Soal 01: Apakah itu Hadits Shahih?

0
330

sunnahPertanyaan:

“Apakah hadits shahih itu keluarannya Bukhari saja? Apa hadits Shahih dan tidak Shahih itu? Syukran.”

(Pertanyaan dari salah satu peserta Grup Majelis Iman Islam (MANIS) via WhatsApp)

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum warahmatullah,

Hadits adalah semua ucapan Nabi Saw., perbuatan, pengakuan dan sifat-sifatnya.[1] Al-Qur’an dan Hadits adalah dua warisan Nabi Saw. yang wajib kita jadikan sumber dalil utama secara bersamaan, karena keduanya saling melengkapi. Tidak bisa menegasikan satu dengan lainnya. Bahkan, hadits merupakan salah satu mukjizat Rasulullah Saw., sehingga membuktikannya terhubung dengan wahyu, dan menegaskan kenabian. [2]

Begitu banyak usaha sebagian manusia yang mencoba untuk memalsukan hadits mendorong lahirnya struktur ilmu hadits dengan salah satu faidahnya untuk membendung gerakan pemalsuan yang terjadi. Metodologi kritik hadits pun dihadirkan dengan memperhatikan sanad (jalur periwayatan) dan otentifikasi (keaslian), sehingga terbagilah hadits ke dalam kategori: shahih (otentik), hasan (bagus), dan dha’if (lemah). Hadits dha’if pun terbagi lagi kepada hadits mursal, munqathi’, syadzdz, munkar, dan mudltharib. Hadits yang tidak masuk ke dalam kategori di atas berpotensi dimasukkan ke dalam kategori hadits maudhu’ (palsu), alias bukan hadits.[3]

Keshahihan suatu hadits harus memenuhi persyaratan, 1) Sanadnya bersambung sampai akhir; 2) Perawinya adil; 3) Perawinya dhabith (memiliki hafalan yang kuta); 4) Tidak adanya syuzuz (pertentangan dengan hadits yang lebih kuat); 5) Tidak adanya ‘illat (cacat yang tidak nampak). [4]

Karya-karya para ulama Hadits yang hanya memuat hadits-hadits shahih di antaranya adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Namun para ulama berselisih pendapat tentang mana yang paling shahih di antara keduanya. Jumhur mengatakan bahwa Shahih Bukhari lebih shahih daripada Shahih Muslim, karena syarat-syarat yang ada pada Shahih Bukhari lebih sempurna dan lebih ketat daripada Shahih Muslim. Lebih detail lagi, tingkatan hadits shahih dapat disusun mulai dari yang paling tinggi prioritasnya adalah sebagai berikut [5]:

  1. Bila diriwayatkan dengan sanad-sanad dari ashahhul asanid (sanad yang paling shahih) seperti Malik dari Nafi’ dari Ibn ‘Umar.
  2. Bila muttafaqun ‘alaih (disepakati oleh Bukhari dan Muslim)
  3. Diriwayatkan oleh Bukhari saja
  4. Diriwayatkan oleh Muslim saja
  5. Bila sesuai syarat keduanya meskipun tidak diriwayatkan oleh keduanya
  6. Bila sesuai syarat Bukhari saja meskipun tidak diriwayatkan oleh keduanya
  7. Bila sesuai syarat Muslim saja meskipun tidak diriwayatkan oleh keduanya
  8. Apabila shahih menurut para ulama selain Bukhari dan Muslim, seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan tidak sesuai syarat keduanya

 

Demikian, semoga menjawab pertanyaan Anda. Wallaahu waliyyutttaufiq,

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,

Dr. Wido Supraha

————————————————————————————————————————————-

Maraji’:

1] Daud Rasyid Sitorus, Apa dan Bagaimana Hadits Nabi Saw., Jakarta:Usamah Press, Cetakan I, 2002, hlm. 1.

2] Zaghlul Raghib al-Najjar, Al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Sunnah al-Nabawiyyah, Egypt: Nahdet Misr, 2007.

3] Musthafa as-Siba’i, As-Sunnah wa Makanatuha fi at-Tasyri’ al-Islami, Diterjemahkan dengan Sunnah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2007, Cetakan ke-V, hlm. 64.

4] Ahmad Lutfi Fathullah, Hadits-hadits Lemah & Palsu dalam Kitab Durratun Nashihin, Jakarta: Darus Sunnah, 2006, hlm. 2.

5] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum al-Hadits, Maktabah Wahbah, Cetakan ke-IV, 2004.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here