Konsep Agama

0
121

Islam_deen_dawla_bBeragama hendaknya memahami dasar-dasar pendukungnya. BerIslam hendaknya memahami asas-asasnya, karena dengannya kita memahami hakikat kita beragama, wa bil khusus hakikat kita berIslam. Di antara konsep mendasar yang perlu kita rekonstruksi jika diperlukan adalah konsep ad-Din. Ingat, pada pertemuan pertama kita telah memulai dengan konsep Tuhan. Pada pertemuan selanjutnya akan kita bahas konsep Wahyu, konsep Ilmu, Konsep Kebenaran, Konsep Kebahagiaan, dan lainnya, untuk menguatkan pemahaman kita sebelum kita tingkatkan kepada kajian yang lebih praktis dan kompleks.
Islam adalah ad-Din yang diridhai Allah Swt. karena kelurusannya, diketahui dari ciri-ciriya. Perbedaannya dengan agama lain begitu kentara, terutama telah dimulai dari terminologi asasi yang menjadi ruh awal penggerak penganutnya hingga membangun sebuah kesatuan sistem kehidupan yang sempurna dan lengkap.

Ad-din sebagai kata diulang sebanyak 92 kali di dalam Al-Qur’an dalam ragam lafazhnya. Kata ad-din mengandung makna agama, kepercayaan, tauhid, hari pembalasan, tunduk, dan patuh. Debtor atau creditor (da-in) memiliki kewajiban (dayn), berkaitan dengan penghakiman (daynunah) dan pemberian hukuman (idanah), yang mungkin terjadi dalam aktivitas perdagangan (mudun atau mada-in) dalam sebuah kota (madinah) dengan hakim, penguasa, atau pemerintah (dayyan), dalam proses membangun atau membina kota, membangun peradaban, memurnikan, memanusiakan (maddana), sehingga lahirlah peradaban dan perbaikan dalam budaya sosial (tamaddun). Keseluruhan makna dengan akar kata DYN memiliki hubungan secara konseptual, kesatuan makna yang tidak terpisahkan, dan semua ini terkait dengan upaya menghambakan diri (dana nafsahu) yang bermuara kepada Ad-Dayyan yang merupakan sifat Allah bermakna Yang Maha Kuasa (Al-Qahhar), Hakim (Al-Qadhi).

Ad-din yang bermakna taat dan balasan bermakna bahwa agama menuntut ketaatan dan dengan demikian menyediakan balasan. Maka secara definisi ad-din merupakan nama sesuatu yang disyariatkan Allah kepada hamba-hambaNya, melalui lisan para nabi untuk menghampirkan mereka ke hadirat Allah, Ad-Dayyan.

Ad-Din dengan demikian bermakna keadaan diri berhutang , menaklukkan diri menurut perintah, dan menjadikan diri lebih bersifat keinsanan, berlawanan dengan sifat kebinatangannya, yaitu menjadikan manusia lebih berperikemanusiaan. Manusia senantiasa berhutang diri, budi, dan daya kepada Allah yang telah menjadikannya dari tiada kepada ada. Makna seperti ini tidak ditemukan dalam istilah religiō (mengikat).

Ad-Din secara bahasa memang tidak dikhususkan untuk Islam , namun Islam menjadi Ad-Din yang dikhususkan untuk hamba berakal, satu-satunya yang ada di sisi Allah. Hal ini dikarenakan pandangan hidup Ad-Din Al-Islam yang khusus dan mengkhususkan sehingga ia khusus di hadapan Ad-Dayyan, dan kemudian khusus pada pandangan da-in.
Endang Saifuddin Anshari menegaskan bahwa disebut agama jika setidaknya memiliki 3 (tiga) hal, yakni 1) tata keyakinan (sistema credo); 2) tata peribadatan (sistema ritus); 3) tata kaidah (sistema norma). Maka tidak disebut agama jika misalkan hanya mengkhususkan pada tata peribadatan saja tanpa tata kaidah, sebagaimana tidak disebut agama jika berhenti pada tata keyakinan tanpa tata peribadatan.

Religion-World-Map
Secara umum, agama terbagi kepada agama samawi, dan bumi. Jika agama samawi berkaitan dengan langit, maka agama bumi tidak ada kaitan dengan wahyu dari langit. Islam, Kristen, dan Yahudi umumnya dimasukkan ke dalam agama samawi, namun, menurut Endang, dikarenakan penyimpangan yang dilakukan oleh Kristen dan Yahudi membuat mereka lepas dari wahyu, maka tinggallah Islam sebagai satu-satunya agama para Nabi. Maka dilihat dari sisi esoteris-pun, di antara ‘agama-agama’ yang jumlahnya ribuan dengan beragam definisi itu tetaplah tidak bisa disatukan, terutama jika konsepsi tentang Tuhan sudah beragam.

Persamaan seruan para Nabi dan Rasul sepanjang zaman juga menuntut saling penguatan di antara mereka, dan bahwa yang dahulu akan senantiasa mengikuti yang belakangan hadir. Persamaan antara Yahudi dan Nasrani adalah sama-sama telah kufur dalam pengingkaran terhadap salah satu Nabi, mendustakan hingga membunuhnya. Namun satu hal, bahwa semua millah para Nabi merupakan din al-qayyim yang hanifan, musliman, wa maa kaana minal musyrikin, yakni Al-Islam, yang bukan agama komunal itu.
Religious vacation ILLUS.jpg
Islam bermakna menundukkan wajah (islamul wajhi), berserah diri (al-Istislam), suci bersih (as-salamah), selamat sejahtera (as-salam), dan perdamaian (as-silm). Islam adalah akidah dan ibadah, tanah air dan kewarganegaraan, agama dan negara, spiritualisme dan amal, mushaf dan pedang. Di dalam kitab sucinya, akan ditemukan Islam dalam pemerintahan, hukum, politik, hutang, perdagangan, jihad, peperangan, disamping perhatiannya yang sangat banyak kepada seluruh peri kehidupan manusia.

Islam bermakna masuk ke dalam wilayah ketundukan dan mengikuti, masuk ke dalam keselamatan, dan memurnikan agama dan aqidah hanya kepada Allah Swt. Islam adalah tunduk dengan merendahkan diri dan khusyu’, maka tidak ada ketundukan kepada selain Allah Swt. Islam berarti mengikuti para utusan Allah di setiap waktu hingga Rasul-Nya yang terakhir, Muhammad Saw, yang menyempurnakan jalan nabi-nabi sebelumnya. Maka kematian yang tidak dalam kondisi penyerahan diri (submission) kepada Allah , bukanlah akhir yang baik, karena Allah menuntut kematian manusia dalam kondisi ber-Islam, dan bahwa ber-Islam adalah bertauhid yang dibawa oleh seluruh Rasul tanpa ada perbedaan sama sekali.

Islam adalah agama metahistoris, bukan historis. Konsep-konsep mendasarnya (Tuhan, Nabi, Wahyu, Kiamat, Peribadatan) tidak berubah sepanjang masa. Ketika Kristen mengalami pergeseran konsep Tuhan, keselamatan, ibadah, seperti pada saat Konsili Toledo III di Spanyol 589 M dan Konsili Vatikan II (1962-65), maka tersisalah Islam yang masih genuine dengan konsep-konsep dasarnya yang tidak akan pernah berubah di meja ‘konsili’, laksana agama Barat yang terjatuh kepada agama kebudayaan, buatan dalam pengalaman sejarah, terkandung dalam sejarah, dan diasuh serta dibesarkan dalam sejarah. Islam adalah agama dengan Iman, ‘Islam’, dan Ihsan.

religions1Kemurnian Islam melahirkan penolakan terhadap koeksistensi dua istilah, pluralisme-agama. Hal ini karena pengertiannya bergeser dari apa yang terdefinisi dalam kamus menjadi pengakuan bahwa agama-agama tersebut sama dalam esensi, dan sama menuju keselamatan. Eksistensi realitas keragaman agama terakomodir, namun jalan keselamatan hanya satu. Prinsip “all religions are equally effective means to salvation, liberation, and happiness” dengan demikian tertolak karena tidak untuk mencari titik temu antara agama-agama yang berbeda, namun untuk sebuah anggapan bahwa semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun ‘porsinya’ tidak sama. Islam adalah satu, pluralitas terjadi dalam syariat-syariat yang merupakan jalan serta metode untuk beragama dengan agama yang satu.

Mengetahui jalan keselamatan ini mustahil bagi kaum sophis (as-sufastha’iyyah), relativis (al-‘indiyyah), skeptik (al-‘inadiyyah) dan agnostik (al-la adriyyah), namun mudah bagi kaum berpikir (ulil albab). Dengan segenap instrumen dan kemampuannya, manusia dapat mengetahui (‘ilm) dan mengenal (ma’rifah), memilih (ikhtiyar) dan memilah (tafriq), membedakan (tamyiz) dan menentukan (hukm) mana yang benar dan mana yang salah, yang haqq dan yang bathil, yang betul dan keliru (ash-shawab wa al-khatha’), yang sehat dan yang sakit (as-salim wa as-saqim), yang sejati dan yang palsu (al-shadiq wa al-kadzib), yang bajik dan yang buruk (al-khair wa asy-syar), yang baik dan busuk (ath-thayyib wa al-khabits), yang bagus dan yang jelek (al-hasanah wa as-sayyi-ah), yang ma’ruf dan yang munkar, berguna dan berbahaya (ma yanfa’ wa ma yadhur), yang membawa kebaikan dan yang menimbulkan kerusakan (al-mushlih wa al mufsid). Maka dapat diketahui, dimengerti dan dibedakan antara iman dan kufr, petunjuk dan kesesatan (al-huda wa adh-dhalal), jalan lurus dan menyimpang (sabil ar-rusyd wa sabil al-ghay), keadilan dan kezhaliman, cahaya dan gulita (nur wa zhulumat), kepatuhan dan kedurhakaan (tha’ah wa ‘ishyan), ketaqwaan dan kefasikan, keberuntungan dan kerugian (al-falah wa al-khusran), dan seterusnya.

Islam adalah agama yang sudah sempurna ketika Islam menjadi sebuah agama. Oleh karena itu, konsep evolusi, perkembangan, pembangunan dan pertumbuhan sebagaimana pengalaman kebudayaan Barat tidak tepat diadopsi dalam agama Islam. Hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikannya, dan tidak berarti bahwa kaum muslimin tidak boleh berubah dalam cara hidup mereka. Namun, sikap, serta pandangan hidup, dan amalan, serta tujuan hidup, kepercayaan, serta anutan tidak harus berubah, berkembang, dan membangun. Kalaupun terjadi selalu merujuk pada pemulihan ajaran murni agama.

Screen Shot 2015-01-04 at 1.16.07 PMTerdapat sebuah prinsip bahwa setiap perkara adalah tetap dan ilmu mengenainya dapat dicapai (al-haqaiq al-ashya’ thabitah wa al-‘ilmu biha mutahaqqiqun). Kebenaran hanya diperoleh dari Al-Haqq, Yang Maha Benar, sehingga membuat manusia yakin. Keyakinan akan wujudnya kebenaran menjadi asas worldview Islam, sebagai “the vision of reality and truth that appears before our mind’s eye revealing what existence is all about; for it is the world of existence in its totality that Islam is projecting”. Maka atas prinsip kebenaran ini, kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama yang benar sesuatu yang pasti, tuntas, dan tidak perlu dipertikaikan lagi.

Demikian pengantar saya untuk diskusi bertemakan Konsep Ad-Din ini, untuk kemudian silahkan kepada sahabat-sahabat untuk disempurnakan, diluruskan, atau dibongkar ulang, sebelum ditata dalam alam fikiran kita untuk melahirkan gerak-gerak aktif nan cerdas untuk hari sesudah kematian kita, sebagai wujud submisi kita hanya kepadaNya, Ad-Dayyaan. Wallaahu muwaffiq ilaa aqwaamiththariiq. Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here