Al-Islam Fikratan

0
95

jiwaMenjadikan Islam sebagai Fikrah Kehidupan (Al-Islam Fikratan)

Setelah Allah menciptakan jiwa yang sempurna  lagi tegak di atas fitrah yang lurus, ternyata kesempurnaan itu ditandai dengan ilham kepada fujur (jalan kefasikan) dan taqwa (jalan ketaqwaan) yang bersemayam di setiap jiwa manusia (Q.S. 91:7-8). Maka, ketika Allah menjelaskan mana jalan kefasikan dan mana jalan ketaqwaan, mana keburukan dan mana kebaikan, Allah memberikan apresiasi, penghargaan kepada manusia yang senantiasa membersihkan nikmat jiwa tersebut, sekaligus memberikan peringatan kepada mereka yang lebih senang mengotori nikmat jiwa tersebut (Q.S. 91:9-10). Membersihkan nikmat jiwa adalah dengan melatihnya, memupuknya, mengembangkannya, mensucikannya dengan banyak mengingat Allah Jalla wa ‘Ala, dan beribadah kepada-Nya diawali dengan ibadah Shalat (Q.S. 87:14-15), dan menyempurnakan proses pensuciannya dengan menambah amalan lain yang telah dituntunkan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Itulah jawaban mengapa Amirul Mukminin, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz memerintahkan orang-orang untuk mengeluarkan zakat fithrah juga menggunakan Q.S. 87:14-15.

Di dalam Al-Qur’an Surat al-Lail, Allah bersumpah dengan malam dan siang, dengan penciptaan laki-laki dan wanita, demikianlah Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Maka Allah menegaskan bahwa cara manusia bergerak dan berpikir pun berbeda-beda (Q.S. 92:4) sehingga melahirkan amal perbuatan yang seringkali saling bertentangan dan bertolak belakang, dimana ada yang berbuat kebaikan, ada juga yang berbuat keburukan. Dan ternyata hakikat perbuatan itu pun hanya dua dalam cara pandang Muslim, al-iman dan al-kufru, dimana keduanya saling menarik dan saling melemahkan.

Mengetahui jalan ketaqwaan adalah dengan iman yang dipengaruhi bashair, yakni cahaya yang berbasiskan hujjah yang nyata, ilmu tentang ad-din, ilmu tentang hal orang yang didakwahi, ilmu tentang cara untuk mencapai tujuan dakwah, sehingga terkadang ia disebut dengan hikmah (Ibn ‘Utsaimin, al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/82]). Sementara mengikuti jalan kefasikan adalah karena kekafiran yang dipengaruhi oleh al-ahwaa. Jika pengaruh iman dengan bashirah begitu kuatnya di dalam jiwa manusia, maka pengaruh kekafiran dengan hawa nafsunya akan sangat lemah sekali. Jika yang terjadi sebaliknya, maka agama hanya akan dilihat dengan hawa nafsu, bukan cahaya ilmu, maka akan muncul sosok-sosok cendekiawan Muslim yang sengaja dididik oleh para Orientalis untuk tunduk kepada mereka dan kembali kepada umat Islam bukan untuk memperkuat pemahaman Islam, namun untuk membuat keragu-raguan di tubuh Umat Islam terhadap hakikat ajarannya yang bersih dan suci, sehingga umat akan jauh dari agamanya dan bergerak membela kepentingan kaum kafir.

Inilah mengapa banyak sekali fenomena ganjil yang tidak biasa hadir di zaman akhir. Wanita-wanita muslimah yang rela melepaskan agamanya untuk cinta kepada manusia, sosok-sosok ayah dan ibu yang rela meridhoi kemaksiatan atas nama cinta kepada anak, pribadi-pribadi ulama yang rela melepaskan ilmu atas nama cinta kepada materi, manusia-manusia yang rela menggadaikan harga diri atas nama cinta kepada yang sementara. Wal ‘iyadzu billah.

Menjadikan Islam sebagai Fikrah, berarti menjadikan Islam sebagai pola pikir yang senantiasa hidup, ideologi yang menjadi ruh, pemikiran yang mendarah daging, dan ini sangat dipengaruhi oleh sumber fikrah. Inilah mengapa tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang bebas nilai (value-free), semuanya sarat dengan nilai (value-laden). Beragam pandangan kehidupan hadir di muka bumi ini, dimana sedikit di antara isme yang berkembang kekinian seperti kapitalisme, marxisme, sosialisme, liberalisme, eksistensialisme, atheisme, fasisme, feminisme dan seterusnya adalah contoh-contoh pemikiran produk manusia terhadap al-haqaiq al-kubra (hakikat besar) yang terdiri atas 6 (enam) hal: Ketuhanan, Kerasulan (ar-Risalah), Ibadah (al-‘ibadah), Alam Semesta (al-kauni), Manusia (al-insan), dan Kehidupan (al-hayah).

Konsep Ketuhanan, adalah konsep dasar sekaligus inti, utama sekaligus asasi, ruh sekaligus tujuan (Q.S. 112:1), sementara kaum Atheis memandang bahwa Tuhan Tiada sebagaimana Nietsczhe mengatakan Tuhan telah Mati, dan Karl Marx mengatakan bahwa Agama adalah Candu. Kalaupun ada isme yang mengaku Ketuhanan, ia terjebak kepada penyimpangan pemahaman bahwa Tuhan memiliki Sifat Manusia, ia memiliki anak dan saudara, sebuah keyakinan tauhid yang terkotori kemusyrikan. Pada saat itu Tuhan tidak lagi menjadi satu-satunya dzat tempat memohon dan bergantung.

Konsep Kerasulan yang diyakini Islam mendorong kita untuk mencintai seluruh Nabi dan Rasul. Ar-rajulu al-musthofa al-mursal minalllaahi bi ar-risalati ila an-naas.

Konsep Ibadah dalam Islam diturunkan dari Konsep Ketuhanan yang bersih dari kemusyrikan dan didetailkan dari Konsep Kerasulan. Ibadah tidak dibatasi hanya kepada ibadah mahdhah (ritual), tidak hanya dibatasi hanya di lokasi tertentu seperti tempat ibadah, tidak hanya dibatasi pada hari tertentu atau waktu tertentu, akan tetapi ibadah menjadi motivasi setiap tarikan nafas manusia dimanapun dan apapun tindakannya, dan ini masuk dalam kategori ghairu mahdhah (umum). Sementara isme lain memiliki ritual ibadahnya sendiri yang menggambarkan konsep Ketuhanan yang mereka yakini, dan mereka batasi hanya pada tempat tertentu, batasan hari dan waktu tertentu.

Konsep Alam, terhadap hal ini, Islam dengan tegas bahwa Alam semesta ini diciptakan dari sesuatu yang satu, kemudian terbelah, diciptakan dalam 6 (enam) masa, dengan ukuran tertentu, dengan petunjuk tertentu, dan bahkan seluruh alam ini bersujud dan bertasbih kepadaNya, dan terdapat sebuah waktu dimana alam ini akan hancur lebur sebagai pertanda selesai periodisasi yang telah ditetapkan atasnya. Sementara isme lain meyakini bahwa alam ini ada dengan sendirinya, memandang semua serba materi, dan seterusnya.

Konsep Manusia menjadi perhatian besar Islam karena agama ini untuk memuliakan manusia dengan tanggung jawab dan pilihan kehidupan, diciptakan dari unsur tanah yang diberikan ruh, Ia akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggung jawabkan seluruh amal perbuatannya. Sementara isme lain memandang dengan konsep inkarnasi, konsep bahwa harta bisa dibawa ke alam kematian, konsep bahwa manusia tidak diciptakan tapi berevolusi, dan tidak meyakini adanya hari akhir dan kebangkitan.

Konsep Hidup di dalam Islam begitu integral, dimulai dari kehidupan di alam ruh, kehidupan di alam rahim dan alam dunia, mati dan berada di alam kubur, kebangkitan setelah hari kiamat, dan kehidupan di akhirat. (Q.S. 2:28). Isme yang lain memandang bahwa kehidupan hanya di dunia saja, tidak ada akhirat.

Dengan demikian, umat Islam membutuhkan cara pandang Islam, tashawwur islamiislamic worldview menggunakan kacamata Islam. Allah tidak menciptakan seluruh skenario ini dengan sia-sia (Q.S. 3:191), bahwa semua adalah milik Allah (Q.S. 2:156), dan bahwa kita semua kaum beriman adalah bersaudara dan hidup menata kebersamaan agar kita dapat bersama kembali di yaumil akhir dengan izin dan rahmat Allah Jalla fil ‘ula (Q.S. 49:10). Lahirkan cara berpikir rabbaniyah (berorientasi Ketuhanan), syumuliyyah (menyeluruh), ijabiyyah (positif), tawazun (seimbang), waqi’iyyah (realistis), dan ‘adalah (adil).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here