Menguatkan kembali Motivasi Berhaji

0
113

hajiMusim haji telah tiba. Banyak kaum muslimin yang tergerak untuk menunaikan ibadah haji, namun tidak sedikit yang belum tergerak untuk menunaikannya dengan ragam alasan meski kewajiban sudah jatuh padanya. Sebenarnya bagaimana cara pandang kita dalam menghayati ibadah haji yang menjadi rukun Islam penyempurna ini?

Seorang Muslim sejatinya telah meniti jalan yang telah diwariskan Millah Ibrahim a.s. dan kemudian disempurnakan oleh Nabi Penutup, Muhammad ﷺ. Sejak awal, Nabi Ibrahim a.s. telah berdo’a dengan kesungguhan agar dirinya, anaknya Isma’il a.s., dan seluruh keturunannya untuk selalu tunduk kepada-Nya, sentiasa bertaubat atas dosa-dosanya, dan ringan dalam menunaikan ibadah haji. Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ dalam surat al-Baqarah [2] ayat 128:

رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً۬ مُّسۡلِمَةً۬ لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَآ‌ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan [jadikanlah] di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

 

Do’a tersebut dipanjatkan oleh Ibrahim a.s. setelah beliau membangun kembali Baitullah di Makkah al-Mukarramah. Sejatinya, Baitullah telah diciptakan Allah ﷻ, sekitar 2000 tahun sebelum dihamparkannya bumi. Justeru bumi mulai dihamparkan bertitik pusat Baitullah al-Haram, sebagaimana artikel yang pernah saya tulis ketika Tadabbur Surat an-Nāzi’āt. Maka hendaknya seorang Muslim selalu membenarkan firman Allah ﷻ dan menjadikan Baitullah yang juga dinamakan Bakkah Mubarak sebagai tempat yang paling pertama dirindukannya untuk dikunjungi di dunia ini mengingat korelasinya yang erat dengan Millah Ibrahim a.s, juga sekaligus menyempurnakan ke-Islam-annya, dengan ibadah haji. Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ dalam surat Ali ‘Imran [3] ayat 95-97:

قُلۡ صَدَقَ ٱللَّهُ‌ۗ فَٱتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (٩٥) إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٍ۬ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكً۬ا وَهُدً۬ى لِّلۡعَـٰلَمِينَ

Katakanlah: “Benarlah [apa yang difirmankan] Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (95) Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk [tempat beribadat] manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah [Mekah] yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia

Siapapun yang memasukinya, menjadi amanlah seorang Muslim. Di dalamnya ia akan mendapatkan kebenaran Millah Ibrahim a.s., di antaranya berupa Maqam Ibrahim, bekas tempat pijakan kaki manusia yang mulia itu, Ibrahim a.s. Maka jika seorang muslim telah masuk dalam kategori mampu beribadah haji, maka inilah priorias pertama nan utama yang wajib dilakukannya sebelum prioritas-prioritas hidup lainnya, apalagi sekedar memprioritaskan kebutuhan tersier. Terlaksananya ibadah haji pada diri seorang Muslim sejatinya untuk dirinya semata, bukan untuk Allah, karena Allah Maha Kaya dan tetap Selalu Kaya tanpa tergantung kepada manusia. Begitu kuat dorongan-Nya untuk umatnya, sehingga ia mengingatkan ciri Ahli Kitab yang senang mengkufuri ayat-ayat Allah, bahkan tidak sekedar mengkufuri, para Ahli Kitab pun senang merayu manusia untuk tidak menjadikan ketaatan kepada perintah Allah sebagai prioritas hidup. Hal ini sejalan dengan firman ALlah dalam Surat Ali ‘Imran [3] ayat 97-99:

فِيهِ ءَايَـٰتُۢ بَيِّنَـٰتٌ۬ مَّقَامُ إِبۡرَٲهِيمَ‌ۖ وَمَن دَخَلَهُ ۥ كَانَ ءَامِنً۬ا‌ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلاً۬‌ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٩٧)قُلۡ يَـٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ لِمَ تَكۡفُرُونَ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ وَٱللَّهُ شَہِيدٌ عَلَىٰ مَا تَعۡمَلُونَ (٩٨) قُلۡ يَـٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ لِمَ تَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ تَبۡغُونَہَا عِوَجً۬ا وَأَنتُمۡ شُهَدَآءُ‌ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ (٩٩)

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, [di antaranya] maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya [Baitullah itu] menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu [bagi] orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari [kewajiban haji], maka sesungguhnya Allah Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam. (97) Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” (98) Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

Ayat di atas mengandung perintah akan wajibnya berhaji ke Baitullah. Jika ada manusia yang mengatakan bahwa ia belum menunaikan ibadah haji karena belum mendapatkan panggilan dari Allah, maka saksikanlah bahwa panggilan itu sudah ada dalam ayat di atas. Bahkan panggilan untuk berhaji dengan sangat tegas telah diseru ribuan tahun yang lalu. Hal ini sejalan dengan firman ALlah dalam surat al-Hajj [22] ayat 27:

وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالاً۬ وَعَلَىٰ ڪُلِّ ضَامِرٍ۬ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ۬

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,

 

Ibadah haji adalah ibadah yang sangat suci dan mensucikan di bulan Haram. Oleh karenanya, ibadah ini harus dilakukan dengan penuh ketaatan dan pada saat yang bersamaan membersihkannya dari segala perilaku dan sifat buruk.  Jadikanlah haji ini sebagai penyempurna bekal terbaik yang akan kita bawa menuju Hari Perhitungan. Kumpulkanlah sebanyak-banyaknya kebaikan, dan rawatlah kebaikan yang telah terkumpul dengan menghindarkan dari perbuatan buruk. Bukankah manusia yang bersungguh-sungguh dalam berhaji sajalah yang akan dibersihkan seluruh dosa-dosanya sehingga ia laksana baru keluar dari rahim ibunya. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalma surat Al-Baqarah [2] ayat 197:

ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٌ۬ مَّعۡلُومَـٰتٌ۬‌ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلۡحَجِّ‌ۗ وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٍ۬ يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُ‌ۗ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰ‌ۚ وَٱتَّقُونِ يَـٰٓأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

[Musim] haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 197:

إِذَا قَضَيۡتُم مَّنَـٰسِكَڪُمۡ فَٱذۡڪُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَآءَڪُمۡ أَوۡ أَشَدَّ ذِڪۡرً۬ا‌ۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنۡيَا وَمَا لَهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنۡ خَلَـٰقٍ۬ (٢٠٠) وَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬ وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ حَسَنَةً۬ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ (٢٠١) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ نَصِيبٌ۬ مِّمَّا كَسَبُواْ‌ۚ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ (٢٠٢)

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadat hajimu, maka berzikirlah [dengan menyebut] Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut [membangga-banggakan] nenek moyangmu atau [bahkan] berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami [kebaikan] di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian [yang menyenangkan] di akhirat. (200) Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (201) Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here