Syawal Menuju Kemenangan

0
297

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ramadhan telah lewat, seiring waktu yang terus berjalan, sering tidak kita sadari bahwa jarak dengan kematian kita sudah semakin dekat.
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, apakah kita masih tetap bersemangat untuk terus mengkhatamkan Al-Qur’an?
Ramadhan adalah bulan Ampunan, apakah kita masih terus termotivasi menjemput ampunan Allah?
Ramadhan adalah bulan Jihad, apakah kita masih terus membakar ruh kita guna mengisi masa yang tersisa dengan amalan-amalan yang bernilai Jihad?

Ataukah sebaliknya … kita lupakan Al-Qur’an, kita kembali bergelimang dalam kemaksiatan, kita kembali menyianyiakan waktu kita dan merasa bahwa kematian itu masih panjang, dan bahwa kita akan dimasukkanNya ke SurgaNya berbekal amalan yang biasa-biasa saja?

Padahal … setelah Allah tutup bulan penuh kemuliaan itu, Allah ganti dengan Syawwal, bulan yang bermakna naik, seakan mengajak kita untuk tidak berhenti setelah kita memulai, untuk terus mengejar mimpi seluruh kaum muslimin sebagai PEMENANG di Yaumul Hisab!

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Boleh jadi banyak di antara hadirin yang berhasil mengkhatamkan Al Qur’an lebih dari 1x di bulan Ramadhan. Namun … sudahkah interaksi kita dengan Al-Qur’an yang sedemikian intensif itu, menghadirkan kerinduan untuk terus dan terus dibimbing Al-Qur’an dalam setiap gerak kehidupan dan pengalaman-pengalaman kehidupan kita, ataukah Al-Qur’an sekedar berhenti di tenggorokan kita?
Maka perlu bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas interaksi kita dengan Al Qur’an sebagai pedoman utama hidup manusia, agar Al-Qur’an benar-benar memberikan bimbingan dan petunjuk kepada sahabatnya.

Sadarkah kita bahwa salah satu kandungan besar dalam Al Qur’an adalah sejarah yang berisi fakta yang kemudian fakta tersebut dapat ditafsirkan untuk kehidupan kita. Tentunya, tujuan utama bukan menguasai fakta itu, namun bagaimana manusia dapat mengambil pelajaran dari fakta sejarah yang diberitahukan langsung oleh Allah Jalla wa ‘Ala.

Di antara kisah-kisah mulia yang termaktub di dalam Al-Qur’an, adalah kisah-kisah tentang kepemimpinan, di antaranya kisah Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman, dan Nabi Musa ‘alahimussalaam. Nabi Yusuf yang kemudian berhasil mendapatkan jabatan di istana berawal dari penjara, Nabi Sulaiman yang dianugerahkan istana beserta kekuasaannya yang luar biasa, serta nabi Musa yang berkonfrontasi dengan penguasa. Ketiga kisah tersebut meskipun terjadi dalam konteks berbeda di atas rentang waktu yang berbeda, namun menyisakan persamaan. Di antaranya adalah:

1. KONFLIK

Apapun pilihan kehidupan manusia, tidak akan pernah berhenti dari apa yang disebut konflik. Konflik itu akan sentiasa ada. Persoalannya bukan pada konflik itu, namun ada dimana posisi kita pada konflik yang terjadi, dan bagaimana cara kita menyikapi konflik, atau bisa dikenal dengan istilah manajemen konflik.
Konflik yang terjadi antara Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun sesungguhnya cikal bakalnya telah ada jauh sebelum Nabi Musa lahir, yakni keinginannya untuk melenyapkan setiap bayi laki-laki karena dikhawatirkan akan menyingkirkan kekuasaannya.

Maka Konflik adalah salah satu bentuk cobaan Allah kepada manusia. Manusia yang paling keras cobaannya adalah para nabi dan orang-orang yang paling “mirip” dengan para nabi, yakni orang-orang shalih. Konflik adalah hal yang biasa, bahkan konflik antara Yusuf dan Benyamin (satu ibu-satu bapak) dengan saudara-saudaranya yang juga anak-anak keturunan Nabi (keluarga Yusuf, 4 generasi ke atas adalah Nabi semua) sampai berujung pada skenario pembunuhan.

Khusus cerita Nabi Yusuf a.s. kita dapati konflik terjadi karena kecemburuan akan kadar keikhlasan saudara-saudaranya. Maka, prinsip utama dalam kehidupan kita yang pertama dan utama adalah salamatush-shadr (lapang dada sebagai wujud ukhuwah paling minimal).

2. KONSPIRASI

Perlu menjadi catatan kita bahwa ayat-ayat yang berkaitan dengan konspirasi kepada para nabi selalu dikaitkan dengan keimanan kepada Allah dan kepada Taqdir-Nya, agar para sahabat Al-Qur’an memiliki keyakinan bahwa Allah-lah yang mengendalikan semuanya, karena hanya Allah sajalah sebaik-baik Pembuat tipu daya.

Kita lihat bagaimana kisah Nabi Musa, ketika baru lahir, yang diselamatkan Allah dengan mengantarkan beliau ke istana Fir’aun melalui Sungai Nil kemudian ditemukan oleh isteri Fir’aun. Siapakah yang mengendalikan pikiran isteri Fir’aun sehingga Musa diselamatkan dan diijinkan menikmati hidup di istana? Bukankah sebelumnya Fir’aun ingin agar setiap bayi laki-laki dibunuh? Mengapa dia justeru setuju untuk membesarkan Musa di istananya? Allah telah mengubah persepsi Fir’aun dan isterinya sehingga menyelisihi niatnya sendiri.

Ingatkah kita akan pertempuran Fir’aun dan Musa, ketika Nabi Musa a.s. terjepit Ia justru lari ke laut. Logika perang modern dimana-mana kalau terjepit larinya ke gunung atau hutan bukan ke laut. Maka tatkala Fir’aun mengetahui hal itu, ia dan pasukannya besorak karena sangat mudah menghancurkan Musa dan pengikutnya. Tapi Allah punya rencana, diperintahkan Musa memukulkan tongkat ke laut dan terbelah-lah lautan. Fir’aun pun tak sempat berpikir panjang, mengejar ke tengah lautan yang terbuka, dan ia pun binasa ditelan lautan.

Demikian pula, siapakah yang mengendalikan pikiran saudara Yusuf a.s. sehingga mereka hanya menceburkan Yusuf ke dalam sumur, dan bukan membunuhnya? Ingat, sebab utama konflik antara Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya adalah KECEMBURUAN, yang berakhir pada konspirasi untuk membunuh Yusuf as.

Jika kita punya kesadaran tentang kekuasaan Allah, tidak boleh ada sesuatu apapun yang membuat kita berhenti bergerak dan berjuang. Maka, jangan pernah memandang besar dan kuat terhadap musuh-musuh kita. Allah-lah yang memberikan kita kekuatan dan persepsi itu.

3. JARAK

Yang dimaksud di sini adalah jarak antara mimpi dan realisasi atas mimpi itu. Kita harus punya optimisme bahwa mimpi kita pasti terwujud. Mimpi manusia beriman sekali lagi adalah sebagai PEMENANG di Yaumil Akhir.
Untuk mencapainya kita harus punya nafas perjuangan yang panjang agar mimpi kita terwujud.

Berapa lama jarak antara mimpi Nabi Yusuf dan realisasi kekuasaan beliau? Salah satu riwayat menjelaskan, jarak itu adalah 40 tahun. Kesabaran Yusuf itulah yang menjadikannya dimenangkan oleh Allah SWT. Kesabaran adalah faktor yang sangat penting dalam suatu perjuangan. Kisah nabi Yusuf antara dibuang saudara-saudaranya dengan realitas mimpi ayahnya nabi Yakub, bahwa saudara-saudaranya akan sujud di hadapan nabi Yusuf, adalah sekitar 40 tahun, bahkan dalam riwayat lain 80 tahun. Jatuh bangun dalam adalah biasa dalam pendakian menuju kemenangan. Yang pasti, kita harus terus naik, meskipun dalam perjalanan naik itu kadangkala butuh istirahat.

Sebagai contoh, jika kita sudah mampu istiqomah shalat di Masjid berjama’ah pada waktunya, maka janganlah buru-buru merasa puas, karena kita harus terus berjuang dan berkonflik memenangkan tahap berikutnya, yakni bagaimana kita mampu menikmati shalat-shalat kita, bagaimana shalat-shalat kita mampu memberikan hikmah dalam kehidupan kita, bagaimana shalat-shalat kita mampu memberikan energi lebih besar untuk melahirkan amalan-amalan lainnya. Namun, YA, Shalat adalah kunci utama dari kebaikan amal-amal lainnya, maka ia juga menjadi kunci surga.

Jadi miliki nafas yang panjang, jangan pernah patah semangat, terlebih karena persoalan-persoalan diri yang tidak asasi. Siapa yang akan menang, adalah mereka yang berumur lebih panjang: stamina tetap, teknik semakin baik.

Pemimpin Bosnia kala tahun 1994 diwawancarai oleh Fox News ditanya tentang masa depan Bosnia, beliau mengatakan, “Yang memenangi peperangan ini bukanlah yang membunuh lebih banyak jiwa, tetapi siapa yang bisa hidup lebih lama.” Fakta sejarah menunjukkan bahwa pada akhirnya Serbia pergi dan Bosnia berdiri merdeka. Yakinlah kapanpun itu kita akan tetap menang pada akhirnya.

Mana lebih lama umur negara atau agama? Imperium Romawi-Yunani sekarang mana? Tapi agama yang dulu pernah mereka kalahkan sampai hari ini masih tetap ada. Maka karena kita hidup dan berjuang untuk agama ia akan selalu menang, karena Agama menciptakan followers.

4. CARA PANDANG

Baik Nabi Yusuf, Musa, maupun Sulaiman, ketiganya punya mindset, punya cara pandang sebagai PEMENANG, bukan pengabdi. Coba perhatikan, Doa Nabi Sulaiman yang sangat dahsyat dalam Q.S. Shod:35 Robbii hablii mulkan laa yanbaghii li ahadin min ba’dii. Sulaiman minta kekuasaan dan ia minta kekuasaan itu tidak diberikan kepada selainnya. Ketika kekuasaan itu terus mengalir bahkan bertambah besar dan berada di puncak, ternyata justeru menambah rasa syukur sang Raja, Nabi Sulaiman a.s. bersama do’anya sebagaimana termaktub dalam Q.S. An-Naml:19.

Kita doanya apa? kita doa minta istri, anak-anak sholeh, dan semua itu diberikan oleh Allah. Pernahkah kita berdo’a agar negeri ini, agar bumi ini diberikan Allah kepada kekuasaan orang-orang beriman? Maka patutlah kita menambah do’a-do’a kita dengan do’a Nabi Sulaiman a.s., karena kalau kita meminta negara maka Allah akan sertakan berikut isinya, akan tetapi kalau kita hanya meminta pasangan hidup, anak sholeh, belum tentu negara akan diberikan kepada kaum beriman. Berdoalah kepada Allah agar kita diberikan kekuasaan yang dengannya kita memperbaiki umat dan bangsa ini. Bahkan lebih daripada itu, kita akan tunjukkan peran kita di muka bumi ini.

Apakah kita siap untuk mengubah mindset sebagai pemenang? Apakah kita siap memenangkan beragam tribulasi atau tantangan dalam sisa hidup kita? Yakinkah kita dengan kemenangan yang akan Allah berikan?

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hari ini, ketika Zionis Yahudi membombardir negeri Gaza, kita saksikan bagaimana saudara-saudara beriman kita di Gaza merindukan syahid, dan membalas dengan balasan yang lebih kuat.

Hari ini, ketika Zionis Yahudi meminta syarat perdamaian dengan pelucutan senjata total HAMAS, dijawab dengan tegas oleh HAMAS untuk membuka seluruh blokade, serta pembangunan pelabuhan dan airport, atau perang terus berlanjut.

Hari ini, ketika Zionis Yahudi kehabisan akal untuk mengalahkan Gaza yang kecil itu, justeru kaum beriman di Gaza melahirkan banyak strategi baru peperangan dengan akalnya, boleh jadi tingkat penghayatan mereka terhadap Al-Qur’an sudah sedemikian tinggi. Boleh jadi interaksi mereka yang amat baik dengan Al-Qur’an membawa mereka kepada keyakinan yang utuh akan ke-Maha-Besaran Allah Swt.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالْحِكْمَةِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

Khutbah ke-2

الحمد لله الواحد القهار ، العزيز الغفار ، مقدر الأقدار ، مصرف الأمور ، مكور الليل على النهار ، تبصرة لذولي القلوب والأبصار ، الذي أيقظ من خلقه ومن اصطفاه

وأشهد أن لا إله إلا الله العظيم ، الواحد الصمد العزيز الحكيم ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ، وصفيه وحبيبه وخليله ، أفضل المخلوقين ، وأكرم السابقين واللاحقين ، صلوات الله وسلامه عليه وعلى سائر النبيين ، وآل كل وسائر الصالحين

 

إن الله وملآئكته يصلون على النبي ، يآ أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ

Ya Allah, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka dan jadikanlah hati mereka keimanan dan hikmah, kokohkanlah mereka atas agama Rasul-Mu SAW, berikanlah mereka agar mampu menunaikan janji yang telah Engkau buat dengan mereka, menangkan mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Ilah yang hak jadikanlah kami termasuk dari mereka.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allah, perbaikilah sikap keagamaan kami sebab agama adalah benteng urusan kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan kami di dunia sebagai tambahan bagi setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan.

اللّهمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ

Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk.

اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين

Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh agama, jadikan keburukan melingkari mereka, wahai Rabb alam semesta. Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.

اللهم فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِرٍ إنَّكَ رَبُّنَا عَلَى كلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ يَا رَبَّ العالمين

Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.

 

رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سيدِنا مُحَمّدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ وَسلّم والحمدُ للهِ

 

عبادالله : إنَّ الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلَّكم تذكرون

* Ditulis ulang dari sebagian nasihat seorang ustadz.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here