Tadabbur Awal Surat An-Naba

0
160

TADABBUR AWAL SURAT AN-NABA

Materi malam ini kita akan mentadabburi Surat An-Nabā.
Surat Makkiyah dengan 40 ayat Allah ini secara umum mengandung dorongan untuk mengukuhkan iman kepada adanya Kebangkitan setelah kematian.

Keyakinan ini yang membedakan antara orang beriman dan orang-orang musyrik.

ANTARA BERIMAN DAN MENDUSTAKAN

Orang-orang Musyrik tidak meyakini hari Kiamat, hari Kebangkitan dan hari Hisab.
Atas dasar inilah maka surat ini mengandung Berita Besar ( al-Khabar al-‘Azhīm ) yang telah membelah manusia kepada dua golongan yakni beriman dan mengkufurinya, antara yang membenarkan dan mendustakannya.

Orang-orang Musyrik dengan yakinnya mengatakan ‘Kallā’, terhadap Berita Besar bahwa Alah akan membangkitkan setelah kematian.

Namun dengan tegas, Allah ﷻ mengatakan, “Kelak orang-orang Musyrik itu akan mengetahuinya”, nanti pada saat segala sesuatu telah terlambat untuk diperbaiki.

BACALAH AYAT-AYAT ALLAH YANG TERSEBAR DI DUNIA

Motivasi dalam agama ini adalah keilmiahan. Bangunannya telah dimulai dengan kalimat ‘ Iqra’ ‘, bacalah, baik Al-Qur’ān (Ayat Qauliyah) dan Alam (Ayat Kauniyah). Lebih lanjut, agama ini telah mendorong untuk melanjutkannya dengan Observasi ( alam yarauna ), bahkan Eksplorasi ( afalā yanzhurūna ), bahkan Ekspedisi ( sīru fi al-ardhi ).

Setelah 5 (lima) ayat pembuka An-Nabā yang menegaskan pentingnya Keimanan kepada Hari Kebangkitan, maka di surat ini Allah ﷻ pun mengajak manusia untuk mengamati proses yang terjadi di alam ini.

RANGKAIAN ALAM YANG SALING TERKAIT

Allah ﷻ memulai dengan mengajak kita untuk mensyukuri bumi yang dijadikan hamparan, meski bentuknya yang bulat. Luasnya hamparan membuat kita bisa berlari dan bekerja dengan tenang. Ayat ini bukan dalil bahwa Bumi adalah flat earth, karena apapun bentuk bumi bukanlah bagian dari Iman. Namun kalau kita renungi, ayat ini justru mensiratkan bahwa bentuk bumi bukanlah datar, itulah mengapa ‘hamparan’ perlu disyukuri.

Lapisan di bumi ini pun bergerak terus menerus, dalam istilah geologi ada terma isostasi. Proses pergerakan itu telah membentuk gunung yang kokoh ke bawah dan menjulang ke atas. Adanya gunung ini mengurangi potensi ketidakstabilan bumi akibat pergerakan tanah dan lapisanya. Inilah makna ‘paku’ sebagai fungsi gunung yang patut disyukuri.

Di atas bumi, Allah ﷻ hadirkan manusia yang berpasang-pasangan dari jenis yang sama, yakni manusia, agar lahir ketenangan, sebagaimana banyak hal tercipta berpasangan. Maka esensi manusia di dunia adalah mencari pasangan hidupnya, bukan menyendiri, kecuali ada hal yang lebih menyibukkannya dengan tidak menyelisihi syariat.

ANTARA MALAM DAN SIANG

Manusia dalam kehidupannya di atas dunia diarahkan Allah ﷻ untuk memiliki pola hidup yang teratur. Keteraturan itu dimulai dengan pola penyusunan jam biologis. Siang adalah waktu untuk bekerja dan beraktivitas, sementara malam adalah waktu untuk beristirahat. Inilah rahasia mengapa ketika malam, Allah matikan cahaya, sehingga suhu bumi turun, sehingga malam menjadi pakaian manusia untuk beristirahat dengan penuh ketenangan, mengumpulkan kembali energi yang telah keluar. Kata ‘subāta’ ini berhubungan dengan kata ‘hari Sabtu’, yakni hari tenang bagi Yahudi sebagaimana dahulu pernah disyariatkan.

Jika manusia menjaga pola hidup seperti ini, yakinlah akan lahir kesehatan dan kekuatan yang panjang, dan inilah di antara hikmah syariat Islam. Siang digunakan untuk mencari ma’isyah , dan malam digunakan untuk beristirahat dan bermunajat.

CAHAYA BERSINAR DAN KESUBURAN TANAH

Setiap rumah memiliki atap, dan 7 (tujuh) lapis langit menjadi atapnya bumi yang kokoh. Bahkan untuk sekedar masuk ke langit pertama saja, jin sudah tidak lagi mampu hari ini, ia dilempar dengan bintang-bintang jika berani mendekat.

Matahari sejatinya adalah bintang, hanya saja ia bintang yang paling dekat dengan bumi. Hadirnya matahari di siang hari telah menyerap embun dan air di bumi sehingga berkumpul pada mu’shirāt (sesuatu yang mengandung sesuatu tapi belum mengeluarkan sesuatu itu), yakni ditafsirkan dengan awan. Awan ini membawa kandungan air dan dengan izin Allah kemudian akan mengeluarkan airnya dengan terus tercurah.

Turunnya air ke atas bumi adalah dengan tujuan, yakni membasahinya dan menumbuhkan biji-bijian (sesuatu yang mengandung benih) menjadi tanaman dan kelak menjadi kebun yang lebat. Hal ini mengingatkan manusia untuk memberikan hak masuknya air kembali ke tanah dengan cara apapun di tengah keterbatasan bagaimanapun. Air memiliki hak untuk kembali masuk ke dalam bumi melalui pori-pori tanah yang ada, bukan untuk dibuang melalui selokan hingga ke laut, sementara melupakan air sebagai bagian dari lapisan tanah yang membantu kestabilan bumi dan penghuni di atasnya.

Sampai disini kita merasakan bahwa Surat An-Nabā telah mengawali dengan cara pandang untuk mencintai alam, agar kita menemu kenali Allah Jalla Jalāluh, dan mudah bagi kita untuk meyakini adanya Kiamat, Kebangkitan dan Hisab.

Sampai disini sebagai pengantar, Wallahu a’lam bishshawab.
Wido Supraha

supraha.com

Telegram Channel: @supraha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here