Soal 02: Siapakah Syaikh Al-Albani?

0
242

albaniPertanyaan:

Pertanyaan yg nyambung kriteria hadits tadi. Mohon dibahas juga tentang syaikh Nashiruddin al-Albani yang sering saya baca dirujuk sebagai indikator shahih atau tidaknya sebuah hadits. Terima kasih banyak sebelumnya. Mohon dibantu…

(Pertanyaan dari salah satu peserta Grup Majelis Iman Islam (MANIS) via WhatsApp)


Jawaban:

Assalamu ‘alaikum warahmatullah,

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani ibn Nuh (1914-1999 M) adalah seorang ulama Islam dari Albania yang menisbatkan seluruh hidupnya untuk mengkaji agama, khususnya telah melahirkan banyak warisan di bidang kajian hadits, dan kritik sanad hadits. Lahir dari seorang ayah yang juga ulama lulusan Istanbul, yang kemudian membawa keluarganya pindah ke Damaskus (Syiria) saat raja Albania mulai meninggalkan nilai-nilai Islam. Secara formal, Asy-Syaikh hanya pernah bersekolah di Madrasah An-Nizhamiyah, dan kemudian lebih banyak belajar informal, termasuk kepada ayahnya sendiri yang lebih mengarahkannya bermadzhab al-Hanafi dan telah menerima selesainya hafalan Al-Qur’an beliau dalam riwayat Hafsh.

Terinspirasi salah satunya dengan pemikiran Syaikh Rasyid Ridha dalam Al Manar, beliau mulai menyenangi ilmu hadits, dan 20 tahun hidupnya dihabiskan untuk mempelajarinya, lebih khusus waktu beliau lebih banyak dihabiskan di perpustakaan adz-Dzahiriyah di Damaskus, hingga beliau mendapatkan ruangan khusus di sana. Kesibukannya meneliti banyak kitab-kitab hadits, sekitar 12 jam setiap harinya, bahkan sampai membawa beliau menutup toko perbaikan jam, profesi yang telah lama ditekuninya, warisan dari keahlian ayahnya.

Beliau pernah mengajar di Universitas Islam Madinah selama 3 tahun (1381-1383 H), kemudian pindah ke Yordania (1388 H). Pernah bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam’iyah Islamiyah di Madinah (1395-1398 H), dan mendapatkan penghargaan tertinggi dari Kerajaan Saudi Arabia, King Faisal Foundation, 14 Dzulqa’dah 1419 H. Beliau wafat 01 Oktober 1999 M di Yordania dengan meninggalkan sekitar 218 judul kitab.

Meski dalam sebagian hal beliau banyak berbeda dengan ulama hadits dan fiqh di zamannya, namun bagaimanapun, beliau telah mewariskan banyak karya intelektual yang dapat memperkaya khazanah keislaman kita hari ini. Semoga kehadiran beliau di abad ini semakin mendorong generasi muda untuk mendalami Islam secara ilmiah dengan tetap menjaga adab kita kepada para ulama terdahulu yang tentunya lebih ‘alim dan faqih dan berkontribusi besar bersama warisannya masing-masing.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
Dr. Wido Supraha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here