Yuk ber-Ihsan

0
83

Berlaku-Ihsan-500x300Suatu ketika Nabi Saw. ditanya malaikat berwujud manusia tentang tiga hal utama, yakni Islam, Iman, dan Ihsan. Ihsan diperkenalkan kepada umat sebagai tingkatan penghambaan kepada Allah Swt yang tertinggi dengan arahan untuk beribadah kepada Allah Swt seakan-akan melihat-Nya, dan meskipun manusia tidak dapat melihat-Nya, maka dilanjutkan dengan arahan untuk menghadirkan keyakinan bahwa Allah pasti melihat manusia. Demikianlah pengajaran Malaikat tentang Dinul Islam, sehingga teks hadits ini disebut sebagai Induk Sunnah oleh Al Imam Al-Qurthubi, dikarenakan mengandung hal-hal yang bersifat umum dan mencakup seluruh tugas-tugas ibadah yang zhahir dan yang bathin, sebagaimana penegasan Al-Qadhi Iyadh, rahimahumallahu.

Al Imam An-Nawawi rahimahullah ketika mensyarah hadits riwayat Imam Muslim ini mengingatkan bahwa teks penjelasan ihsan disini merupakan salah satu dari jawami’ al-Kalim yang diberikan kepada Nabi Saw. Hal ini karena tentunya tidak mungkin manusia melihat Rabb-nya secara zhahir, karena melihat tabir wajah-Nya akan menjadi puncak kenikmatan kelak. Seandainya manusia diperkenankan melihat-Nya saat ini niscaya manusia dapat dipastikan akan begitu mudahnya untuk mengkonsentrasikan zhahir dan batinnya menuju kesempurnaan amal, namun karena hal itu tidaklah mungkin di dunia, maka menghadirkan keyakinan seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi manusia sehingga membawa manusia kepada maqam musyahadah. Inilah posisi yang diinginkan Allah Swt untuk orang-orang yang khusus. Ketika seorang manusia ditakdirkan dapat menyaksikan-Nya, sang Raja, tentu ia akan malu berpaling kepada selain-Nya atau menyibukkan hatinya dengan selain-Nya. Maka maqam ini juga menjadi maqam para shiddiqin.

Ketika Jibril hadir untuk mengajarkan ad-din (آتاكم يعلمكم دينكم), maka Ihsan adalah bagian yang tidak terpisahkan untuk ditegakkan dalam kehidupan seorang muslim. Allah Swt. telah berfirman,

وَأَحۡسِنُوٓاْ‌ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Berbuat ihsan-lah kalian semua, sesungguhnya Allah mencintai kaum muhsinin.” (Q.S. Al-Baqarah/2:195)

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِيتَآىِٕ ذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنڪَرِ وَٱلۡبَغۡىِ‌ۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّڪُمۡ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. An-Nahl/16:90)

وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ (٢١٧) ٱلَّذِى يَرَٮٰكَ حِينَ تَقُومُ (٢١٨) وَتَقَلُّبَكَ فِى ٱلسَّـٰجِدِينَ (٢١٩

“Dan bertawakkallah kepada [Allah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri [untuk shalat], dan [melihat pula] perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Q.S. Asy-Syu’ara/26:217-219)

Al Imam Ibn Katsir menegaskan bahwa ihsan merupakan tingkatan ketaatan yang tertinggi, “.و هو آعلى مقامات الطاعة” (Muhammad ‘Ali Ash-Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, Jilid 1, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, hlm. 172).

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ihsan adalah seseorang yang batinnya lebih baik dari zhahirnya, و الإحسان آن تكون سريرته آحسن من علا نيته” (Ibid, Jilid 2, hlm. 343)

Syaikh Musthafa Dieb al-Bugha mengatakan bahwa ihsan adalah ikhlas dan itqan (profesional), berbuat dengan rapi, sempurna, dan sebaik mungkin dalam amal yang disyariatkan.

Syaikh As-Sa’di mendefinisikan bahwa ihsan adalah mencurahkan semua kemanfaatan dari jenis apapun, kepada makhluk apapun. Hal ini sebagai konsekuensi  bersungguh-sungguhnya manusia dalam menunaikan hak-hak Allah secara ikhlas, menyempurnakannya, sehingga ia pun wajib berbuat baik berkenaan dengan hak-hak makhluk, sebagaimana sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya Allah Swt mewajibkan untuk berbuat ihsan atas segala sesuatu, إنّ الله كتب الإحسان على كلّ شيء” (HR. Muslim No. 1955). Maka dalam perkara apapun (tidak hanya khusus kepada manusia) hendaknya seorang muslim berlaku ihsan dimulai dari penunaian hak-hak sesama manusia (Q.S. An-Nisa/4:36), memberi kemanfaatan yang lebih kepadanya, hingga menolak perbuatan buruk manusia dipandang sebagai tingkatan ihsan terbesar (Q.S. Fushshilat/41: 34-35), hingga kemudian berbuat ihsan kepada alam dan seisinya.

Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa menyebutkan bahwa dalam pengajaran Jibril kepada Nabi Saw tentang ihsan, mengandung dua maqam, Muraqabah dan Musyahadah. Jika muraqabah ialah merasakan bahwa Allah melihatmu, maka Musyahadah adalah menghadirkan perasaan seakan-akan melihat Allah dalam ibadah yang dilakukan, inilah ciri hidupnya hati. Sekuat tenaga dengan jalan dzikir dan fikir untuk wushul (sampai di tujuan) kepada maqam iman dan yaqin yang pernah dinikmati oleh para sahabat, tabi’in dan pengikut mereka, adalah pekerjaan penting kaum beriman, dan ini mudah jika hati tidak sakit dan berpenyakit, dan tidak mengikuti langkah-langkah ahli bid’ah dan orang-orang jahil. (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus, Darus Salam)

Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan menjelaskan bahwa merasakan kesertaan Allah Swt, merasakan keagungan-Nya di setiap waktu dan keadaan, serta merasakan kebersamaan-Nya dikala sepi dan ramai, itulah yang dikenal dengan istilah muraqabah. Ia adalah aktifitas ihsan dengan melahirkan ikhlas ketika melaksanakan ketaatan, taubat total ketika melakukan kemaksiatan, sentiasa menjaga adab dan selalu bersyukur pada hal-hal yang mubah, dan selalu mendahulukan ridha atas musibah. Inilah tangga menuju taqwa menuju derajat para muttaqin yang mulia. (Runaiyatud Da’iyah, Kairo: Darussalam, Cetakan ke-2, 1986)

Jika manusia berlaku ihsan, tentunya karena metode-nya yang juga ihsan, tidak lain balasan yang ia terima dari Allah Swt juga ihsan, terbaik dari sisi Allah Swt, persis seperti janji Allah Swt,

هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَـٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَـٰنُ

“Tidak ada balasan ihsan kecuali juga ihsan.” (Q.S. Ar-Rahman/55:60)

Terbaik dari sisi Allah Swt, bukanlah sekedar terbaik dalam cara pandang manusia. Allah tegaskan bahwa Allah Swt. akan selalu memberikan balasan yang jauh lebih baik dari perbuatan baik manusia, sebagaimana penegasan-Nya,

لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٌ۬‌ۖ وَلَا يَرۡهَقُ وُجُوهَهُمۡ قَتَرٌ۬ وَلَا ذِلَّةٌ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ

Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik dan tambahannya, wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan kehinaan. Mereka itulah penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Yunus/10:26)

Dunia adalah kesempatan bagi manusia untuk berbuat ihsan, area yang telah disiapkan Allah Swt untuk manusia melahirkan ihsan-nya sangatlah luas, sebagai firman-Nya,

قُلۡ يَـٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ‌ۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِى هَـٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٌ۬‌ۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٲسِعَةٌ‌ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ۬

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat ihsan di dunia akan memperoleh kebaikan (hasanah),  Bumi Allah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S. Az-Zumar:10)

Rahmat Allah Swt sangat mudah turun bagi orang-orang yang senang berlaku ihsan di dunia, maka jadikanlah seluruh kehidupan kita untuk sentiasa ihsan kepada Allah Swt, dan kemudian ihsan kepada para makhluk Allah Swt.

وَلَا تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفً۬ا وَطَمَعًا‌ۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ۬ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah Swt. memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut [tidak akan diterima] dan harapan [akan dikabulkan]. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-A’raf/7:56)

Suatu ketika Abu Dzar r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah Saw! Bagaimana menurutmu jika seseorang melakukan kebaikan, lalu ia mendapatkan pujian dari orang lain?” Rasulullah Saw menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin, تلك عاجل بشرى المؤمن” (HR. Muslim No. 2642). Yuk ber-ihsan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here