Muharram Bulan Allah, bukan Bulan Sial apalagi Bulan Syiah!

0
328

muharram01Muharram, Syahrullah, bulan Allah, segera tiba.

Bulan penuh keutamaan amal shalih seperti puasa, berarti keutamaan juga untuk amal shalih lainnya seperti resepsi pernikahan, sunatan, aqiqah, perjalanan jauh, dan sejenisnya.

Generasi terbaik umat Islam telah mengisi bulan Muharram dengan memperbanyak amal shalih, dan menjaga diri mereka dari berperang kecuali jika diperangi musuh.

Allah Swt. telah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّہُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَہۡرً۬ا فِى ڪِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡہَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٌ۬‌ۚ ذَٲلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ‌ۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيہِنَّ أَنفُسَڪُمۡ‌ۚ وَقَـٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ كَآفَّةً۬ ڪَمَا يُقَـٰتِلُونَكُمۡ ڪَآفَّةً۬‌ۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ (٣٦)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.

Itulah [ketetapan] agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Q.S. At-Taubah/9:36)

Abu Muhammad Makki ibn Abi Thalib Hammusy ibn Muhammad ibn Mukhtar Al-Qaisi al-Qairawani al-Andalusi al-Qurthubi al-Maliki (355-437H) berkata,
“Empat bulan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram”.

وهن: رجب، وذو القعدة، وذو الحجة والمحرم

(Al Hidayah ila Bulugh an-Nihayah fi ‘Ilmi Ma’ani al-Qur’an wa Tafsiruhu, wa Ahkamuhu wa Jamalu min Fununi ‘Ulumihi, Maktabah Syamilah).

Hal ini juga telah dijelaskan Nabi Saw. dalam salah satu khutbahnya,

“Sesungguhnya zaman telah bergulir seperti saat hari ketika diciptakannya langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas 12 bulan, dan di antaranya ada 4 bulan haram, 3 bulan berturutan yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan kemudian bulan Rajab yang berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban. (HR. Bukhari No. 59, HR. Muslim No. 1679)

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهراً منها أربعة حرم ثلاث متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان

Muhammad ibn ‘Abdurrahman ibn Muhammad ibn ‘Abdullah al-Husni al-Ihabi asy-Syafi’i (832-905H) mengutip pendapat sebagian ulama bahwa larangan untuk berbuat aniaya (kezhaliman) pada ‘فيهن’ merujuk kepada ‘اثنا عشر شهراً’ dimaksud, sehingga tidak terbatas pada empat bulan saja.

Demikian tegas larangan tersebut disampaikan agar manusia mengisi seluruh bulan dengan ketaatan.

والطاعة فيها أعظم أجراً

Dan ketaatan yang dilakukan di bulan haram, sangat besar pahalanya. (Tafsir al-Iji Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Maktabah Syamilah)

Jika ketaatan yang diamalkan di bulan Muharram akan mendapatkan pahala yang besar, maka penyimpangan keyakinan dan kemaksiatan yang dilakukan di dalamnya pun mendapatkan balasan yang besar.

Tidak pantas bagi manusia
mengisinya dengan keyakinan bahwa bulan Muharram adalah bulan sial, sebagaimana tidak pantas bagi manusia untuk menganiaya dirinya di bulan suci.

Meyakini segala waktu, terlebih bulan Allah, sebagai waktu yang akan melahirkan kesialan adalah keyakinan batil yang akan menyakiti Allah Swt.

Rasul Saw. bersabda, “Janganlah kalian mencela waktu karena Allah Dialah (pencipta) Ad-Dahr. (HR. Muslim No. 5827)

لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ؛ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ

Sebagaimana Allah Swt telah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

“Anak Adam telah menyakiti-Ku; ia mencela dahr (waktu), padahal Aku adalah (pencipta) dahr.
Di tangan-Ku segala perkara, Aku memutar malam dan siang.” (HR. Bukhari No. 2042, Muslim No. 3326)

يؤذيني ابن آدم يسب الدهر، وأنا الدهر، بيدي الأمر أقلب الليل والنهار

Demikian juga dengan beramal, terlebih beramal di bulan Allah dengan amalan yang bersifat menganiaya diri, melukainya, bahkan menyebabkan kecacatannya, hingga kematiannya, sebagaimana perilaku sebagian Syi’ah, bukanlah ciri umat Nabi Muhammad Saw, merujuk peringatan beliau:

“Bukanlah golongan kami sesiapa yang menampar pipi, merobek-robek kantong baju, dan beramal dengan amal jahiliyah”. (HR. Bukhari No. 1294, Muslim No. 103)

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

Menjaga iman agar tetap berada dalam pemahaman yang lurus, dan menghidupkan amal agar selalu merujuk kepada ilmu adalah hal yang asasi dalam kehidupan dunia.

Semoga hal itu mudah bagi kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here