Jadilah Generasi Rabbani, bukan Generasi Ramadhan semata

0
463

Ma’āsyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Pada kesempatan shalat jum’at pertama di bulan Syawwal ini setelah lebih dari sepekan kaum muslimin merayakan hari kemenangannya, izinkan khatib menyampaikan do’a:

Taqabbalallāhu minnā wa minkum, shiyāmanā wa shiyāmakum, shālih al-a’māl. Kullu ‘āmin wa antum bi khairin, wa ilallahi aqrāb wa atqā.

Semoga Allah ﷻ menerima seluruh amalan maksimal kita di bulan Ramadhan, menerima amal shiyam dan qiyam kita, dan menjadikannya di antara sebaik-baik amal, dan semoga kita sentiasa berada di dalam kebaikan.

Do’a ini kita panjatkan di atas seluruh kekhawatiran kita akan tidak diterimanya amal-amal kita, sementara batas umur kita semakin sedikit. Do’a ini kita panjatkan di atas seluruh pengharapan dan keyakinan penuh akan janji Allah yang akan memanggil hamba-Nya untuk masuk ke Surga-Nya dari pintu ar-Rayyān, pintunya orang-orang yang berpuasa di atas Iman dan Islam. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, bahwa selama bulan suci Ramadhan, kita telah berupaya penuh mengisi hari demi hari dengan rangkaian ibadah yang disyariatkan.

Siang hari kita isi dengan amalah shiyām (berpuasa) sekaligus berusaha mendamaikan hawa nafsu ini dengan keinginan akan sesuatu, padahal itu halal, seperti makan, minum dan jima’. Bahkan kita menata jiwa ini dari keinginan akan sesuatu yang tidak disukai, seperti membicarakan aib orang lain, marah, berdusta. Entah mengapa, tubuh ini terasa ringan untuk aku gerakkan ke masjid guna menunaikan shalat berjama’ah tepat waktu. Entah mengapa, tubuh ini terasa ringan untuk membuka Al-Qur’an dan berinteraksi dengannya.

Malam hari kita isi dengan amalan qiyām (berdiri) sekaligus berusaha mendamaikan hawa nafsu ini dengan keinginan akan sesuatu, padahal itu mubah, seperti menonton televisi, banyak bercanda. Bahkan kita menata jiwa ini dari keinginan akan sesuatu yang tidak disukai, seperti hura-hura, merokok, makan terlalu banyak, mubazir. Entah mengapa, tubuh ini terasa ringan untuk lama berdiri menikmati lantunan ayat suci Al-Qur’an dari sang imam di setiap shalat tarawih. Entah mengapa, tubuh ini terasa ringan untuk hadir dalam majelis-majelis ‘ilmu untuk lebih mematangkan persiapan diri menuju hari sesudah kematian yang pasti akan datang.

 

Ma’āsyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Jadilah generasi rabbanī, janganlah menjadi generasi ramadhaniyyīn semata.

‘Id al-Fithr adalah Hari Raya kaum muslimin dimana umat Islam kembali diperbolehkan menikmati sesuatu yang halal, setelah selama waktu yang ditetapkan kita menjadi terbiasa meninggalkannya. Ia pun terkait dengan fitrah laksana baru dilahirkan dari rahim ibunya, bersih dosanya, suci fitrahnya, mencintai sifat-sifat kemuliaan. Sifat-sifat kemuliaan inilah yang tidak boleh hilang dari manusia, karena jika ia hilang dan terus dibiarkan, fitrah akan kembali terkotori, maka lahirlah keburukan seperti syirik, tamak, dengki, kikir dan penyakit lain. Hal ini persis seperti firman Allah dalam Surat Al-A’rāf [7] ayat 179:

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُون

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

 

Setumpuk amal yang telah berhasil kita kumpulkan, kebiasaan baik atau adab yang telah terbangun dalam kepribadian kita, jagalah semuanya. Peliharalah dan jangan sampai berkurang dengan kembalinya kita kepada kebiasaan buruk kita yang tidak sesuai fitrah yang suci nan bersih. Sungguh, jerih payah kita dalam mengumpulkan amal-amal kebajikan, laksana menenun sebuah pakaian yang dahulunya masih belum berwujud karena masih berbentuk kapas, bahkan benang pun belum terlihat. Akankah kita mengurai kembali pakaian nan indah, pakaian taqwa nan bercahaya itu, sehingga terurai kembali bahkan menjadi kapas yang tidak menarik untuk dilihat dan tidak berfungsi sama sekali, baik menutupi aurat, melindungi dari panas mentari dan dinginnya malam, apalagi sebagai perhiasan dunia. Begitu kasih-Nya ALlah kepada umatnya sehingga kita temukan firman-Nya dalam surat an-Nahl [16] ayat 92:

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّتِي نَقَضَتۡ غَزۡلَهَا مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثٗا تَتَّخِذُونَ أَيۡمَٰنَكُمۡ دَخَلَۢا بَيۡنَكُمۡ أَن تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرۡبَىٰ مِنۡ أُمَّةٍۚ إِنَّمَا يَبۡلُوكُمُ ٱللَّهُ بِهِۦۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.

 

Ma’āsyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Jadilah generasi rabbanī, janganlah menjadi generasi ramadhaniyyīn semata.

Generasi rabbani adalah generasi yang dicintai Allah. Generasi ini menjadi rabbani, generasi yang begitu mencintai Allah, dan selalu pasrah dan siap diatur Allah, selalu berusaha menghidupkan perintah-nya dalam dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Inilah generasi rabbani yang hadir karena selalu menjaga semangatnya untuk meningkatkan maqam-nya di hadapan Allah bersama ilmu yang terus dipelajarinya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Āli ‘Imrān [3] ayat 79:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادٗا لِّي مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّ‍ۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

 

Ma’āsyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Jadilah generasi rabbanī, janganlah menjadi generasi ramadhaniyyīn semata.

Untaian penuh makna ini diingatkan oleh ulama besar nan mujaddid abad ini, Syaikh Yusuf al-Qaradhawy kepada kita semua, hanya untuk menguatkan cara pandang umat Islam agar meneruskan apa yang telah dimulai, semakin optimal apa yang telah dilakukan, hingga batas waktu dari Allah telah tercapai. Menjadi generasi rabbani adalah menjadi generasi yang tidak beramal shalih di bulan Sya’ban saja, atau di bulan Ramadhan saja. Menjadi generasi rabbani bermakna menjadi generasi yang beramal shalih da beribadah sepanjang tahun. Inilah di antara ciri diterimanya amalan seorang hamba jika dikorelasikan dengan bulan suci Ramadhan. Al Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathāiful Ma’ārif, sebuah kitab yang beliau susun untuk dijadikan panduan amal sepanjang tahun di setiap bulannya, beliau mengutip pendapat ulama salafushshalih yang mengatakan,

”Balasan dari amal kebaikan adalah lahirnya amal kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan amal kebaikan lalu melanjutkan dengan amal kebaikan berikutnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan amal kebaikan, namun malah dilanjutkan dengan amal kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaik yang telah dilakukan.”

Ketika menafsirkan Surat al-Lail, Al Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa sebagian ulama salaf mengatakan,

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here