Subhanallah dan Masya Allah

0
368

Terdapat tesis di sebagian kaum muslimin bahwa ungkapan dzikir atau kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”. Dalam hal ini adanya anggapan bahwa kebiasaan di masyarakat, dzikir “Subhanallah” selalu diucapkan jika seseorang merasa kagum, sementara ucapan “Masya Allah” jika melihat keburukan. Kebiasaan ini dianggap “salah kaprah”, dan bahwa yang seharusnya adalah ungkapan dzikir “Masya Allah” yang bermakna “hal itu terjadi atas kehendak Allah”, dan dzikir Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”.

Menurut pendapat tersebut, bahwa dzikir “Masya Allah” seharusnya diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah, sebagai ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya. Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat yang indah-indah karena keindahan atas kuasa dan kehendak Allah Ta’ala.

18_39

Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi/18: 39)

Adapun ucapan Subhanallah diucapkan saat mendengar atau melihat hal buruk. Ucapan Subhanallah sebagai penegasan: “Allah Mahasuci dari keburukan tersebut”. Sebagai contoh dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), yakni dari memiliki anak. Jadi, kesimpulan tesis tersebut bahwa ungkapan Subhanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan. Ucapan itu menegaskan bahwa Allah Swt Mahasuci dari semua keburukan tersebut.

***

Terhadap tesis tersebut, maka perlu kita rujuk kembali Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber pedoman hidup kita yang primer. Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berulang kali mensucikan DiriNya dari sifat-sifat manusia, seperti memiliki anak. Namun, Allah juga mensucikan DiriNya dari segala sesuatu yang baik dan indah yang tidak mengandung sedikitpun keburukan. Bahkan para Malaikat pun sentiasa mensucikan-Nya pada hal-hal di luar keburukan, seperti dalam hal ilmu yang diajarkan kepada mereka. Allah menganjurkan manusia untuk sentiasa bertasbih, mensucikan Allah, ketika kita memikirkan ciptaan Allah yang tidak pernah sia-sia. Demikian pula Allah memuji DiriNya ketika mampu memperjalankan Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, dalam penciptaan segala sesuatu di dunia yang selalu berpasangan, dan atas kekuasaan Allah secara umum. Mari kita tadabburi ayat-ayat berikut ini:

3_191

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(Q.S. Ali ‘Imran/3:191)

 

2_32

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Q.S. Al-Baqarah/2:32)

 

17_1

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya [847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Isra’/17:1)

 

36_36

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (Q.S. Yasin/36:36)

 

36_83

 

Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Q.S. Yasin/36:83)

 

 

 

43_12

43_13

Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat ni’mat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. (Q.S. Az-Zukhruf/43:12-13)

 

Dari ayat-ayat tersebut, terkadang Allah menggunakan tasbih untuk dirinya dengan menggunakan kata ganti kedua atau ketiga, sebagaimana Malaikat pun menggunakan kata ganti kedua karena sedang berbicara langsung. Namun pensucian Allah dalam hal sifat kemanusiaan pun ditemukan dalam kata ganti kedua (Q.S. Maryam/19:35). Maka esensinya adalah bahwa kata Subhanallah dapat digunakan pada hal yang buruk, sebagaimana ia juga dapat digunakan pada hal yang baik. Membatasinya hanya pada hal yang buruk membutuhkan dalil penguat, dan tidak ada dalil penguat yang membatasinya, maka dalam hal ini, sebaiknya kita tidak terburu-buru dengan menghukumi “salah kaprah”.

Adapun terkait kalimat “Masya Allah“, dengan berlandaskan pada Q.S. Al-Kahfi/18:39, maka perlu diketahui bahwa para ulama Salaf menjadikan ayat ini sebagai dalil bagi sesiapapun yang merasa bangga atas keadaan, kekayaan, atau keturunannya sendiri, maka hendaklah ia mengucapkan “Masya Allah, Laa Quwwata Illaa Billaah“, sebagaimana jika harta yang kita miliki, dalam hal ini dicontohkan sebagai kebun, membuat kita bangga ketika memasuki dan melihatnya, maka panjatkanlah pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepadamu, dan Dia telah memberikan harta kekayaan dan keturunan yang tidak diberikan kepada selain dirimu. Maka ucapan ini lebih ditujukan kepada penjagaan diri dari sifat kesombongan.(Tafsir Ibn Katsir). Adapun makna kalimat ini bisa bermakna “inilah yang dikehendaki Allah”, dan bisa juga “apa yang dikehendaki Allah adalah akan terjadi”. Sementara dzikir melihat sesuatu yang menakjubkan bisa memilih di antara kalimat-kalimat yang baik seperti Masya Allah Laa Quwwata Illa Billah, Barakallahufik, Allaahumma Baarik Fiihi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here