Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Guru Peradaban

0
154

Wido Supraha, M.Si.

Image

Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaiih.

Peradaban Barat yang memimpin dunia hari ini sudah mendekati ajalnya. Ia menjadi peradaban sakit yang dipaksakan sehingga menjadi peradaban yang timpang, namun memang cepat bergerak. Namun kecepatan gerak dari peradaban materi ini ternyata menuju kematian. Sementara peradaban Islam sesungguhnya tidak sedang mengalami kemunduran, hanya relatif tertinggal 300 tahun. Hal ini karena peradaban Islam adalah peradaban yang matang serta seimbang antara materi dan ruhani. Pohonnya masih hidup namun masih terus membutuhkan penyemaian.

Peradaban Islam mampu bertahan sejak abad ke-7 M, bahkan menjadi pusat rujukan berbagai peradaban hingga abad ke-14 M, dan terus memberi warna dalam kehidupan hingga detik ini. Hal ini tidak lepas dari sosok Nabi Muhammad Saw sebagai guru yang memberikan landasan pandangan hidup (worldview) yang kuat serta mewariskan ilmu melalui lisan dan tangan para ulama.

Seorang ahli sejarah sains Barat, George Sarton, begitu takjubnya atas kelahiran Islam dan perkembangannya yang luar biasa dari risalah yang disampaikan melalui Abū-l-Qāsim Muhammad, dari bani Quraish, lahir di Mekkah, tahun 570 M. Hijrah menjadi tanda awal kebangkitan yang sesungguhnya, terjadi di tahun 622 M, dan Nabi Muhammad wafat 10 (sepuluh) tahun kemudian. Zaid ibn Tsābit mengedit Al-Qur’an pertama kali segera setelah tahun 633M dan kemudian mengedit untuk kedua kalinya sehingga menjadi versi akhir di tahun 650M. Di masa ini, Arab telah menguasai tidak hanya Jazirah Arab dan Syria, tetapi juga Mesir dan Persia – semua itu hanya dalam periode 20 tahun – sehingga dua dari wilayah yang paling kuno dan berperadaban tinggi itu menjadi bagian kekuasaan Muslim, dan terus bertahan hingga hari ini. (George Sarton, Introduction to the History of Science, 1927).

Dorongan untuk membangun peradaban Islam digambarkan oleh F. W. Tickner dalam Stories of World History (1929),  “Learning was encouraged and for several centuries, some of the followers of the Prophet were the most learned and cultured scholars of the world, both in the East and in Spain”.

Bagi para sarjana Islam, aktifitas astronomi pada masa awalnya hampir secara keseluruhan terbatas kepada persoalan praktis yang terkait dengan kebutuhan penanggalan saja, namun segera dikembangkan menjadi sebuah disiplin ilmu yang luar biasa. Hal itu tidak lepas dari prinsip utama prinsip penanggalan berbasiskan pergerakan bulan yang digunakan Muslim merujuk kepada ketetapan Al-Qur’an. Maka era kalender Muslim dimulai sejak 15 Juli 622 M.

George Sarton meyakini, pencetakan Al-Qur’an telah mengenalkan kepada dunia sastra sebuah tatanan bahasa baru, yang ditakdirkan dapat menjadi bahasa rujukan dunia sekurang-kurangnya selama setengah milenium yang menjadi begitu penting sebagai sarana utama dalam pengembangan pengetahuan dan kultur. Kesucian Al-Qur’an dan keterjagaannya dari kesalahan telah menjadikan bahasa Arab dalam bentuknya yang permanen. Tidak mungkin menulis bahasa Arab yang lebih baik karena bahasa dari Tuhan tentunya yang terbaik. Maka bahasa Arab tidak sekedar bahasa sakral kitab suci, melainkan bahasa sains dunia, serta kendaraan peradaban.

Tanpa bisa mengartikulasikan bahasa, manusia tidak jauh berbeda dengan binatang. Tanpa mengenal tulisan, transmisi dan kelestarian ilmu pengetahuan tidak mungkin terjadi. Tanpa tulisan, penghimpunan ilmu pengetahuan menjadi tidak pasti dan sangat terbatas, begitupun perkembangannya menjadi sangat kecil dan tidak jelas. Inilah salah satu pondasi lainnya yang ditinggalkan Nabi Muhammad Saw.

Ketika para orientalis mengkampanyekan bahwa abad pertengahan adalah masa kegelapan (The Dark Ages), pada saat yang sama mereka berusaha menutupi fakta sebuah pencapaian peradaban di Timur yang dibangun di atas Islamic Worldview. Sebuah Peradaban yang berkontribusi sangat besar terhadap pencapaian sains modern hari ini.

Mulai dari pertengahan abad ke-8 hingga abad ke-11, bahasa Arab adalah bahasa sains, bahasa progresif yang dimiliki umat manusia. Selama periode tersebut, siapapun yang ingin selalu mendapatkan informasi terkini harus mempelajari bahasa Arab. Cukuplah dengan menghadirkan beberapa nama-nama besar yang tidak bisa dicarikan padanannya dengan tokoh-tokoh kontemporer di Barat : Jābir ibn Haiyān, al-Kindī, al-Farghānī, al-Rāzī, Thābit ibn Qurra, al-Battānī, Hunain ibn Ishāq, al-Fārābī, Ibrāhim ibn Sinān, al-Mas’ūdī, al-Tabarī, Abū-l-Wafā’, ‘Alī ibn ‘Abbās, Abū-l-Qāsim, Ibn al-Jazzār, al-Bīrūnī, Ibn Sīnā, Ibn Yūnus, al-Karkhī, Ibn al-Haitham, ‘Alī ibn ‘Īsā, al-Ghazzālī, al-Zarqālī, Omar Khayyam!

Nabi Muhammad Saw. tidak mengajarkan umatnya untuk menutup diri dari segala sesuatu yang bersifat asing, namun meninggalkan sebuah konsep pandangan hidup yang luar biasa untuk melakukan adopsi, adaptasi, filterisasi, sekaligus transformasi dan finalisasi. Sistem penomoran yang digunakan dunia saat ini, hingga telah berkembang menjadi sistem komputasi tingkat tinggi pun tak lepas dari penemuan terbesar dari dunia Islam. Berkata E. H. Gombrich, Could you have come up with such a useful invention? I certainly, couldn’t. We owe it to the Arabs, who themselves owe it to the Indians. And in my opinion that invention is even more amazing than all the Thousand and One Nights put together. (A Little History of the World, 1985)

Ex oriente lux, ex occidente lex, dari Timur muncul cahaya, dari Barat muncul hukum! Peribahasa ini merupakan kompromi terkenal di kalangan sarjana Barat terkait hubungan Timur dan Barat. Dengan peribahasa tersebut, George Sarton hendak menunjukkan betapa besarnya kontribusi dari orang-orang Timur terhadap peradaban Barat, bahkan tatkala ide peradaban Barat difokuskan kepada sains. kalau mereka bodoh, maka bagaimana kita bisa begitu pintar? Kemungkinan besar jika kita hidup dalam kondisi yang sama dengan kehidupan mereka, belum tentu Barat mampu mencapai hal-hal yang telah mereka capai. Hal ini kemudian menolak ungkapan Kippling, Oh East is East, and West is West, and never the twain shall meet.

Peradaban Islam adalah peradaban yang matang sekaligus seimbang antara materi dan ruhani. Peradaban yang dibangun atas penghormatan terhadap ilmu akan melahirkan peradaban yang kuat. Oleh karenanya tidak ada liberalisme di dalam Islam, karena liberal itu bebas tanpa ilmu pengetahuan dan berarti dia tidak bebas, sementara kebebasan menurut Islam adalah dengan Ilmu. Ilmu menjadi imam, dan amal menjadi makmum.

Terdapat teks yang dikenal bangsa Indonesia, ‘Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya’, namun sayang teks ini hanya sekedar untaian nada yang tidak menjadi fokus pembangunan. Islam dengan kelengkapan ajarannya telah mengingatkan, qad aflahal man zakkaha, sungguh beruntung seseorang yang memulai pengembangan peradaban dari pensucian jiwa. Create a man as a man not as a citizen. Bagi pemerintah, ketika hanya berfokus membentuk individu sebagai warga negara, maka hanya bermisi melahirkan warga taat pajak, taat aturan, toleransi, maka lahirlah program yang penuh persoalan seperti multikulturalisme, pluralisme, dan feminisme. Padahal a good citizen will be a part of a good man.

Mengembalikan peradaban Islam adalah mengembalikan kesadaran untuk senantiasa mengaitkan keimanan dengan keilmuan. Tidak akan baik umat ini kecuali dengan apa dan cara yang telah membuat baik di awalnya. Kembali menginternalisasikan ajaran Nabi Saw., menggali khasanah Islam dan meneladani penerapannya akan mengembalikan kepemimpinan peradaban baru menggantikan peradaban yang saat ini sedang sakit parah menuju ambang kematiannya. Jika kita tidak segera merubah cara berpikir kita, maka negeri yang mengalami westernisasi ini pun perlahan tapi pasti juga akan mengalami ‘suri tauladannya, peradaban Barat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here