Khutbah Idul Adha 1436 H: Bekerja dan Berkorban

0
140

Oleh: Dr. Wido Supraha*

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر

اللهُ أَكْبَر خَلَقَ الْخَلْقَ وَأَحْصَاهُمْ عَدَداً، وَكُلُّهُمْ آتِيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَرْداً، اللهُ أَكْبَر عَزَّ رَبُّنَا سُلْطَاناً وَمَجْداً، وَتَعَالى عَظَمَةً وَحُلْماً، عَنَتْ الوُجُوْهُ لِعَظَمَتِهِ وَخَضَعَتْ الخَلَائِقِ لِقُدْرَتِهِ، اللهُ أَكْبَر مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ، اللهُ أَكْبَر مَا هَلَّلَ الْمُهَلِّلُوْنَ، اللهٌ أَكْبَر كَبِيْراً وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ سَهَّلَ لِعِبَادِهِ طُرُقَ الْعِبَادَةِ، وَتَابَعَ لَهُمْ مَوَاسِمَ الْخَيْرَاتِ لِتَزْدَانِ أَوْقَاتِهِمْ بِالطَّاعَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبَ الْوَجْهِ الأَنْوَرِ وَالْجَبِيْنِ الْأَزْهَرِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهٍ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ:

فَيَاعِبَادَ اللهِ، أُوْصِي نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ الْكَرِيْمِ.

Allāhu Akbar 3x

Ma’asyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Pagi ini, memori sejarah kita membuka dirinya kembali, membawa kita pada kenangan ribuan tahun yang lalu.

Pagi ini, kembali kita mengenang manusia-manusia agung yang telah menciptakan arus terbesar dalam sejarah manusia, membentuk arah kehidupan kita, dan membuat kita semua berkumpul di lapangan besar ini untuk sholat dan berdoa bagi mereka.

Pagi ini, kita agungkan lagi nama-nama besar itu: Nabi Ibrahim a.s. dan istrinya Hajar, Nabi Ismail a.s. dan Nabi Muhammad Saw.

 

Allāhu Akbar 3x

Ma’asyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Renungkanlah, lebih dari 4000 tahun yang lalu, tiga manusia agung itu – Ibrahim, Hajar dan Ismail – berjalan kaki sejauh lebih dari 2000 km – setara dengan jarak Aceh hingga ke Bandung – berjalan dari negeri Syam – yang sekarang terbagi menjadi Syria, Palestina, Jordania dan Lebanon – menuju jazirah  tandus – yang oleh Al Qur’an disebut sebagai lembah yang tak ditumbuhi tanaman apapun.

Renungkanlah, bagaimana mereka mampu memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa.

Renungkanlah, bagaimana mereka membangun kembali Ka’bah dan memulai peradaban baru.

Renungkanlah, bagaimana 62 generasi dari anak cucu Ibrahim a.s. secara turun temurun hingga Nabi Muhammad Saw. membawa panji agama Tauhid ini dan mengubah jazirah itu menjadi pusat dan pemimpin peradaban dunia.

Renungkanlah, bagaimana Ka’bah pada mulanya hanya dithawafi 3 manusia agung itu, kini setiap tahunnya ditawafi sekitar 5 juta manusia dari seluruh pelosok dunia yang melaksanakan ibadah haji – dan dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan akan dithawafi sekitar 12 juta manusia setiap tahun, persis seperti doa Nabi Ibrahim a.s. ketika itu dalam Surat Ibrahim [14] ayat 37:

 

 

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah membawa sebagian dari keturunanku untuk tinggal di sebuah lembah yang tak tertumbuhi tanaman apapun, di sisi rumahMu yang suci. Ya Tuhan kami, itu agar mereka mendirikan sholat.. maka penuhilah hati sebagian manusia dengan cinta pada mereka..”

 

Renungkanlah, bagaimana jazirah yang tandus tak berpohon itu dihuni oleh hanya mereka bertiga dan kini berubah menjadi salah satu kawasan paling kaya dan makmur di muka bumi, persis seperti doa Ibrahim a.s. ketika itu sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Baqarah [2]  ayat 126:

 

“Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki kepada penduduknya berupa buah-buahan yang banyak.” 

 

Renungkanlah, bagaimana Nabi Ibrahim a.s. bermunajat agar lembah itu diberkahi dengan menurunkan seorang nabi yang melanjutkan pesan samawi, dan kelak Nabi Muhammad Saw menutup mata rantai kenabian di lembah itu. Lalu kini – 1500 tahun kemudian – agama itu diikuti sekitar 1,6 sampai 1,9 milyar manusia muslim, bahkan dalam satu penelitian oleh Pew Research Center, pada tahun 2070, jumlah pemeluk agama Islam akan melampaui pemeluk agama terbesar hari ini, persis seperti doa Ibrahim a.s. ketika itu sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Baqarah [2] ayat 129:

 

“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

 

Renungkanlah, bagaimana – dari sebuah kampung kecil di Irak bernama– Nabi Ibrahim a.s. datang seorang diri membawa Islam, melalui dua garis keturunan keluarga; satu garis dari istrinya Sarah yang menurunkan Ishaq, Ya’kub hingga Isa, ‘alahimussalam, dan satu garis dari istrinya Hajar yang menurunkan Ismail a.s. hingga Muhammad Saw., dan kini setelah lebih dari 4 millenium – Islam, dan dua agama budaya yang sebelumnya Islam, yakni Kristen dan Yahudi – telah dipeluk lebih dari 4 milyar manusia. Allah berfirman dalam Surat al-Baqarah [2] ayat 132:

 

“Dan Ibrahim telah Mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”

 

ALLAHU AKBAR 3X

Ma’asyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Pagi ini kita kenang lagi perjuangan 4 milenium lalu itu, dan akan terus kita kenang hingga riwayat kehidupan berakhir saat kiamat datang kelak. Demikianlah, agar kesadaran sejarah kita tetap terjaga, yakni;

 

Pertama, kesadaran bahwa pertumbuhan adalah ciri agama!

Berbagai kerajaan, dinasti, rezim dan imperium datang silih berganti dalam sejarah manusia. Ia lahir, tumbuh besar, berjaya, lalu menua, melemah dan akhirnya mati. Tapi agama yang dibawa Ibrahim a.s. datang dan terus bertumbuh tanpa henti hingga kini. Tak ada kekuasaan – sezalim dan setiran apapun – yang sanggup menghentikan laju pertumbuhannya.

Agama ini membangun kerajaan dalam hati dan pikiran manusia, bukan bangunan megah di atas tanah yang akan segera punah oleh waktu. Islam terus bertumbuh karena memberi arah bagi kehidupan manusia, mengakhiri pencarian akalnya akan kebenaran, kebaikan dan keindahan, serta memenuhi dahaga jiwanya akan cinta, ketenangan dan kebahagiaan.

Lihatlah bagaimana doa-doa Nabi Ibrahim menjadi kenyataan satu per satu dan terus menerus sepanjang waktu. Nabi Ibrahim a.s. mengajarkan kepada kita sunnatullah yang menjadi hukum sejarah sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an:

 

“Adapun buih itu pasti akan pergi sia-sia. Sedang yang bermanfaat bagi manusia akan bertahan di muka bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”. (Surat Ar-Ra’du/13: 17)

 

Kedua – kenangan bahwa perjuangan Ibrahim a.s. 4 milenium yang lalu itu telah membawa kita pada – kesadaran bahwa agama adalah narasi terbesar dalam sejarah manusia

Arus sejarah yang digerakkan oleh narasi Barat lahir dari ruh Kristiani. Sementara arus sejarah yang digerakkan narasi Timur lahir dari Islam. Jadi di Barat maupun di Timur agamalah yang membentuk semua peradaban besar yang pernah menghiasi lembar-lembar sejarah manusia. Dan selamanya akan terus begitu. Semua pemberontakan manusia untuk keluar dari jalan agama – seperti yang kita saksikan di abad yang lalu melalui gelombang sekularisme dan ateisme, baik atas nama ilmu pengetahuan atau atas nama yang lain – hanya akan berujung dengan kesia-siaan dan kesengsaraan.

Lihatlah misalnya bagaimana perang dunia pertama dan kedua mengorbankan sekitar 94 juta nyawa manusia. Pemberontakan itu lahir dari keangkuhan manusia yang terlalu rapuh, disusun oleh akal yang terlalu sederhana untuk melawan kebenaran abadi yang dibawa oleh agama.

Lihatlah bagaimana ide-ide usang yang diasong oleh kaum liberalisme, sekularisme, pluralisme agama, yang berusaha menjauh dari Islamic Worldview sebagai cara pandang utuh seorang Muslim, hanya melahirkan kebuntuan, kebodohan, dan penjajahan intelektualitas baru.

 

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nuur: 35)

 

Ketiga  – kenangan bahwa perjuangan Ibrahim a.s. 4 milenium yang lalu, membawa kita pada keyakinan bahwa –  Islam adalah agama masa depan manusia

Rasio pemeluk Islam di zaman Nabi Muhammad Saw adalah sekitar 1 orang Muslim untuk setiap 1000 penduduk bumi. Kini angka itu berkembang menjadi 1 orang Muslim untuk setiap 5 orang penduduk bumi, sudah termasuk kurang dari 100 juta muslim yang menghuni benua Eropa dan kurang dari 100 juta muslim yang menghuni China daratan.

Semua perang fisik dan pemikiran yang ditujukan untuk merusak citra agama ini – seperti label fundamentalisme dan terorisme, label kemiskinan dan kebodohan – demi mencegah manusia untuk memeluknya tidak akan sanggup mencegah pertumbuhan dan penyebarannya, bahkan di jantung sekularisme seperti Eropa dan Amerika sekalipun.

Sementara itu semua sistem dan ideologi lain mulai bangkrut satu per satu seperti komunisme. Dan kini kapitalisme pun sedang menyusul secara perlahan dan pasti, bahkan menghantui negeri superpower sekalipun. Semua sistem dan ideologi itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan dan dahaga manusia akan kebenaran, keadilan dan kebahagiaan. Dunia membutuhkan pencerahan baru, dan hanya Islamlah yang bisa membawa cahaya. Dunia membutuhkan sumber solusi, dan hanya Islamlah yang bisa menawarkan jalan keluar.

 

“Urusan (agama) ini pasti akan menjangkau seluruh manusia, sepanjang siang dan malam menjangkau (seluruh pelosok bumi)”.

 

Keempat – kenangan bahwa perjuangan Ibrahim a.s. 4 milenium yang lalu, membawa kita pada kesadaran bahwa bekerja dan berkorban adalah tradisi kebangkitan dan kepemimpinan.

Bekerja itu seperti menanam pohon, sementara berkorban itu adalah pupuk yang mempercepat pertumbuhannya. Kita mengenang Nabi Ibrahim a.s. hari ini karena ia hanya bekerja menabur kebajikan di ladang hati manusia tanpa henti. Kita mengenang Nabi Ibrahim a.s. hari ini karena pengorbanannya yang tidak terbatas.

Makna hidup kita – baik sebagai individu maupun sebagai umat dan bangsa – terletak pada kerja keras dan pengorbanan tanpa henti dalam menebar kebajikan bagi kemanusiaan. Bekerja adalah simbol keberdayaan dan kekuatan sementara berkorban adalah simbol cinta dan kejujuran. Itulah nilai yang menjelaskan mengapa bangsa-bangsa bisa bangkit kembali dan para pemimpin bisa memimpin. Hanya mereka yang mau bekerja dalam diam yang panjang, dan terus menerus berkorban dengan cinta, yang akan bangkit dan memimpin. Itulah jalan kebangkitan. Itulah jalan kepemimpinan. Itulah nilai yang menjelaskan mengapa Islam – di masa lalu – bangkit dan memimpin peradaban manusia selama lebih dari 1000 tahun. Dan itu jugalah jalan kebangkitan kita kembali: bekerja keras dan berkorban tanpa henti.  Bekerja dan berkorban sepenuh hati di atas Iman yang hakiki.

Marilah kita bekerja dan berkorban agar Islam kembali memimpin peradaban dunia dan agar dunia dan seisinya kembali dipimpin oleh pemimpin Islam, pemimpin yang memahami ajaran Islam secara sempurna, pemimpin yang istiqomah menegakkan Islam dalam seluruh peri kehidupannya, dan pemimpin yang siap bekerja dan berkorban di atas Iman dan Islam untuk keadilan dan kesejahteraan seluruh umat manusia. Sejatinya, kita semuanya adalah Pemimpin yang juga siap dipimpin dalam cahaya Allah Swt.

Dengarlah firman Allah dalam Surat at-Taubah [9] ayat 105:

 

“Dan katakanlah (hai Muhammad), bekerjalah kalian, nanti Allah yang akan menyaksikan amal kalian, beserta RasulNya dan orang-orang yang beriman”.

 

ALLAHU AKBAR 3X

Ma’asyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Hari ini – sebagaimana kita mengenang manusia-manusia agung itu; Nabi Ibrahim a.s. dan istrinya Hajar, Nabi Ismail a.s. dan Nabi Muhammad saw – kita juga mendengar rintihan hati umat manusia dari berbagai pelosok dunia. Di belahan dunia Islam ada rintihan anak-anak Palestina yang negerinya masih terisolasi oleh Israel, anak-anak Mesir yang terus ketakutan di bawah rejim militer, Irak yang menjadi tidak aman setelah Syi’ah berkuasa, Afghanistan yang menjadi tidak stabil setelah diinvasi, Suriah yang didukung kuat oleh Syi’ah, Angola dan CAR yang telah membumihanguskan Islam dan menjadikan Islam sebagai agama haram di negeri mereka, tidak lupa derita Rohingya di Myanmar. Mereka membutuhkan solidaritas dan bantuan kita untuk membebaskan mereka dari kezaliman dan penjajahan.

Sementara di belahan dunia lainnya, ada milyaran jiwa manusia yang hidup dalam kehampaan dan juga menanti para pembawa cahaya kebenaran untuk menyelamatkan dan mengeluarkan mereka dari himpitan hidup yang pengap kedalam rengkuhan cahaya Islam yang penuh rahmat. Tangis hati para korban kezaliman di Dunia Islam dan rintihan jiwa para pencari kebenaran di Dunia Barat sama-sama menantikan kehadiran kepemimpinan baru yang datang membawa cahaya kebenaran, cinta bagi kemanusiaan, tekad untuk bekerja keras serta kemurahan hati untuk terus berkorban.

Marilah kita bangkit membebaskan diri-diri ini dari keserakahan dan kebakhilan, kesedihan dan ketakutan, kelemahan dan ketidakberdayaan, egoisme dan perpecahan, kebodohan dan kemalasan.

Marilah kita bangkit dengan semangat kerja keras dan pengorbanan tanpa henti, melupakan masalah-masalah yang tidak asasi dan memikirkan serta merebut peluang-peluang besar bagi kejayaan umat Islam.

Marilah kita bangkit dengan kepercayaan penuh bahwa Islam adalah masa depan manusia dan bahwa masa depan adalah milik Islam.

Marilah kita bangkit dengan semangat dan keyakinan penuh bahwa kita, umat Islam, bisa memimpin umat manusia kembali jika kita mau bekerja keras dan berkorban demi cita-cita besar kita.

 

KHUTBAH KEDUA

اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر

الحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالمِيْنَ، الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، مالِكِ يَوْمِ الدِّيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْأَمِيْنِ، وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّاهِرِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى كُلِّ رَسُوْلٍ أَرْسَلَهُ، أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوْا اللهَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، يَقُوْلُ اللهُ تَعَالى فِيْ القُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا ربَّكُمْ إنَّ زَلزَلَةَ السَّاعَةِ شَىءٌ عَظِيْمٌ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا، وَتَرى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللهِ شَدِيْدٌ.

 

Jamaah Sholat Id yang insya Alah dibanggakan Allah Swt.

Bersegeralah menjadi sosok yang dibanggakan Allah, karena kesungguhan kita berkorban menghidupkan Islam, sebagaimana pengorbanan luar biasa Nabi Ibrahim a.s. saat menyebarkan risalah ilahiyah di tengah masyarakat primitif yang jauh dari nilai-nilai peradaban.

Bersegeralah menjadi sosok yang dibanggakan Allah, karena perjuangan kita untuk menepis citra negatif atas Islam yang sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, bersama keteladanan dan ilmu yang kita kumpulkan dan sebarkan di tengah masyarakat.

Bersegeralah menjadi sosok yang dibanggakan Allah, karena kemampuan kita dalam membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah agama peradaban, agama rahmatan lil alamin, satu-satunya agama yang membawa kepada kebahagiaan sejati.

 

Jamaah Sholat Id yang insya Alah dibanggakan Allah Swt.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdo’a kepada Allah Swt, memohon ampunan, keberkahan dan keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak.

Marilah bersama-sama kita bermunajat di hari yang penuh dengan kebahagiaan ini. Agar kita, keluarga kita dan segenap bangsa Indonesia selalu dilindungi dari segala murka dan bahaya, selalu diberi pertolongan dalam setiap langkah dan aktivitasnya.

Kekhusyu’an dan kesungguhan kita semoga menjadikan do’a yang kita panjatkan dikabulkan, permohonan yang kita sampaikan dipenuhi, hajat yang kita utarakan diperhatikan oleh Allah Swt.

 

*Diedit, ditulis ulang, dan re-format dari khutbah Asli Ust. Anis Matta, Lc.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here