Motivasi Hidup Dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj

0
356

isra-miraj-copy           Isra’ Mi’raj adalah peristiwa besar, bersejarah, bernas, dan berakhir pada seleksi keimanan. Dari peristiwa ini, untuk pertama kalinya Abu Bakar r.a. bergelar Ash-Shiddiq. Untuk pertama kalinya, kaum muslimin diingatkan kembali keberadaan Buraq, hewan bersayap yang berukuran di antara kuda dan keledai, pernah membawa para Nabi sebelumnya. Peristiwa yang mendorong turunnya ayat yang mencela sebagian kaum muslimin yang murtad karena peristiwa itu.[1]

Berkat Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad Saw. dapat menggambarkan kepada kaum muslimin rupa fisik Nabi Ibrahim yang begitu mirip dengan beliau, dengan kulit sawo matang, tinggi, ceking, berambut lebat, dan berhidung mancung. Demikian pula rupa fisik Nabi ‘Isa a.s yang berkulit merah, berpostur sedang, berambut lurus, dan banyak tahi lalat di wajahnya. Sementara rupa fisik Nabi Saw sendiri telah kita kenal: tidak terlalu tinggi tapi tidak terlalu pendek, rambutnya tidak terlalu keriting tidak juga terlalu lurus, badannya tidak terlalu gemuk, wajahnya tidak bulat, putih kulitnya, hitam legam kedua matanya, panjang bulu matanya, lebar pundaknya, berambut dadanya, dan tipis perutnya, demikian dengan bulu tangan dan kakinya yang juga tipis, namun telapak tangan dan kakinya keras.[2] Hal ini karena beliau Saw diberikan kesempatan teragung untuk mengimami para Nabi dalam shalat di Baitul Maqdis, dan inilah hakikat dinamakannya Surat Al-Isra’ atau Bani Israil, tanda perpindahan risalah dan serah terima panji kepemimpinan umat yang berlangsung di tempat yang diberkahi, Masjidil Aqsha. Lebih khusus lagi, perpindahan dari Bani Isra’il ke ummat Muhammad Saw.[3]

Mi’raj yang dialami Nabi Saw mempertemukannya dengan Nabi Adam a.s. di langit pertama, Nabi Yahya a.s. dan Nabi ‘Isa a.s. di langit kedua, Nabi Yusuf a.s. di langit ketiga, Nabi Idris a.s. di langit keempat, Nabi Harun a.s. di langit kelima, Nabi Musa a.s. di langit keenam, dan Nabi Ibrahim a.s. di langit ketujuh. Barulah kemudian beliau Saw diangkat ke Sidratul Muntaha sebelum dibawa naik ke Baitul Ma’mur. Terlihat adanya empat sungai di Sidratul Muntaha, dan terlihat 70.000 malaikat yang masuk ke dalam Baitul Ma’mur setiap harinya, sebagaimana disaksikannya begitu terharunya Nabi Musa a.s. melihat umat Nabi Muhammad Saw yang begitu banyak padahal diutus terakhir. Nabi Musa a.s pula yang menasihati Nabi Muhammad Saw agar kembali beberapa kali menghadap Allah Swt untuk meminta penurunan jumlah shalat yang diwajibkan.[4]

Terdapat diskursus apakah Isra’ Mi’raj terjadi dengan fisik Nabi Saw ataukah dengan ruhnya saja. Namun, kocar-kacirnya sebuah kabilah yang ketakutan mendengarkan suara hewan terbang, dan habisnya wadah berisi air karena diminum oleh Nabi Saw., memperlihatkan bahwa Nabi Saw. telah terbang bersama Malaikat Jibril dan Buraq. Maka dapat difahami kalau Ibn Qayyim al-Jauziyyah menshahihkan pendapat bahwa beliau Saw di-isra’­­-kan dengan ruh dan jasad-nya dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis.[5] Pendapat yang shahih menegaskan bahwa peristiwa ini hanya terjadi satu kali, yakni masa setelah mendapatkan wahyu, dan masa sebelum hijrah ke Madinah.[6]

Kalau para orientalis, seperti Gustav Labon, August Comte, Goldzhier, berusaha menjauhkan mukjizat dan hal-hal luar biasa dari diri Rasul Saw, bahkan berdalil dengan Q.S. Al-An’am:109, sementara pada saat bersamaan mereka memberikan sifat-sifat kemanusiaan terbaik kepada pribadi Nabi Saw seperti jenius, pahlawan, pemimpin heroik, dan sejenisnya, maka sungguh ini semuanya by design. Maka tidak heran kalau mereka menggunakan istilah Muhammadenist daripada Muslimin, agar umat Islam disimpangkan pemahamannya dari sosok Nabi dan Rasul bersama fenomena wahyu yang menjadi puncak kemukjizatannya.

Al-Buthy menjelaskan bahwa Isra’ ke Baitul Maqdis, dan Mi’raj dari Baitul Maqdis menunjukkan kemuliaan Baitul Maqdis di sisi Allah, dan bahwa ajaran yang dibawa Muhammad Saw berhubungan erat dengan ajaran yang dibawa Isa a.s, sebuah ikatan yang satu yang diturunkan kepada para Nabi.[7] As-Siba’i juga menguatkan tesis ini bahwa Masjidil Aqsha dan sekitarnya – Palestina – memiliki hubungan erat dengan persoalan dunia Islam secara keseluruhan, sebagaimana Makkah menjadi pusat utama dan kesatuan tujuan dunia[8], maka jangan sampai kaum Muslimin teledor dalam membela dan membebaskan Masjidil Aqsha dari segala bentuk makar.

Isra’ Mi’raj telah menjadi semacam hiburan sekaligus penghormatan pada kondisi dimana pribadi Nabi Saw berada pada puncak kesulitan menghadapi makar para musuh-musuh Islam. Bagi kaum Muslimin, ‘penerbangan’ yang beliau Saw alami telah menginspirasi umat manusia bahwa di zaman modern penerbangan sesuatu yang mungkin dengan ilmu dan pemikiran. Sesuatu yang tentu belum terbayangkan di masanya. Demikian pula, spirit mi’raj ruhani sebanyak lima kali sehari semalam, saat dimana ruh dan hati manusia hendaknya terpaut naik kepada-Nya, menyendiri meninggalkan dunia dan segala kenikmatannya. Semoga menjadi hiburan bagi hati yang penuh sesak.

Maraji’:

[1] Q.S. al-Isra’: 60

[2] Ibn Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah, hlm. 247

[3]Amru Khalid, Khawathir Qur’aniyyah, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur’an, Ad-Darul Arabiyah Lil ‘Ulum, 2004

[4]Ibn al-Jauzi, Al-Wafa, bi Ahwal al-Musthafa Saw, Beirut: Al-‘Ashriyah, 1425 H

[5]Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zādul Ma’ād, Jilid III, Libanon: Ar-Resalah, 1418 H

[6]Pendapat Ibn Abdil Barr dan lainnya, namun Shafiyurrahman menegaskan tidak adanya pendapat yang kuat dalam hal ini terkait detailnya. Lihat karya beliau Ar-Rahiqul Makhthum, Riyadh: Darussalam, 1414 H

[7]Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy,  Fiqh as-Sirah, Dirasat Minhajiah ‘Ilmiyah li-Shiratil Musthafa ‘alaihi shalatu wa salam, Libanon: Darul Fikr, 1397 H

[8] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah An-Nabawiyah, Kairo: Dar as-Salam, 1998

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here