisme Islam Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami, Jakarta: Mizan, 2004, hlm. 223.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here