Alhamdulillahirabbil ‘alamin (الحمد للّه رب العالمين)

0
486

alhamdulillahSetelah Allah membuka Kitab-Nya dengan basmalah, yang merupakan jenis pujian, maka Allah susulkan pujian itu menuju kesempurnaan dengan alhamdulillah. Kata alhamdu digunakan sebanyak 26 kali dari total 68 kata yang ada menggunakan huruf dasar yang sama, yakni 1 kata kerja (يحمدوا), dan sisanya kata benda.

Alhamdulillah

Imam Al-Alusi berkata dalam Ruh al-Ma’ani fi Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim wa As-Sab’ Al-Matsani, Alhamdulillah selain bagian dari awal surat Al-Fatihah juga akhir dari do’a penutup, sebagaimana Surat Yunus [10] ayat 10.

10_10

Do’a mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “, dan penutup do’a mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin.

Kata الحمد merupakan pujian dengan lisan terhadap sesuatu yang indah. Sebagian membedakan antara الحمد dan المدح, bahwa yang pertama lebih khusus dari yang kedua. Namum Imam Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf wa Al-Faiq mengesankan keserupaan antara keduanya.  Lebih jauh lagi, para ulama juga membedakan antara الحمد dan الشكر. Sebagian mengkhususkanالشكر pada perbuatan atau pada nikmat-nikmat yang lahir atau terhadap pemberian yang bersifat ada akhirannya, sedangkan الحمد pada perkataan atau pada nikmat-nikmat yang batin atau pencegahaan yang tidak ada akhirannya, sebagaimana firman Allah dalam Surat Saba’ [34] ayat 13,

 

34_13

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tung- ku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.

Imam Ath-Thabari mengatakan bahwa sebagian berpendapat, Alhamdulillah pujian kepada Allah atas nama dan sifat-Nya yang mulia, sedangkan Asy-Syukru lillah pujian kepada Allah atas nikmat dan karunia-Nya.

Imam Al-Baghawi mengatakan bahwa selain mengandung makna Asy-Syukru, kata Alhamdu juga mengandung makna ats-tsanaa (sanjungan). Syukur tidak terjadi kecuali atas diberikannya kenikmatan, maka inilah alasan mengapa alhamdu lebih umum.

Imam Al-Qurthubi memilih pendapat bahwa Alhamdu sanjungan kepada yang dipuji dengan sifat-sifatnya tanpa didahului oleh perbuatan yang baik, sedangkan Asy-Syukru didahului kebaikan yang telah diberikan.

Bahkan kemudian para ulama juga mencoba melihat perbedaan dalam hal penggunaan kata yang bersifat pujian dan pengagungan ini yakni antara حمدت اللّه, شكرت اللّه , مجّدت اللّه, dan عظّمت اللّه. Semuanya pada akhirnya dikembalikan kepada kelaziman. Namun, hikmah dibalik digunakannya kata الحمد daripada الشّكر merupakan isyarat suci bahwa hanya kepada Allah sajalah dikembalikan segala urusan, dan pengertian ini belum terakomodir dalam kata التسبيح, meskipun dalam banyak kesempatan tasbih sering didahulukan dari tahmid, سبحان اللّه و الحمد للّه., karena tasbih telah tercakup dalam makna kata tahmid yang telah mengisyaratkan bahwa Allah berbuat kebajikan kepada para hmba karena Allah yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Kaya. Ketika الحمد ungkapan kesyukuran lisan, maka إيّاك نعبد mengindikasikan bentuk syukur dengan anggota tubuh, dan إيّاك نستعين menyatakan bentuk syukur hati.

Abu al-Abbas al-Mursi pernah berkata kepada Ibn an-Nuhas, tentang apakah alif dan lam pada kata الحمد, berfungsi menunjukkan jenis (jinsiyyah) atau definitif (lil ‘ahd). Dia lanjutkan perkataanya dengan menguatkan bahwa itu adalah ‘ahdiyyah, untuk menegaskan hakikat memuji Diri-Nya sendiri sejak azali. Sejalan dengan riwayat shahih dari Nabi Saw.,

اللهم لا نحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك

Ya Allah, kami tidak dapat menghingga pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau memuji Diri-Mu

 

Imam Ath-Thabari mengatakan bahwa tidak disebutkannya حمدا للّه, karena kata ini hanya sekedar pujian tidak terindikasi pujian yang sempurna bagi Allah. Inilah sehingga para qari bersepakat membaca marfu’ pada lafazhnya, karena jika dimana manshub mengindikasikan makna yang tidak sempurna.

Terdapat diskursus para ulama apakah redaksi الحمد sebagai informasi (ikhbariyyah) atau pembentukan (insyaiyyah). Imam Al-Bukhari sampai menulis karya khusus untuk menguatkan tesisnya bahwa redaksi ini merupakan ikhbariyyah. Dalam riwayat mutawatir, lafazh الحمد, berada pada posisi rafa’, dan itu sebagai mubtada’, sedangkan khabar-nya adalah zharfللّه. Didahulukannya daripada al-ism al-karim, karena statusnya menuntut tambahan perhatian terhadapnya, karena yang ditunjukkannya berfungsi sebagai pusat perhatian. Maksud redaksi ini tentu berbeda dengan redaksi seperti Surat Ar-Rum [30] ayat 18,

30_18

Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.

 

Imam Ath-Thabari mengatakan bahwa kata Alhamdulillah adalah bentuk syukur hanya bagi Allah Ta’ala, dan bukan untuk sesembahan yang lain atas seluruh karunia yang telah dilimpahkan kepada hamba-hambaNya yang tidak terhitung jumlahnya sehingga dapat menunaikan kewajiban-kewajibanan, bahkan dijanjikan kenikmatan yang abadi di akhirat, bagi yang menaati-nya. Ibn ‘Abbas mengatakan bahwa ucapan ini diajarkan langsung oleh Jibril a.s. secara khusus. Alhamdulillah berarti bersyukur kepada-Nya dan mengaku i segala kenikmatan, petunjuk, dan sebagainya.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan mengapa Rasulullah dinamai dengan nama Muhammad. Kata al-muhammadah (yang memiliki hal-hal terpuji) adalah lawan almudzammah (yang memiliki hal-hal tercela).

Al-‘Utsaimin berpendapat bahwa kata للّه, bukti tetapnya ketuhanan-Nya. Allah adalah Ilah yang sebenarnya, dimana selainnya adalah bathil, dan hal ini diperkuat dengan penggunaan huruf lam. Imam Al-Baghawi mengatakan huruf ini adalah lam lil-istihqaaq, menunjukkan hak.

 

Rabb

Kata ini asalnya adalah mashdar yang bermakna pemeliharaan (التربية), mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaannya sesuai peruntukannya yang azali, sedikit demi sedikit. Sebagian ulama tidak menyukai penggunaan kata ini secara muqayyad dengan di-idhafah-kan kepada yang berakal, seperti ربّ الدار, karena penyertaannya akan menjadi samar. Secara jelas dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.,

لا يقل أحدكم: أطعم ربّك وضيء ربّك، ولا يقل أحد: ربّي، وليقل سيّدي و مولاي

Janganlah seseorang dari kalian berkata, “Tuanmu memberi makan kekasih tuanmu.” Jangan pula seseorang berkata, “Tuanku.” Akan tetapi hendaklah berkata, “Majikanku” dan “Tuanku”.

 

Namun di dalam Surat Yusuf [12] ayat 23 dan 50, Allah Swt. berfirman,

12_23

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.

12_50

Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka.”

 

Ar-Rabb adalah salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala, artinya al maalik (pemilik). Kata ini juga berarti tuan atau majikan (as-sayyid), dan juga berarti Al-MushlihAl-MudabbirAl-Jaabir, dan Al-Qaaim. Imam Al-Qurthubi juga menegaskan artinya yang lain, Al-Ma’bud.

Imam At-Thabari mengutip Abu Ja’far bahwa di antara maka Rabbi adalah tuan yang ditaati, seorang yang baik, dan pemilik sesuatu.

Imam Al-Baghawi mengatakan bahwa kata Ar-Rabb juga bisa bermakna al-ishlaah, perbaikan. Maka makhluk tidak boleh menggunakan isim Ma’rifah, akan tetapi diidhafahkan kepada sesuatu yang dimilikinya, karena alif dan lam menunjukkan kepemilikan atas semua hal, sedangkan makhluk tidak mempunyai hak atas semua hal.

Imam As-Sa’di mengatakan bahwa Ar-Rabb adalah Al-Murabbi (Yang Dipertuhan) semesta alam yang tidak mampu bertahan tanpa nikmat kehidupan. Tarbiyah Allah terhadap makhluk ada dua yaitu umum dan khusus. Tarbiyah umum adalah penciptaan terhadap semua makhluk, pemberian rizki dan pemberian petunjuk untuk meraih kemaslahatan. Tarbiyah khusus hanya kepada kekasih-Nya, yang dia didik dengan keimanan, memberikan petunjuk kepada mereka untuk beriman, menyempurnakan keimanan bagi mereka, dan menghindarkan dari berbagai halangan dan hambatan yang menghalangi. Maka Rabbul ‘Alamin, hanya Allah yang mencipta dan mengatur.

Al-‘Utsaimin menegaskan bahwa sebagai bantahan bagi pengusung wihdatul wujud, adanya makna Tuhan yang dipertuhankan dalam kata rabbul ‘Alamin, menunjukkan perbedaan antara Sang Khalik dan Makhluk.

 

Al-‘Alamin

Kata ini adalah jamak dari kata عالم, mencakup yang berakal dan tidak berakal. Namun sebagian mengingatkan bahwa عالمون hanyalah khusus untuk yang berakal. Imam As-Suyuthi mengatakan bahwa ini berasal dari kata العلم (tanda), atau العلامة (tanda). Sebagian mengatakan bahwa kata ini bermakna jin dan manusia sebagaimana Surat Al-Furqan [25] ayat 1,

25_1

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,

 

Sebagian lain meyakini bahwa kata ini bermakna manusia saja sebagaimana Surat Asy-Syu’araa’ [26] ayat 165,

26_165

Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,

Imam Ath-Thabari mengatakan bahwa kata العلم adalah bentuk jamak yang tidak memiliki kata tunggal. Dia nama bagi seluruh jenis makhluk, dan setiap kelompok darinya disebut عالم. Jadi manusia adalah عالم, penduduk suatu masa adalah عالم, jin adalah عالم, seluruh jenis makhluk juga.

Al-‘Utsaimin menjadikan kata Rabbul ‘Alamin sebagai bukti bahwa semua alam ini bersifat hadits (baru), setelah sebelumnya tidak ada. Keberadaan alam yang teratur menunjukkan keberadaan Allah Swt. Hal ini sebagaimana Surat Adz-Dzaariyaat [51] ayat 20-21,

51_20

51_21

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Demikian juga jika kita tadabburi Surat Ar-Ra’d [13} ayat 4,

13_4

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.

Di dalam kata ini terkandung sifat Allah Al-‘Aliim, Yang Maha Mengetahui. Kata ini memiliki dua sisi, 1) sisi yang dikhususkan pada pihak Ilahiيعلم نفسه ; 2) sisi yang melihat kepada para makhluk, يعلم غيره. Berkata Qatadah bahwa katan ini mencakup segala yang ada selain Allah Ta’ala. Al-Husain bin Al-Fadhl mengatakan, “Yang hidup pada setiap zaman adalah ‘aalam“. Az-Zujaj berkata, alam adalah semua yang Allah ciptakan di dunia dan akhirat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here