Pemikiran HAMKA tentang Pendidikan

0
237

hamkaOleh : Wido Supraha, M.Si. 

Pendahuluan

Buya HAMKA adalah sosok yang sangat memperhatikan dunia pendidikan, terlebih pembinaan pada generasi muda Islam. Dia sangat menaruh harapan kepada angkatan muda Islam agar dapat menjadi kaum intelektual yang memiliki pemahaman Islam yang syamil dan teguh di dalam memegang prinsip-prinsip Islam yang diyakininya. Banyak hal yang telah diingatkannya kepada bangsa Indonesia agar berkaca pada sejarah aslinya, dimana perlawanan senantiasa bergelora dimanapun kezaliman itu ada, dan perlawanan ini hadir sebagai bagian dari keberhasilan sistem pembinaan Islam di masanya, yang mampu melahirkan kader-kader terbaik di bidangnya,  baik dalam skala Nasional maupun Internasional.

HAMKA mengamati wajah pendidikan setelah Indonesia merdeka yang jauh berubah dibandingkan pendidikan di zaman kolonial, dimana pendidikan dapat dirasakan oleh semua kalangan anak bangsa, tiada lagi kebanggaan pada bahasa Belanda, tetap terjalinnya hubungan pelajar dengan keluarganya yang Islam, terehabilitasinya stigma pondok-pondok yang sempat tercemar di zaman kolonial, dan terintegrasinya nilai-nilai Islam dalam pribadi-pribadi pemuda Islam.[1]

Dia juga sangat memperhatikan penyimpangan fakta sejarah dalam dunia pendidikan, dan dia banyak mengulas berbagai contoh dalam sejarah Indonesia, seperti misalkan ketika dia secara tegas menolak pemutarbalikan fakta yang mengatakan bahwa keruntuhan Majapahit adalah karena serangan Islam, padahal Kerajaan Islam tua pertama di Sumatera yang bernama Pasai, hancur lebur akibat ekspansi Majapahit, yang terjadi kira-kira pada tahun 1360M, sementara Gajah Mada mati menceburkan diri ke dalam laut pada tahun 1364M.[2]

Selain mengarahkan agar pendidikan dalam Islam harus memperhatikan potensi anak-anak perempuan agar setamat sekolah ia tidak seperti gadis pingitan[3], HAMKA juga dalam hidupnya banyak mengkritik dan mengkoreksi terminologi-terminologi yang berhasil ditanamkan oleh kaum penjajah yang kemudian hidup bersemayam di dada para intelektual saat itu, bahkan intelektual yang terlahir dari pendidikan Barat sekalipun.

Di dalam tugas makalah ini akan dikaji lebih mendalam dan spesifik pemikiran-pemikirannya tersebut yang banyak tersebar dalam tulisan-tulisan di banyak buku yang ditulisnya. Pemikiran-pemikirannya akan tetap hidup sepanjang masa, sebagai bentuk refleksi dari sosok pribadi yang telah melewati beragam episode kehidupan sampai yang paling pahit sekalipun sekaligus menunjukkan kredibilitasnya sebagai seorang ulama besar bangsa ini.

Pertanyaan

            Makalah ini dimulai dengan beberapa pertanyaan yang hendak diketahui lebih lanjut, sebagai berikut:

  1. Bagaimana riwayat hidupnya sehingga bisa menjadi seorang ulama sekaligus sastrawan yang diakui kepiawaiannya di masanya?
  2. Bagaimana konsep pendidikan yang ia cita-citakan?
  3. Bagaimana kiprahnya di dunia pendidikan?

Pembatasan Masalah

            Makalah ini membatasi kajiannya sebatas pada sejarah perkembangan pemikiran seorang HAMKA sehingga diakui pendapat-pendapatnya sebagai tokoh pendidikan, konsep-konsep yang ditawarkan, dan kiprahnya di dalam dunia pendidikan.

Riwayat Hidup HAMKA[4]

Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, dilahirkan di Sungai Batang Maninjau (Sumatera Barat) pada 17 Februari 1908 (14 Muharram 1326H). Ayahnya ialah ulama Islam terkenal, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah alias haji Rasul, pembawa faham-faham Pembaharuan Islam di Minangkabau.

Dalam usia 6 tahun (1914) dia dibawa ayahnya ke Padang Panjang. Sewaktu berusia 7 tahun dimasukkan ke sekolah desa dan malamnya belajar mengaji Al-Qur’an dengan ayahnya sendiri sehingga khatam. Dari tahun 1916 – 1923, dia telah belajar agama pada sekolah-sekolah “Diniyah School” dan “Sumatera Thawalib” di Padang Panjang dan di Parabek. Guru-gurunya waktu itu ialah Syaikh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid dan Zainuddin Labay. Padang Panjang waktu itu ramai dengan penuntut agama Islam, di bawah pimpinan ayahnya sendiri.

Di tahun 1924 ia berangkat ke Yogya, dan mulai mempelajari pergerakan-pergerakan Islam yang mulai bergelora. Ia dapat kursus pergerakan Islam dari H.O.S. Tjokroaminoto, H. Fakhruddin, R.M. Suryopranoto dan iparnya sendiri A.R. St. Mansur yang pada waktu itu ada di Pekalongan.

Di tahun 1935 dia pulang ke Padang Panjang. Waktu itulah mulai tumbuh bakatnya sebagai pengarang. Buku yang mula-mula dikarangnya bernama “Khathibul Umam”. Di awal tahun 1927 di berangkat pula dengan kemauannya sendiri ke Mekkah, sambil menjadi Koresponden dari harian “Pelita Andalas” di Medan. Pulang dari sana dia menulis di majalah “Seruan Islam” di Tanjung Pura (Langkat), dan pembantu dari “Bintang Islam” dan “Suara Muhammadiyah” Yogyakarta.

Dalam tahun 1928 keluarlah buku romannya yang pertama dalam bahasa Minangkabau bernama “Si Sabariyah”. Waktu itu pula dia memimpin majalah “Kemauan Zaman” yang terbit hanya beberapa nomor. Dalam tahun 1929 keluarlah buku-bukunya “Agama dan Perempuan”, “Pembela Islam”, “Adat Minangkabau dan Agama Islam” (buku ini dibeslah, dirampas polisi), “Kepentingan Tabligh”, “Ayat-ayat Mi’raj” dan lain-lain.

Dalam tahun 1930 mulailah dia mengarang dalam “Pembela Islam” Bandung, dan mulai berkenalan dengan M. Natsir, A. Hassan dan lain-lain. Ketika dia pindah mengajar ke Makassar diterbitkannya majalah “al-Mahdi”.

Setelah dia kembali ke Sumatera Barat tahun 1935, dan tahun 1936, pergilah dia ke Medan mengeluarkan mingguan Islam yang mencapai puncak kemasyhuran sebelum perang, yaitu “Pedoman Masyarakat”. Majalah ini dipimpinnya sendiri setelah setahun dikeluarkan, mulai tahun 1936 sampai 1943, yaitu seketika bala tentara Jepang masuk. Di zaman itulah banyak terbit karangan-karangannya dalam lapangan agama, filsafat, tasauf dan roman.

Setelah pecah Revolusi, dia pindah ke Sumatera Barat. Dikeluarkannya buku-buku yang mengguncangkan, “Revolusi Fikiran”, “Revolusi Agama”, “Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi”, “Negara Islam”, “Sesudah Naskah Renville”, “Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman”, “Dari Lembah Cita-cita”, “Merdeka”, “Islam dan Demokrasi”, “Dilamun Ombak Masyarakat”, dan “Menunggu Beduk Berbunyi.”

Tahun 1950 dia pindah ke Jakarta. Di Jakarta keluar buku-bukunya:
Ayahku”, “Kenang-kenangan Hidup”, “Perkembangan Tasauf dari abad ke abad”, “Urat Tunggang Pancasila”, dan keluar pula riwayat perjalanan ke negeri-negeri Islam: “Di Tepi Sungai Nyi”, “Di Tepi Sungai Dajlah”, “Mandi Cahaya di Tanah Suci”, “Empat Bulan di Amerika”, dan lain-lain.

Kian lama kian jelas coraknya sebagai pengarang, pujangga dan filosof Islam, diakui oleh lawan dan kawannya. Dengan keahliannya itu ia pada tahun 1952 diangkat ole Pemerintah jadi Anggota “Badan Pertimbangan Kebudayaan” dari Kementerian PP dan K menjadi Guru Besar pada Perguruan Tinggi Islam dan Universitas Islam di Makassar dan menjadi penasihat pada Kementerian Agama.

Di samping keasyikannya mempelajari “Kesusasteraan Melayu Klasik”, HAMKA pun bersungguh-sungguh menyelidiki Kesusasteraan Arab, sebab bahasa asing yang dikuasainya hanyalah semata-mata bahasa Arab. Drs. Slamet Mulyono, ahli tentang ilmu kesusasteraan Indonesia menyebut Hamka sebagai “Hamzah Fanshuri Zaman Baru”.

Pada tahun 1955 keluar buku-bukunya “Pelajaran Agama Islam”, “Pandangan Hidup Muslim”, “Sejarah Hidup Jamaluddin Al Afghany” dan “Sejarah Ummat Islam”.

Karena menghargai jasa-jasanya dalam penyiaran Islam dengan bahasa Indonesia yang indah itu, maka pada permulaan tahun 1959 Majelis Tinggi University Al-Azhar Kairo memberikan gelar Ustaziyah Fakhiriyah (Doctor Honoris Causa) kepada HAMKA. Sejak itu berhaklah ia memakai titel ‘Dr’ di pangkal namanya.

Tahun 1962 HAMKA mulai menafsirkan Al-Qur’an dengan “Tafsir al-Azhar”. Dan Tafsir ini sebagian besar dapat terselesaikan selama di dalam tahanan dua tahun tujuh bulan (Hari Senin tanggal 12 Ramadhan 1358), bertepatan dengan 27 Januari 1964 sampai Juli 1969).

Dan pada tahun-tahun tujuh puluhan keluar pula buku-bukunya, “Soal Jawab (tentang agama Islam)”, “Muhammadiyah di Minangkabau”, “Kedudukan Perempuan dalam Islam”, “Do’a-do’a Rasulullah”, dan lain-lain.

Pada hari Sabtu 6 Juni 1974 dapat gelar ‘Dr’ dalam Kesusasteraan di Malaysia, dan pada bulan Juli 1975 Musyawarah Alim Ulama Seluruh Indonesia dilangsungkan. HAMKA dilantik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 26 Juli 1975 bertepatan dengan 17 Rajab 1395.

Pemuda dan Pendidikan

HAMKA berpendapat bahwa dunia “pendidikan harus mampu menjembatani pemuda-pemuda Islam dengan sejarah negaranya yang benar, karena sejarah yang benar akan menjadi sumber inspirasi dan teladan bagi generasi setelahnya. Pendidikan juga harus mampu menghubungkan pelajarnya dengan sumber utama rujukannya yakni Kitab Suci Al-Qur’an, karena memutuskan orang Islam dari Al-Qur’an, maka berarti menghilangkan umat Islam di wilayah tersebut, sembari mengutip pendapat Kyai H.A. Dahlan ketika mulai menggerakkan Muhammadiyah pada sekitar tahun 1912, “Islam tidak akan hilang dari dunia ini, tetapi mungkin saja hilang dari Indonesia.””[5]

Setelah mengutip sebagian syair Arab gubahan Syauqi Bey[6], yang berisi “Satu bangsa terkenal ialah lantaran budinya. Kalau budinya telah habis, nama bangsa itu pun hilanglah.”, dan salah satu cara memperbaiki dan menjaga akhlak rusak adalah dengan memajukan pengajaran dan pendidikan pemuda-pemuda.[7]

Menurutnya, setiap kemajuan yang diperoleh oleh sebuah ilmu pengetahuan, maka setiap itulah akan didapatkan teori-teori baru yang sebelumnya belum dikenal. “Sehingga Openheimer, sarjana atom Amerika yang terbesar itu, takjub melihat besarnya revolusi yang ada dalam kalangan ilmu pengetahuan yang membukakan kemungkinan-kemungkinan baru dan besar, yang selama ini tidak dapat dikira-kirakan. Teori “relatif” yang dikemukakan oleh Einstein, bagi orang yang beriman, menambah lagi imannya bahwasanya kekuasaan mutlak terletak di tangan Tuhan. Apatah lagi setelah ahli Fisika yang terkenal, Marcel Schein, mendapat pula teori baru, bahwasanya proton ada lawannya (antinya). Bila bersentuh proton dengan antiproton maka keduanya akan saling menghancurkan. Karenanya, antiproton dapat menghancurkan segala benda yang tersusun daripada proton, termasuk bumi.”[8], demikian HAMKA.

Dalam banyak kesempatan, HAMKA sering mengingatkan berbahayanya mengirimkan seseorang untuk belajar ke Barat tanpa terlebih dahulu memasukkan pondasi keimanan dan pemahaman agama yang kuat di dalam dirinya, karena dikhawatirkan akan menjadi bumerang bagi arah perjuangan selanjutnya. Gerakan Jong Islamieten Bond (JIB) yang berdiri atas inisiatif Agus Salim menjadi satu kebanggaan pada diri HAMKA, bagaimana sebuah organisasi yang hanya diikuti oleh ratusan pemuda (tidak sampai ribuan), berhasil memunculkan pribadi-pribadi seperti M. Natsir, Mohammad Roem, Syafruddin Prawiranegara, Kasman Singodimejo, Prawoto Mangkusasmito, Daliono, Yusuf Wibisono, dan Dr. Ali Akbar. Pribadi-pribadi ini adalah contoh hasil pendidikan yang berisi pengetahuan umum yang luas, dengan dijiwai oleh jiwa jihad yang tumbuh dari iman dan agama, sehingga membawa bekas yang besar sekali bagi perjuangan Islam, dan menutup mulut kaum ‘intelek’ didikan Barat.[9]

Konsep Pendidikan

Perhatian HAMKA pada dunia pendidikan diawali dengan mengingatkan pentingnya membangun pendidikan yang melahirkan jiwa-jiwa yang memiliki tanggung jawab batin (tanggung jawab budi). Memasukkan nilai ini hendaknya dengan bahasa yang dapat langsung dicerna dan difahami oleh pendengarnya, dengan terlebih dahulu membersihkan jiwanya. “Diulang-ulangnya pesan ini disampaikan, akan menanamkan perasaan kepada setiap pribadi muslim untuk tidak menunda-nunda dalam berbuat sebuah kebaikan.”[10] Di samping itu, pendidikan juga harus mampu melahirkan pribadi-pribadi yang berani berbicara benar dan memperjuangkan kebenaran itu sendiri meski beragam resiko menghadangnya.

Agama Islam menurut HAMKA berbeda dengan agama-agama yang lain, karena Islam tidak mengakui taklid buta, tetapi mengajak akal supaya bekerja menyelidiki hingga akhirnya. Agama Islam mendorong akal supaya bekerja, jangan lupa dan jangan lengah. Sebab tiap-tiap terbuka suatu pintu dari keraguan itu, terpancarlah cahaya dan hilanglah wahm. Islam tidak membiarkan orang kena perkataan nina-bobok: “Tidurlah di rumah, tak usah difikirkan panjang sebab jalan sempit, tujuan jauh, perbekalan sedikit.” Oleh karenanya, umat Islam disuruh menjadi penyaring, jangan menjadi ‘nrimo wae’, terima saja, laksana muara air yang dilalui ikan, buaya, kapal dan dilalui bangkai. Tetapi memilih mana yang baik, memperbaiki mana yang patut dan melemparkan barang yang tidak baik, sebagaimana Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an Surat                  az-Zumâr ayat 17-18:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Berilah kabar gembira bagi hambaKu yang suka mendengar kata dan memilih mana yang baik.”[11]

Mengutip Syaikh Ahmad Khatib, dia mengatakan, “Maka apalah yang akan faedah bagi ilmu, jika tiada akan menyatakan yang haq dan yang bathil. Dan sebab itu ialah karena tiada muthabaqah dengan hawa nafsu engkau.”[12]

Ketika memberikan tafsiran pada Surat al-Anbiyâ ayat 7,

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.”

 

HAMKA menjelaskan bahwa kita boleh menuntut ilmu ke mana saja, walaupun kepada ahlul kitâb, asal mereka ahludz zikri, yang ada pengetahuan yang akan diambil daripadanya. Meskipun di dalam hal akidah kita berbeda jauh dari mereka, namun dalam pengetahuan yang umum tidaklah ada perbedaan. Orang-orang yang mempertahankan taqlid, yaitu menurut saja apa yang dikatakan oleh ulama dengan tidak mengetahui apa pengambilan pendapatnya itu daripada          Al-Qur’an atau Al-Hadits selalu mengemukakan ujung ayat ini jadi alasan. Padahal untuk bertanya kepada orang yang lebih pandai, sampai kita pandai pula, memang boleh, ujung ayat ini. Tetapi untuk menurut saja dengan tidak mempergunakan pertimbangan fikiran, kuranglah tepatnya.[13]

HAMKA menjelaskan bahwa sebelum bangsa kita mengenal sistem sekolah seperti sekarang, guru atau kiyai menjadi tempat bertanya masyarakat dengan murid-muridnya. Guru-guru besar yang tinggi budi dan murni jiwanya telah mempunyai atau telah membentuk riwayat di dunia Islam. Antara lain Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Sayid Ahmad Syarief as-Sanusi, Syaikh Muhammad Abduh dan lain-lain. Oleh karena indahnya perhubungan di antara guru dengan murid, maka Almarhum Dr. Sutomo pernah menganjurkan supaya di negeri ini dihidupkan kembali belajar secara pondok, seperti zaman dahulu.[14]

Dalam hal pendidikan, seorang HAMKA meyakini bahwa hal terbesar yang perlu diperhatikan adalah memilih guru yang tepat. Dia mengatakan, “Dalam menuntut ilmu cara yang terbaik ialah pada seorang guru yang banyak pengalaman, luas pengetahuan, bijaksana dan pemaaf, tenang dalam memberi pengajaran, tidak lekas bosan lantaran pelajaran itu tidak lekas dimengerti oleh murid.”[15]

Begitupun sebaliknya, seorang murid harus menjaga adabnya di dalam pendidikan agar ia terhindar dari mara bahaya, sebagaimana nasihatnya,

“Hendaklah si murid rindu dan cinta pada ilmu, percaya pada keutamaannya dan yakin pada manfaatnya. Hendaklah yang menimbulkan keinginanannya menuntut ilmu itu keridhaan Allah SWT. Sebab dengan ilmu yang luas itulah dapat mengenal Tuhan dan membangun budi pekerti. Bukanlah ilmu sekedar untuk pencari makan dan pencari gaji. Jangan menuntut ilmu karena hendak riya. Orang yang riya itu sebenarnya tidaklah menjadi besar, tetapi orang terhina. Pengambil muka tidaklah terhormat tetapi tersisih. Di mukanya orang menganggukkan kepala, di belakangnya orang mencibir. Sepandai-pandai membungkus yang busuk berbau juga.”[16]

           

Dalam pandangannya, apabila suatu ilmu hendak dituntut, hendaklah dimulai dari pangkalnya, supaya sampai dengan teratur kepada akhirnya. Kalau ilmu dimulai dengan perkara yang kusut maka akan berakhir kusut juga, dan orang yang seperti demikian adalah menipu sendiri. Dengan menyadari bahwa menuntut ilmu bukan hal yang mudah, di mana akan ditemukan bagian-bagian yang susah dalam perjalanannya, maka hal yang susah itu jangan ditinggalkan, karena di dalamnya banyak terdapat ilmu, sementara jika mencari yang mudah-mudah saja, maka tidak akan menjadi ilmu.[17]

Dalam hal pendidikan dia begitu bersemangat di dalam memotivasi seorang penuntut ilmu agar berhasil dalam cita-citanya. Kepada mereka yang merasa rendah diri karena merasa memiliki kecerdasan yang rendah, atau usia yang sudah tua maka perasaan-perasaan rendah diri tersebut harus dihilangkan jauh-jauh. Bahkan lebih jauh dia mengingatkan para penuntut ilmu untuk gemar menulis dalam rangka merangkum beragam ilmu yang ia dapatkan dari fragmen-fragmen kehidupan yang terpisah-pisah, sehingga terangkum menjadi sebuah ilmu yang dapat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkannya. HAMKA menguatkan hal ini dengan mengatakan,

“Ulama-ulama dahulu kala tidaklah lalai mengumpulkan hal-hal yang demikian. Kalau sedang terpisah-pisah tidaklah tahu kita akan gunanya. Tetapi apabila telah tersusun menjadi suatu karangan yang indah, insaflah kita bahwa keindahan karangan itu adalah lantaran diberi perhiasan dengan bunga-bunga catatan kecil itu. Latihan menulis juga perlu diperhatikan, diperindah hurufnya dan dipercantik susunannya. Jangan lupa menyimpan buku catatan untuk menuliskan pikiran yang mendatang, buah renungan yang tiba-tiba dan ilham yang menjelma ke dalam ingatan dengan tidak disangka-sangka. Barang itu sangat mahal harganya, sukar dapatnya. Lekas-lekaslah tangkap dan ditulis di atas buku catatan. Melalaikan barang yang demikian adalah kerugian yang paling besar.”[18]

Sembari mengutip sebuah hadits Rasulullah Saw, “Hikmat itu adalah harta kaum mukmin yang hilang, hendaklah lekas pungut walaupun di mana bertemunya.”[19]

Ketika membahas pendapat Ibn Hazm tentang konsep akhlak, HAMKA memasukkan konsep pensucian jiwa yang harus ada dalam dunia pendidikan yakni keyakinan bahwa ilmu pengetahuan itu adalah pemberian Tuhan semata-mata kepada hambaNya. Ilmu yang banyak yang akan diperoleh dalam perjalanan pendidikan tidak lain dan tidak bukan hanyalah anugerah Ilahi yang semata-mata diberikan Tuhan secara cuma-cuma. Ilmu yang didapat adalah ilmu yang sebenarnya belum kita ketahui, dan bukanlah kita yang mencipta ilmu itu. Oleh karenanya, ilmu yang didapat bukanlah untuk dijadikan kebanggaan, melainkan untuk menambah syukur kepada Allah Ta’ala yang telah menganugerahkan ilmu, sehingga dengan perasaan ini setiap hamba hendaknya terus-menerus berusaha dan memohon, dan berlindung kepada Tuhan daripada bahaya lupa akan ilmu karena dicabut Tuhan. Ia menceritaka kisah yang terjadi pada Abdul Malik bin Thuraif,

“seorang sarjana yang ulung, berilmu dan sangat cerdas, tetapi kemudian menjadi orang yang pelupa akibat sesuatu hal. Dia berkata: “Saya memang seorang yang amat beruntung. Apabila saya mendengar suatu perkara, teruslah dia lekat dalam ingatanku, sehingga tak perlu saya ulang menghafalnya lagi. Tetapi pada suatu hari saya pergi berlayar. Tiba-tiba dalam pelayaran itu datanglah angin topan yang amat dahsyat yang menyebabkan saya ditimpa mabuk laut yang amat sangat. Setelah saya pulang dari pelayaran itu dengan selamat, terasa pengaruh malapetaka laut yang menimpaku itu ke atas diriku. Saya menjadi lupa akan hafalan-hafalan saya yang selama ini, dan jika saya mencoba menghafal yang baru, tidak ada lagi yang tinggal dalam ingatan. Sejak waktu itu kekuatan ingatan dan kecerdasan yang begitu luar biasa tidak kembali lagi untuk selama-lamanya.”[20]

Menjelaskan firman Allah Swt. dalam Surat al-Mujâdilah ayat 11,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

HAMKA berkata bahwa setiap hari dapat kita melihat pada raut muka, pada wajah, pada sinar mata orang yang beriman dan berilmu. Ada saja tanda yang dapat dibaca oleh orang yang arif bijaksana bahwa si Fulan ini orang beriman, sei fulan ini orang berilmu. Iman memberi cahaya pada jiwa, disebut juga pada moral. Sedang ilmu pengetahuan memberi sinar pada mata. Iman dan ilmu membuat orang jadi mantap. Membuat orang jadi agung, walaupun tidak ada pangkat jabatan yang disandangnya. Sebab cahaya itu datang dari dalam dirinya sendiri bukan disepuhkan dari luar.[21]

Pokok hidup utama adalah iman dan pokok pengiringnya adalah ilmu. Iman tidak disertai ilmu dapat membawa dirinya terperosok mengerjakan pekerjaan yang disangka menyembah Allah, padahal mendurhakai Allah. Sebaliknya orang yang berilmu saja tidak disertai atau yang tidak membawanya kepada iman, maka ilmunya itu dapat membahayakan bagi dirinya sendiri ataupun bagi sesama manusia. Ilmu manusia tentang tenaga atom misalnya, alangkah penting ilmu itu, itu kalau disertai Iman. Karena dia akan membawa faedah yang besar bagi seluruh perikemanusiaan. Tetapi ilmu itu pun dapat dipergunakan orang untuk memusnahkan sesamanya manusia, karena jiiwanya tidak dikontrol oleh Iman kepada Allah.[22]

HAMKA menilai bahwa pasca kemerdekaan daripada penjajahan, sebagian besar angkatan Islam dari Timur tidak puas lagi terkurung dengan benteng fanatiknya, dan ingin beriman dengan ilmu. Sehingga setelah pertentangan hebat antara filsafat dan kekuasaan kaum agama pada abad ke-18, dan pertentangan ilmu pengetahuan dengan kaum agama pada abat ke-19, maka pada abad keduapuluh muncul perdamaian yang indah. Ia mengutip suatu ajaran dari seorang sarjana Belanda, Prof. Huizinga, yang disalin oleh seorang pengarang Arab ke bahasa Arab, dan hal ini disampaikannya ketika memberikan ceramah dalam pembukaan pendirian Perguruan Tinggi Islam Jakarta, “”Ghâyatul ‘ilmil Haqqi Al Imânu. Fal ‘ilmu bilâ ghâyatin ju’dzi shâhibahu”. (Tujuan ilmu pengetahuan yang sejati ialah kepercayaan. Ilmu yang tidak mempunyai tujuan, menyebabkan batin orang yang berilmu itu menderita.)”[23] Dan dasar inilah yang dia setujui untuk dijadikan dasar dari niat mendirikan Perguruan Tinggi tersebut.

Pendekatan pendidikan integralistik yang dikembangkannya merupakan sebuah pemikiran yang cukup maju bila dibanding pola pemikiran umat waktu itu yang melihat pendidikan secara parsial. Ia terkesan ingin menampilkan Islam sebagai sebuah agama universal yang mengandung ajaran pembebasan dan penyelamatan manusia, baik dalam kehidupan di dunia kekinian, maupun di akhirat kelak, demi suatu cita-cita eskatologis yang pasti. Oleh karena itu orientasi altruis yang dikembangkan HAMKA berdasarkan pada etika transendental dan kehidupan yang objektif-empiris. Hal ini merupakan suatu kemestian, karena dengan kedua pendekatan nilai tersebut merupakan resultan dari kondisi sistem sosial-ekonomi dan politik-historis umat Islam waktu itu.[24]

Menutup pidatonya pada upacara peresmian Perguruan Tinggi Islam Jakarta pada tahun 1951, HAMKA mengatakan[25],

“Sebagai penutup, inginlah saya memberikan pesan kepada para mahasiswa dalam hari permulaan pembukaan ini. Pakailah dasar yang telah dipakai oleh orang tua-tua yaitu janganlah takabur dengan ilmu. Bagaimanapun banyak pengetahuan yang telah kita dapat, masihlah sedikit yang telah kita ketahui, dibandingkan dengan yang belum kita ketahui.

Tuhan bersabda :

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Tidaklah kami berikan kepadamu ilmu itu hanyalah sedikit.[26]

Sebab itu, Socrates masih berkata :

“Aku belum tahu!”

Dan Imam Syafi’i berkata : Kullu maa zaadani ‘ilman. Zaadani fahman bi jahli (Setiap setangga ilmu kutingkat, Insaflah aku jahilnya diri. Keinginan panjang, kehidupan singkat, tapi aku tak bosan dalam mencari.”)

Oleh sebab itu, saya anjurkan kepada Mahaguru kepada Dewan Curator, kepada Badan Yayasan Perguruan Tinggi ini, dan kepada para Mahasiswa seluruhnya, supaya perlambang dari perguruan ini, dan ukiran insigne dari murid-murid, ialah suatu ayat Tuhan yang hendaknya kita tampangkan di dinding, kita sematkan di dada luar sebagai simbolik, dada dalam sebagai pendirian. Yaitu ayat:

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Ya Tuhanku, tambah jualah aku ilmu!”[27]

Ketika menafsirkan firman Allah yang dikutip HAMKA dalam Surat Thâhâ ayat 14 di atas, dia melihat bahwa datangnya bangsa asing yang bukan Islam menjajah Negeri-negeri Islam, adalah satu sebab kerusakan pendidikan di Indonesia. Mereka memasukkan racun pendidikan, bahwasanya Agama Islam itu hanya untuk orang Arab, dan sukar dimengerti oleh bangsa yang bukan Arab. Sampai pula dicemoohkan Al-Qur’an itu karena orang Islam yang fanatik membacanya dengan tidak mengerti isinya.[28]

Do’a Nabi ini penting sekali artinya bagi dia, yaitu bahwasanya di samping wahyu yang dibawa oleh Jibril itu, Nabi Saw. pun disuruh selalu berdoa kepada Tuhan agar untuknya selalu diberi tambahan ilmu. Yaitu ilmu-ilmu yang timbul dari karena pengalaman, dari karena pergaulan dengan manusia, dari karena memegang pemerintahan, dari karena memimpin peperangan. Sehingga di samping wahyu datang juga petunjuk yang lain, seumpama mimpi atau ilham. Sebagaimana perkataan Ibnu Uyainah: “Selalu bertambah ilmu dia Saw. sampai datang ajal dia.”[29]

HAMKA juga mengingatkan sebuah hadits yang dirawikan oleh Ibnu Majah daripada Abu Hurairah salah satu dari do’a Nabi Saw.:

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

 “Ya Allah, bermanfaatlah untukku dari ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku, dan beri aku ilmu daripada apa yang memberi manfaat kepadaku, dan selalulah tambah ilmu untukku, dan segala puji-pujianlah bagi Allah dalam segala hal.” [30]

Menurut dia, lantaran doa Nabi Saw. agar di luar wahyu yang tersusun menjadi Al-Qur’an itu Tuhan memberinya pula tambahan ilmu, dapatlah kita fahamkan bahwa permohonannya itu dikabulkan Tuhan. Sehingga di samping wahyu Al-Qur’an itu terdapa pula Sunnah dia yang menjadi dasar kedua dari pengambil dasar Agama Islam.

Imam asy-Syafi’i berkata: “Tidak ada pertikaian ahli-ahli ilmu tentang bahwa sunnah-sunnah Nabi Saw. itu datang dari tiga bentuk:

(1)  Apa yang diturunkan Allah padanya dengan nash Al-Qur’an, lalu dia Saw. mencontohkannya menurut Al-Qur’an itu.

(2)  Apa yang diturunkan Allah secara ijmal (secara umum), maka sunnah Rasul Saw. menjelaskan yang umum itu secara terperinci (tafshil).

(3)  Sunnah dia sendiri yang tidak tersebut di dalam Al-Qur’an, baik secara ijmal atau secara tafshil, lalu dia ijtihadkan sendiri, tetapi tidak keluar dari garis kehendak Al-Qur’an.

Memohon tambahan pengetahuan adalah teladan Nabi yang seyogyanya diikuti oleh tiap-tiap umat Muhammad yang beriman. Karena ilmu Allah Ta’ala itu amat banyak dan amat luas. Dapat mengetahui suatu cabang ilmu akan menambah keyakinan kita akan Kebesaran Allah. Ilmu adalah pembawa manusia ke pintu Iman. Nama Allah Ta’ala sendiri pun di antaranya ialah ‘Ilmun. Kebesaran dan keteraturan alam ini menjadi bukti atas Kemaha Kuasaan Allah dan luas ilmuNya meliputi segala. Dengan bertambahnya ilmu kita, bertambah pula yakin kita bahwa yang dapat kita ketahui hanya sejemput kecil saja. Laksana mutiara yang dihempaskan ombak ke tepi pantai, kita kupas dari dalam lokan dan giwang, sedang yang dalam dasar laut, masih Tuhanlah yang tahu.

Oleh sebab itu HAMKA menyimpulkan bahwa ahli pengetahuan yang sejati tidaklah memegang yakin suat pendapat, bahwa itu sudah sampai pada tingka terakhir. Sesungguhnya hasil penyelidikan yang lama bisa saja berobah karena didapat pula hasil penyelidikan yang baru, yang membuat batal atau basi hasil yang lama itu. Sebab itu tepatlah do’a yang diajarkan Allah kepada Nabi itu: “Ya Tuhanku, tambahlah bagiku ilmu.”[31]

Kesimpulan

HAMKA dibesarkan dalam lingkungan religius dan intelektual dengan pemantauan langsung dari ayahnya, seorang ulama besar di masanya. Dan ruh dari ayahnya terlihat begitu berakar pada pemikiran dasarnya, dan dia begitu hormat dengan sosok ayahnya.

Pendidikan yang dia inginkan adalah pendidikan yang mampu mengembangkan kecerdasan emosi seorang anak manusia berdasarkan nilai-nilai agama sekaligus kualitas adab seorang penuntut ilmu terhadap ilmu dan berbagai elemen pendukungnya, dan dia sangat menentang kejumudan dalam beragama.

Kebiasaan dan juga nasihatnya untuk selalu menulis apa saja yang terlintas dalam hati kita agar terangkum menjadi sebuah ilmu, menjadi satu sumbangsih dia di dunia pendidikan yang dapat kita rasakan manfaatnya hingga hari ini, di samping sumbangsih lainnya sebagai pendorong sekaligus pendidik di institusi pendidikan. Keteguhan prinsipnya hingga harus rela melewati beberapa tahun usianya di dalam penjara dan perawatan rumah sakit, juga menjadi inspirasi tersendiri dalam dunia pendidikan, bahkan sebuah teladan bagaimana dalam keterasingan dan tekanan, ia tetap mampu melahirkan karya yang luar biasa seperti Tafsir al-Azhar.

Kiprah HAMKA terlibat membina institusi perguruan tinggi dan karya-karyanya yang banyak tersebar, melahirkan pemikiran-pemikiran alternatif khususnya di bidang pendidikan yang memberikan pencerahan baru khas seorang HAMKA. Pada akhirnya, ilmu akan ditambahkan kepada setiap penuntut ilmu atas izin Allah Swt.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an Al Karim

At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi Juz V, Cet. II, 1975

Hamka, Dari Hati Ke Hati, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2002

______, Dari Perbendaharaan Lama, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1996, Cet. III

______, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Jakarta: Pustaka Antara

______, Lembaga Budi, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2001

______, Lembaga Hidup, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2001

______, Pelajaran Agama Islam, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1992, Cet. XI

______, Renungan Tasauf, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2002

______, Tasauf Modern, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2003

______, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 1993

______, Tafsir al-Azhar, Jilid 6, Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, Cet. V., 2003

Ibn Majah, Sunan Ibn Majah Jilid, Beirut: Dar al-Ma’rifah, Cet. I, 1996

Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, Ciputat: Quantum Teaching,

2005


[1] HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2002, hlm. 111-113.

[2] HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1996, Cet. 3, hlm. 10.

[3] HAMKA, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Jakarta: Pustaka Antara, hlm. 13.

[4] Hamka, Tasauf Modern, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2003, hlm. 9-11.

[5] HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2002, hlm. 106.

[6] HAMKA, Lembaga Budi, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2001, hlm. 3.

[7] Ibid,.

[8] HAMKA, Pelajaran Agama Islam, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1992, Cet.XI, hlm. 13.

[9] HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2002, hlm. 109.

[10] HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2002, hlm. 122-123.

[11] HAMKA, Tasauf Modern, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2003, hlm. 109.

[12] HAMKA, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 1993, hlm. 225.

[13] HAMKA, Tafsir al-Azhar Jilid 6, Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, Cet. V, 2003, hlm. 4544-4545.

[14] HAMKA, Lembaga Hidup, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2001, hlm. 247.

[15] Ibid, hlm. 241.

[16] Ibid.

[17] Ibid.

[18] HAMKA, Lembaga Hidup, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2001, hlm. 243

[19] Hadits ini dha’if, diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam sunannya, pada  Kitab al-‘Ilmu ‘an Rasulillah Saw., Bab Mâ Ja’a fî al-Fadhli Fiqh ‘ala al‘Ibadah, No. 2687. Dengan sanad: Berkata kepada kami Muhammad bin Umar al-Walid al-Kindi, bercerita kepada kami Abdullah bin Numair,  dari Ibrahim bin al-Fadhl al-Makhzumi, dari Sa’id al-Maqbari, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: …. ( lalu disebut hadits di atas). Hadits dengan lafaz sejenis ada pada beberapa kitab Hadits di antaranya pada Sunan Ibn Majah, Kitab az-Zuhud Bab al-Hikmah, “الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ حَيْثُمَا وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

[20] HAMKA, Lembaga Budi, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2001, hlm. 21.

[21] HAMKA, Tafsir al-Azhar Jilid 9, Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, Cet. V, 2003, hlm. 7229

[22] Ibid.

[23] Hamka, Renungan Tasauf, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2002, hlm. 65.

[24] Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, Ciputat: Quantum Teaching, 2005, hlm. 280.

[25] Hamka, Renungan Tasauf, Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 2002, hlm. 65.

[26] Q.S. al-Isra’ [17]: 85

[27] Q.S. Thaha [20]: 114.

[28] HAMKA, Tafsir al-Azhar Jilid 6, Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, Cet. V, 2003, hlm. 4495.

[29] Ibid, hlm. 4496.

[30] Ibn Majah, Sunan Ibn Majah Jilid IV, Bab Do’a Rasulullah Saw., No. 3833, Beirut: Dar al-Ma’rifah, Cet. I, 1996,hlm. 265

[31] HAMKA, Tafsir al-Azhar Jilid 6, hlm. 4497.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here