Kritik dan Perbaikan Pengajaran Sejarah Sains di Indonesia [2]

0
244

auikaSambungan artikel PERTAMA

Oleh: Dr. Adian Husaini

Keseriusan George Sarton dalam mengembangkan disiplin ilmu Sejarah Sains menjadikan namanya diabadikan seperti di perpustakaan Burndy, salah satu perpustakaan terbesar dalam sejarah sains dan teknologi, berlokasi di Norwalk, Connecticut. Dorothy Stimson (1890-1988) menjelaskan bahwa seluruh upaya keras seorang George Sarton kini dinikmati oleh banyak kalangan. George Sarton menjadi tokoh kunci dalam disiplin ilmu sejarah sains. Kapasitasnya sangat besar di dalam mengembangkan ide-idenya secara sungguh-sungguh. Thomas Samuel Kuhn (1922-1996) menunjukkan penghormatannya yang mendalam terhadap George Sarton yang melahirkan karya monumental dari hasil penelitiannya yang mendalam. Demikian pula dengan Sami Khalaf Hamarneh (1925-2010) yang sangat memuji dua karya monumental yang menjadi warisan hidupnya dalam bidang sejarah sains.

Maka hingga hari ini, George Sarton menjadi sosok yang diakui sebagai Bapak Sejarah Sains, bahkan berhasil mengembangkan sejarah sains sebagai sebuah disiplin ilmu di Barat di paruh pertama abad kedua puluh, dengan penuh keseriusan, kesungguhan, meskipun sangat sedikit pihak yang mendukungnya. Eugene Garfield (lahir 1925 M) menulis esai khusus berjudulGeorge Sarton: The Father of the History of Science, untuk menggambarkan biografi George Sarton sebagai sosok utama terbentuknya sejarah sains sebagai sebuah disiplin keilmuan.

Dalam pengajaran sejarah sains, George Sarton mengingatkan agar dapat berpegang teguh pada prinsip-prinsip asli sejarah sains. Prinsip-prinsip dasar pengajaran sejarah sains dapat disusun sebagai berikut:

  1. Tidak membatasi hanya mempelajari pada salah satu cabang sains, karena semua cabang sains tumbuh bersamaan dan dalam banyak hal saling berhubungan
  2. Tidak memisahkan satu cabang sains dengan cabang sains lainnya
  3. Transmisi sains sama pentingnya dengan penemuan sains
  4. Ex oriente lux, ex occidente lex, dari Timur muncul cahaya, dari Barat muncul hukum, lebih dapat diterima daripada Oh East is East and West is West and never the twain shall meet
  5. Sains asli dan sains terapan tumbuh secara bersamaan dalam banyak hal
  6. Greek Miracle sejatinya tidaklah terlalu mengagumkan karena apa yang dicapai oleh Yunani tidak terjadi secara spontan, akan tetapi buah dari evolusi panjang dari sekian pencapaian yang mengesankan dari Mesopotamia di Mesir dan dunia Aegean.
  7. Peradaban Yunani pada faktanya berakhir pada kegagalan, bukan karena kurangnya kecerdasan tapi karena kurangnya karakter moralitas
  8. Peradaban Helenistik yang merupakan kombinasi peradaban Yunani dan Romawi pada akhirnya mengalami ujian besar akibat konflik intelektual terbesar antara tokoh Yunani dan tokoh Yahudi dan Kristen.
  9. Pencapaian terbesar di masa kuno adalah karena kecerdasan dari Yunani, sementara pencapaian terbesar di Abad Pertengahan adalah karena kecerdasan dari Muslim, maka Abad Pertengahan memang abad kegelapan dan penuh peperangan bagi Barat, sementara abad kegemilangan dan penuh cahaya pengetahuan bagi Muslim di Timur.
  10. Pencapaian Arab jauh di atas pencapaian Yunani.
  11. Bahasa Arab menjadi bahasa sains utama yang bersifat progresif khususnya pada rentang abad ke-8 hingga abad ke-11 M.
  12. Peradaban Islam adalah peradaban yang sangat toleran dan sangat melindungi kaum yang tidak beriman dalam peradaban Islam, maka sains dan agama tidak bisa dipisahkan, keduanya harus dipahami dengan baik.
  13. Kecerdasan Yunani dan kecerdasan Arab adalah dua hal yang tidak bisa dibedakan, terlebih ketika peradaban Islam tegak hanya dalam kurun waktu dua abad saja

Pemikiran George Sarton menegaskan bahwa tujuan besar pengajaran sejarah sains adalah memahami perkembangan atau pertumbuhan sains sejak masa lahirnya. Maka pengajaran sejarah sains diperlukan untuk sembilan tujuan berikut ini,

  1. Menyampaikan fakta-fakta sains yang lebih mudah dimengerti, memaknainya lebih mendalam, dan menguasai sebuah karya sains secara lebih sempurna
  2. Memahami bahwa hadirnya sebuah cabang sains dan temuan sains adalah karena telah didahului cabang sains dan temuan sains lain
  3. Mencegah keterbatasan berpikir murid bahwa evolusi sains baru terjadi setelah abad ke-17, atau bahwa penemuan paling berharga di bidang sains hanya pada rentang abad ke-19 dan ke-20 saja
  4. Menegaskan bahwa terminologi ‘modern’ akan selalu hadir dalam setiap rentang sejarah sains
  5. Memotivasi murid untuk melanjutkan penemuan sains yang belum selesai dilakukan pendahulunya
  6. Menganalisa perkembangan peradaban dan unsur-unsur pendukungnya seperti perkembangan pemikiran dan pandangan hidup manusia, dan sejarah umat manusia secara umum
  7. Melahirkan sikap menghargai kemajuan setiap peradaban, dan bahwa peradaban tidak hanya milik Barat semata
  8. Memberikan aspek rekreatif kepada murid
  9. Mendorong kolaborasi antara tokoh agama, sejarawan dan saintis, dan penggabungan seluruh semangatnya dalam pribadi murid agar tidak berpikir dikotomi

Pengajaran sejarah sains sangat ditentukan oleh kualitas dan kompetensi tenaga pengajar. Kriteria pengajar sains yang dapat diaplikasikan adalah: 1) Memiliki pengetahuan yang mendalam dan pengalaman yang cukup lama, termasuk pengalaman di laboratorium untuk sebuah sains; 2) Memiliki pengetahuan yang lebih superfisial dalam beragam cabang sains; 3) Mengetahui sains secara umum dan sangat memahami metode sejarah; Memiliki semangat kesejarahan; 4) Mengetahui filsafat, khususnya filsafat sains; Memiliki semangat filsafat; 5) Mengetahui banyak bahasa di dunia, termasuk Latin, dan jika memungkinkan Yunani dan Arab. (George Sarton, A Guide to the History of Science, USA: The Chronica Botanica Company, 1952).

Evolusi sains perlu disusun secara benar dan para sejarawan harus mempertimbangkan beberapa hal utama. Dalam hal ini, George Sarton menawarkan untuk membahas beberapa subyek pengajaran yang menurutnya paling menarik bagi sejarawan sains: (1) Sejarah umum atau sejarah peradaban; (2) Sejarah Teknologi; (3) Sejarah Agama; dan (4) Sejarah Seni Rupa, Seni dan Kerajinan. (George Sarton, The Life of Sience, New York: Henry Schuman,1948).

“Jika pemikiran George Sarton ini dapat diterapkan,  sejatinya ini akan sangat mendukung semakin cepatnya proses Islamisasi Sains sebagaimana telah dinantikan banyak pihak,” kata Dr. Wido Supraha.

Kelulusan Dr. Wido Supraha sebagai doktor Pendidikan Islam di UIKA Bogor, semakin memperkuat barisan ilmuwan muslim yang menekuni dan memperjuangkan program Islamisasi Sains di Indonesia. Sebelumnya, UIKA telah meluluskan sejumlah saintis muslim sebagai Doktor Pendidikan Islam, seperti Dr. Wendi Zarman, Dr. Budi Handrianto, Dr. Muhammad Nurhadi, Dr. Aji Jumiono, Dr. Erma Pavitasari, dan beberapa lainnya. Semoga ilmunya berkah dan bermanfaat bagi perjuangan mewujudkan pendidikan sains Islam di Indonesia, demi tercapainya tujuan pendidikan Nasional, membentuk manusia beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia serta memiliki profesionalitas yang tinggi. Amin. (Jakarta, 13 November 2015).*

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Source: http://www.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2015/11/16/83341/kritik-dan-perbaikan-pengajaran-sejarah-sains-di-indonesia-2.html

Source: http://dewandakwahjabar.com/kritik-dan-perbaikan-pengajaran-sejarah-sains-di-indonesia/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here