Soal 05: Muharram dan Syiah?

0
487

Muharram-Wallpapers-0452401946_201311413391Pertanyaan:

👉1. Kenapa bisa ada istilah, muharram bulan sial.. apa kisahnya?
Mksdnya, adkh kisah yg mceritakan ttg bln muharram yg diyakini sbg bln sial?
👉2. Pada 3 alinea terakhir disampaikan, tentang perilaku sebagian syi’ah. Sebenarnya kenapa ada perilaku syi’ah seperti itu?
👉 3. Yang saya tau biasanya syi’ah pada Bulan Muharram mereka ada acara yg bernama Idul Ghodir, mereka menganiaya diri mereka dengan mencambuk² kepala mereka sampai berdarah, mencambuk badan, dan kepala mereka juga di sayat2 dg pisau. Iih, serem…
👉4. Tapi saya kurang tau kenapa sebabnya, apakah mungkin mereka mengenang Husein?
👉5. Apa yg dimaksud Idul Ghodir?

(Pertanyaan dari beberapa peserta Grup Majelis Iman Islam (MANIS) via WhatsApp)

Note: Tulisan dimaksud dari pertanyaan di atas ada di sini.

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum warahmatullah,

Terkait pertanyaan antum, berikut jawaban dari kami,

1. Muharram Bulan Sial

Sebenarnya fitrah manusia merasakan kekuatan yang lebih besar dari dirinya, dan membutuhkan perlindungan darinya. Islam hadir untuk mengarahkan fitrah manusia untuk merasakan bahwa tiada kekuatan selain Allah Swt, dan sehingga lahir kebutuhan untuk berlindung hanya kepada-Nya.
Sebagai contoh, sejak zaman para Nabi, terdapat manusia yang menganggap lebih penting untuk meminta perlindungan kepada para jin, sebagaimana Q.S. Jin ayat 6,

وَأَنَّهُ ۥ كَانَ رِجَالٌ۬ مِّنَ ٱلۡإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ۬ مِّنَ ٱلۡجِنِّ فَزَادُوهُمۡ رَهَقً۬ا

Maka Islam hadir dengan mengajarkan kepada umatnya untuk meminta perlindungan kepada dengan benar dan cara yang benar, seperti dalam Mu’awwidzatain.
Terkait mitos adanya ‘Bulan Sial’, maka ini juga terkait erat dengan konsep perlindungan dan kekhawatiran kepada sesuatu dzat. Keyakinan seperti ini sangat mungkin ada di setiap daerah, karena ia pun telah ada di setiap masa. Dalam konteks keindonesiaan, dengan latar belakang masyarakat paganisme, tentu menjadi hal yang tidak mengherankan. Sekurangnya ormas keagamaan terbesar di Indonesia saat Muktamar NU Ke-3 di Surabaya, 28 September 1928 M, memutuskan sekaligus menegaskan bahwa tidak ada hari naas dalam Islam. Mempercayai hari naas hukumnya haram sebagaimana pertanyaan muktamirin : ”Bolehkah berkeyakinan terhadap hari naas, misalnya hari ketiga atau keempat pada tiap-tiap bulan, sebagaimana tercantum dalam kitab Lathaiful Akbar?” (Lihat Ahkamul Fuqaha, PBNU)

2. Sebab perilaku Syi’ah

Asasinya, hal ini terjadi karena para penganutnya mengalami kerusakan berpikir dalam metodologi memahami Islam, dan tidak mengikuti cara generasi terbaik umat dalam mempelajari Islam, dan meninggalkan dua warisan utama Nabi Saw., Al-Qur’an dan As-Sunnah.

3. Apakah Idul Ghadir?

Idul Ghadir adalah hari raya Syi’ah selain ‘Idain (lihat: Muhammad al-Husayni al-Shairazi, Idul Ghadir A’zhamu al-A’yad fi al-Islam, Beirut: Muassasah al-Mujtaba li al-Tahqiq wa al-Nashr, 2003, hlm. 65).

Hari raya ini pertama kali dirayakan di abad ke-4 H, dicetuskan oleh Mu’izh Daulah ‘Ali bin Buwaih saat menguasai sebagian wilayah Irak abad tersebut. Di Indonesia tercatat pertama kali dirayakan di Gedung SMESCO, Gatot Subroto, Jaksel, Sabtu 26 Oktober 2013 oleh IJABI.

4. Sebab Idul Ghadir

Ini berkorelasi erat dengan keyakinan mereka pada sabda Nabi Saw., di Ghadir Khum (nama lembah dekat Juhfah, antara Makkah-Madinah), “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai maula-nya, maka Ali juga sebagai maula-nya.”, pada 18 Dzulhijjah tahun ke-10H, dalam perjalanan pulang menuju Madinah setelah haji wada’. Namun secara akademik, status hadits tersebut sangatlah lemah, dilihat dari sisi periwayatan, sabab wurud, konteks pembicaraan nass, bahasa, dan pernyataan, serta sikap Ahlul Bait sendiri terhadap para khalifah sebelum Ali r.a.

5. Amalan khusus di bulan Muharram

Di bulan Muharram ini, amalan yang paling khusus adalah puasa, sebagaimana sabda nabi Saw.,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di syahrullah, Muharram. Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam. (HR. Muslim No. 1163, dalam Kitab ash-Shiyam, Bab Fadhli Shaumi al-Muharram)
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Lathaiful Ma’arif, menyusun panduan amal di setiap bulannya. Pada saat membahas bulan Ramadhan, setelah memulai dengan puasa, beliau mengingatkan untuk melaksanakan qiyamullail, sebagaimana redaksi hadits di atas juga. Amalan berikutnya adalah puasa ‘Asyura dan mengunjungi orang yang baru pulang dari ibadah haji. Namun tentunya, secara umum, apapun jenis ibadah yang dilakukan di bulan haram akan mendapatkan balasan khusus di sisi Allah Swt., maka bersemangatlah dalam beramal.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,

Dr. Wido Supraha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here