Sejauh Mana Teladan Rasulullah Tercermin dalam Kehidupan?

0
308

hijrah_rasulullah-600x330Hidup membutuhkan teladan, sebagaimana keteladanan akan memperbaiki kehidupan. Hidup pasti berteladan, karena tiada kehidupan tanpa keteladanan. Kehidupan kaum muslimin memiliki keunikan sekaligus kenikmatan dengan hadirnya sosok yang dijadikan sentral berteladan. Sosok yang dengannya Islam menjelma menjadi sebuah sistem kehidupan, dialah Nabi Muhammad Saw.

33_21

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al-Ahzab/33:21)

 

52x Allah menggunakan kata ‘laqad’ di dalam Al-Qur’an untuk menekankan kesungguhan yang benar-benar akan terjadi karena telah sangat diharapkan. Padahal sekali saja Allah mengatakan ‘sungguh’ tidak mungkin ia terbatalkan dalam kehidupan. Menjadi lebih bernas ketika ternyata ciri seseorang yang lurus tauhidnya dan dampak penghayatan dzikirnya membawanya kepada sosok yang diyakini sebagai ‘uswah hasanah’.

 

60_6

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji. (Q.S. Al-Mumtahanah/60:6)

 

60_4

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya [1471]: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (Q.S. Al-Mumtahanah/60:4)

 

Kehadiran Rasulullah Saw memberikan energi dalam kehidupan manusia. Laksana muatan listrik yang seluruh bersumber kepada gardu utama, maka demikianlah sumber energi kehidupan. Sumber kehidupan itu menjadi lebih bermakna karena ia tercipta dari sesuatu yang sama dengan pengikutnya. Kesamaan ini melahirkan koneksi, kesamaan ini pula yang memudahkan sumber meraih titik akhir karena terlacak dengan mudah berdasarkan faktor kesamaan.

 

9_128

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.S. At-Taubah/9:128)

 

Keikhlasan, kesungguhan, dan kesesuian (ittiba’) adalah dasar meneladani. Jika meneladani hanya berhenti pada ekspresi normatif dan formal, bertahan pada seremoni daripada menghayati, maka bukanlah ia disebut dengan meneladani. Menyadari bahwa Nabi adalah manusia, menjadi jalan termudah untuk meneladaninya.

18_110

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Q.S. Al-Kahfi/18:110)

 

Realitas Nabi sebagai sosok manusia menjadi jawaban bahwa agama ini memang untuk makhluk di bumi, bukan di langit. Maka hakikat meneladani yang lahir karena cinta berkonsekuensi mengikuti. Pengakuan cinta yang tidak mengikuti jalan orang yang dicinta adalah pengakuan dengan kedustaan. Maka firman Allah Swt ini menjadi hakim, pembatas antara mana hakikat seorang pecinta dan pendusta.

 

3_31

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali ‘Imran/3:31)

 

Ittiba’ menjadi syarat mencintai sekaligus syarat diterimanya amal shalih sesuai standarisasi. Meneladani, mencintai, dan kemudian mengikuti adalah rangkaian kehidupan duniawi yang penuh maknawi. Tiada lagi yang berani ditinggali, karena manusia akan mengingini semua yang diberi, tanpa lagi memilih mana yang tepat untuk diri, maka janji pun pasti ditepati.

59_7

“Apa saja yang dibawa Rasul kepada kalian, terimalah; Apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah; dan bertaqwalah kalian kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh sangat keras hukuman-Nya” (QS. al-Hasyr/:7)

9_24

Katakanlah: “jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Q.S. At-Taubah/9:24)

لأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : لاَ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ . فَقَالَ : لَهُ عُمَرُ : فَإِنَّكَ اْلآنَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : اْلآنَ يَا عُمَرُ

Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.” Na shallallahu alaihi wasalam  bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri’. Maka Umar berkata kepada beliau, ‘Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar.” (HR. Bukhari No.6257)

Ketika mencintai menjadi alasan utama dalam gerak mengikuti, maka tiada lagi yang berat ada di sisi kecuali untuk membersamai yang dicintai. Membersamai pada seluruh ketetapannya, tanpa tertarik mencari alternatif karena keyakinan asasi bahwa kebenaran sudahlah pasti ada pada diri yang dicintai.

33_36

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Q.S. Al-Ahzab/33:36)

 

Standar keimanan menjadi terpenuhi di masa yang dicintai menjadi sumber menghakimi akan perbuatan diri.

4_65

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S. An-Nisa/4:65)

 

Dalam banyak hadits yang senada dengan ayat ini, Rasulullah Saw bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

Tidak beriman (dengan sempuna) salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya dan semua manusia. (HR. Bukhari No. 15)

Rasulullah mengingatkan umatnya untuk berpegang teguh kepada warisannya, ilmu yang bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jalan inilah yang akan mempertemukan umatnya dengan yang dicintai kecuali jika mencintai hanya sekedar lips service, padahal sejatinya ia enggan bertemu dengannya.

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ الْأَنِفِ حَيْثُمَا قِيدَ انْقَادَ

“Aku telah tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa. Barangsiapa di antara kalian hidup, maka ia akan melihat banyaknya perselisihan. Maka kalian wajib berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku, dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjukk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham. Hendaklah kalian taat meski kepada seorang budak Habasyi. Orang mukmin itu seperti seekor unta jinak, di mana saja dia diikat dia akan menurutinya.”(Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dalam sunannya nomor 43, dan Imam Ahmad dalam Musnadnya nomor 16519)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, ” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku (mengikuti aku) masuk surga dan siapa yang menyelisihi aku berarti ia enggan.” (HR. Bukhari No. 6737)

Perhatikanlah kisah dari Jabir dan Thalhah yang menjadi mencintai apa-apa yang sebelumnya berat bagi mereka, padahal itu hanyalah cuka sebagai pelengkap makanan pokok karena kurangnya lauk pauk.

أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي ذَاتَ يَوْمٍ إِلَى مَنْزِلِهِ فَأَخْرَجَ إِلَيْهِ فِلَقًا مِنْ خُبْزٍ فَقَالَ مَا مِنْ أُدُمٍ فَقَالُوا لَا إِلَّا شَيْءٌ مِنْ خَلٍّ قَالَ فَإِنَّ الْخَلَّ نِعْمَ الْأُدُمُقَالَ جَابِرٌ فَمَا زِلْتُ أُحِبُّ الْخَلَّ مُنْذُ سَمِعْتُهَا مِنْ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و قَالَ طَلْحَةُ مَا زِلْتُ أُحِبُّ الْخَلَّ مُنْذُ سَمِعْتُهَا مِنْ جَابِرٍ

Suatu hari aku diajak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke rumahnya, kemudian beliau mengeluarkan sepotong roti. Beliau bertanya kepada istri-istrinya: “Apakah ada lauk pauk?” Mereka menjawab; ‘Tidak ada, kecuali sedikit cuka. Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya cuka adalah sebaik-baik lauk.’ Jabir berkata; ‘Aku menyukai cuka sejak aku mendengarnya dari Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Thalhah berkata; Aku menyukai cuka sejak aku mendengarnya dari Jabir. (HR. Muslim No. 3825)

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِيْ الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِيْ النَّارِ.

Tiga perkara, apabila ada pada diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman; (1) Allâh dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain, (2) ia tidak mencintai seseorang melainkan karena Allâh, dan (3) ia benci kembali kepada kekafiran setelah Allâh menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka. (HR. Bukhari No. 16)

Cinta teruji bukan serenomi, cinta sejati bukan basa-basi, cinta abadi bukan setengah hati. Yang diingini para Nabi sejatinya adalah kesempurnaan dalam mengikuti, bukan parsial. Jangan sampai ada yang aqidahnya mantap tapi lisannya kurang sedap, atau ada yang akhlaknya lembut namun aqidahnya berkabut, atau ada yang yang ibadahnya getol namun aqidah jebol dan akhlak ambrol. Maka perpaduan aqidah yang lurus (salimul aqidah), ibadah yang benar (shahihul ibadah), dan akhlak yang terpuji (matiinul khuluq) adalah target manusia dalam kehidupan. Untuk mencapainya harus berpandukan warisan ilmu Nabi.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here