Sekolah Pemikiran Islam Kaji Worldview Islam dan Barat

0
336

3MACETNYA Jakarta tak mengurangi antusiasme para peserta Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL untuk mengikuti kuliah yang kedua di Aula INSISTS, Jakarta. Materi perkuliahan yang kedua, “The Worldview of Islam”, disampaikan oleh Wido Supraha, salah seorang peneliti INSISTS, pada hari Kamis (12/03/15).

“Ilmu adalah hasil atau by product dari worldview suatu bangsa, agama ataupun peradaban. Artinya, ilmu itu tidak bebas nilai. Setiap ilmu ketika dicermati prinsip-prinsip epistemologinya mengandung nilai yang bersumber dari worldview suatu bangsa, agama dan peradaban,” demikian prolog Wido Supraha ketika memulai perkuliahannya.

Wido kemudian menjelaskan perbedaan worldview Islam dengan worldview Barat. “Prinsip worldview Islam adalah tauhid, sedangkan prinsip worldview Barat adalah dikotomi. Dan secara epistemologi, worldview Islam berasaskan wahyu, hadits nabi, akal dan intuisi. Berbeda dengan Barat yang berasaskan rasio dan spekulasi filosofis,” ujar beliau secara gamblang.

“Pendidikan dan worldview memiliki kaitan yang erat, karena lewat pendidikanlah konsep worldview tertransmisikan. Worldview sekuler tentu saja menghasilkan produk pendidikan yang sekuler. Sebaliknya, worldview Islam menghasilkan produk pendidikan yang Islami. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk manusia-manusia yang baik (beradab). Manusia yang baik disini adalah yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang dalam rangka beribadah kepada Allah SWT,” papar Wido lagi ketika menjawab pertanyaan Iberamsyah, seorang mahasiswa Pascasarjana UI yang mempertanyakan keterkaitan antara pendidikan dengan worldview.

Kesan positif diungkapkan oleh salah seorang peserta yang bernama Agung setelah mengikuti perkuliahan kedua. ”Saya secara pribadi merasakan kemanfaatan setelah mengikuti perkuliahan SPI. Saya yang tadinya tidak memahami apa dan bagaimana konsep worldview menjadi paham bahwa worldview adalah asas segala ilmu,” ujar Agung.

Perkuliahan SPI akan berlangsung selama tiga bulan. Peserta SPI berasal dari berbagai kalangan. Baik mahasiswa, guru, karyawan dan lain sebagainya. Para peserta ini digembleng tidak hanya melalui perkuliahan, tapi juga dengan menulis dua karya ilmiah setiap pekannya.

“Serangan ghazwul fikri begitu dahsyat dan masif melalui berbagai media terutama melalui tulisan. Oleh karena itu, kita lawan mereka dengan tulisan yang berbobot,” demikian komentar Akmal Sjafril, salah seorang dosen SPI yang juga penulis buku best seller berjudul Islam Liberal 101, dalam sebuah kesempatan. [Muhammad Rizqi Gumilar/islampos]

Source: https://www.islampos.com/sekolah-pemikiran-islam-kaji-worldview-islam-dan-barat-170243/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here