Masjid Awal Lahirnya Peradaban

0
296

Peradaban yang kokoh akan bangkit setelah diawali dengan bangkitnya tradisi pengembangan ilmu. Rasulullah ﷺ menjadi teladan terbaik mewujudkan masyarakat yang sangat mencintai ilmu sehingga terlahir generasi terbaik dalam Islam yang melahirkan karya-karya dan capaian-capaian terbaik dalam kurun waktu yang singkat yang belum pernah dicapai oleh peradaban manapun di dunia.

Generasi tersebut menjadi generasi yang mencintai ilmu dan tradisi tulis-menulis setelah sebelumnya lama menjadi generasi ‘ummiy‘. Di antara dampaknya adalah lahir generasi yang menjaga aurat mereka dan bebas dari segala hal yang memabukkan setelah sebelumnya hal itu tidaklah biasa bagi mereka. Inilah dampak dari peradaban Tauhid, peradaban yang dikembangkan oleh Islam, peradaban yang menyatukan unsur zhahir dan bathin, jiwa dan raga, dunia dan akhirat.

Peradaban Islam memiliki kekhasannya tersendiri dikarenakan dorongannya untuk mengejar Akhirat disertai motivasi untuk tidak meninggalkan dunia, menaklukkan dan memposisikannya dalam genggaman tangan, karena hati hanyalah ditujukan untuk Akhirat. Sehingga Nabi ﷺ menjadikan pernikahan, berbuka, dan istirahat bagian daripada ibadah. Peradaban Islam tidak meninggalkan materi tapi tidak juga memujanya, peradaban yang menyatakan ilmu dengan amal. Tradisi ilmu yang membentuknya tentu saja berbeda jauh dengan tradisi yang ada dalam peradaban lainnya, seperti dalam masyarakat Yunani, yang menjadi pilar utama peradaban Barat. Rusaknya cara pandang Yunani terhadap dunia terlihat dari seorang filsuf Yunani, Demonsthenes, sebagaimana diceritakan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud dalam Budaya Ilmu (2003), “Kami memiliki institusi pelacuran kelas tinggi (courtesan) untuk keindahan, gundik untuk kesehatan harian tubuh, dan istri untuk melahirkan dzurriyyat halal dan untuk menjadi penjaga rumah yang dipercaya.” Sehinga mengembalikan peradaban Islam diawali dengan proses Islamisasi Ilmu, dan untuk itu wajib melalui proses ta’dib, yakni pendidikan untuk melahirkan manusia beradab.

Peradaban yang dibangun di atas konsep ‘adab’ ini disebut dengan tamaddun, yang sangat berkorelasi positif dengan konsep ‘ad-din‘, sehingga setiap kota yang tegak konsep ini di dalamnya layak disebut dengan madinah. Untuk menjadi sosok pribadi yang beradab maka seseorang harus memiliki ilmu yang benar, ilmu yang mengantarkan kepada ketaqwaan dan kebahagiaan yang hakiki. Peradaban Islam tidak memusuhi peradaban asing, namun menyediakan alat dalam menerima unsur-unsur asing dengan cara pandang seorang Muslim, Islamic Worldview.

Masjid menjadi sentra diskusi penting dalam pengembangan adab, dikarenakan perhatian Nabi Muhammad ﷺ dalam aktivitas hijrahnya dari Makkah ke Yatsrib yang tinggi terhadap terbentuknya Masjid, dan Masjid Quba tercatat dalam sejarah sebagai Masjid pertama yang dibangun di atas dasar taqwa. Dikisahkan bahwa “Ketika pembangunan Masjid ini selesai, Rasulullah ﷺ mengimami shalat selama 20 hari. Semasa hidupnya, lelaki yang dijuluki Al-Amin ini selalu pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, Senin dan Kamis. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, para sahabat menziarahi masjid ini dan melakukan salat di sana.”(HR. Bukhari No. 1117, HR. Muslim No. 2478).

Masjid dengan filosofi dasar sebagai tempat sujud yang dimuliakan ini kemudian dikembangkan menjadi pusat berkembangnya peradaban. Perpustakaan, Observatorium, Baitul Hikmah sebagai Pusat Penerjemahan, Darul Hikmah sebagai Pusat Pengajaran, adalah di antara aktivitas yang bergerak bersama Masjid. Dorongan Islam untuk mengembangkan Ilmu sangatlah tinggi, dan dorongan ini bermula dari dorongan menegakkan adab, dan pembiasaan itu diawali dengan menegakan adab di Masjid.

Di antara firman Allah ﷻ yang berbicara tentang adab manusia terhadap Masjid adalah sebagai berikut,

a. Tidak menghalangi dibesarkannya nama Allah di masjidnya, dan menjaga kelestariannya:

Allah ﷻ berfirman dalam Q.S. al-Baqarah [2] ayat 114: 

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ أَن يُذۡكَرَ فِيہَا ٱسۡمُهُ ۥ وَسَعَىٰ فِى خَرَابِهَآ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ مَا كَانَ لَهُمۡ أَن يَدۡخُلُوهَآ إِلَّا خَآٮِٕفِينَ‌ۚ لَهُمۡ فِى ٱلدُّنۡيَا خِزۡىٌ۬ وَلَهُمۡ فِى ٱلۡأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬ (١١٤)

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya [masjid Allah], kecuali dengan rasa takut [kepada Allah]. Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. (114)

 

b. Menjaga kesucian Masjid dari aktivitas yang tidak layak:

Allah ﷻ berfirman dalam Q.S. al-Baqarah [2] ayat 187:

وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلۡمَسَـٰجِدِ‌ۗ تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقۡرَبُوهَا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَـٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ (١٨٧)

Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (187)

 

c. Mengenakan pakaian yang indah dalam memuliakan Masjid

Allah ﷻ berfirman dalam Q.S. al-A’raf [7] ayat 31:

۞ يَـٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٍ۬ وَڪُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْ‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ (٣١)

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap [memasuki] masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (31)

 

d. Memakmurkan Masjid

Allah ﷻ berfirman dalam Q.S. at-Taubah [9] ayat 17-18:

مَا كَانَ لِلۡمُشۡرِكِينَ أَن يَعۡمُرُواْ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ شَـٰهِدِينَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِم بِٱلۡكُفۡرِ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ وَفِى ٱلنَّارِ هُمۡ خَـٰلِدُونَ (١٧) إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّڪَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَ‌ۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ (١٨) ۞

Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. (17) Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut [kepada siapa pun] selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (18)

 

e. Memastikan pendirian Masjid di atas dasar taqwa

Allah ﷻ berfirman dalam Q.S. at-Taubah [72] ayat 107-108:

وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مَسۡجِدً۬ا ضِرَارً۬ا وَڪُفۡرً۬ا وَتَفۡرِيقَۢا بَيۡنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَإِرۡصَادً۬ا لِّمَنۡ حَارَبَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ مِن قَبۡلُ‌ۚ وَلَيَحۡلِفُنَّ إِنۡ أَرَدۡنَآ إِلَّا ٱلۡحُسۡنَىٰ‌ۖ وَٱللَّهُ يَشۡہَدُ إِنَّہُمۡ لَكَـٰذِبُونَ (١٠٧) لَا تَقُمۡ فِيهِ أَبَدً۬ا‌ۚ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ‌ۚ فِيهِ رِجَالٌ۬ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْ‌ۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ (١٠٨)

Dan [di antara orang-orang munafik itu] ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan [pada orang-orang mu’min], untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu [1]. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta [dalam sumpahnya]. (107) Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa [masjid Quba], sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. (108)

 

f. Tidak menyembah selain Allah ﷻ

Allah ﷻ befirman dalam Q.S. al-Jinn ayat 18:

وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدً۬ا (١٨)

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping [menyembah] Allah. (18)

 

Tegaknya prinsip-prinsip asasi nan mendasari di Masjid sebagai pusat spiritual kaum muslimin tentunya melahirkan ruh untuk pengembangan adab dalam seluruh dimensi kehidupan manusia. Dimensi adab ini kemudian bertemu dengan dimensi pendukung lainnya seperti dimensi ukhuwah, hukum dan ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas Nabi ﷺ setelah membangun Masjid Quba dalam perjalanan hijrahnya, yakni setelah tibanya beliau di Yatsrib, ternyata hal utama yang beliau prioritaskan adalah pembangunan Masjid Nabawi, baru kemudian melanjutkan dengan mempersaudarakan antara kaum pendatang dengan kaum setempat, membangun pondasi hukum yang mengatur taa kelola hubungan antara kaum muslimin dan non-Muslim, dan kemudian menguatkan perekonomian kaum muslimin dengan menciptakan pasar tersendiri. Berawal dari Masjid, pondasi-pondasi dasar peradaban Islam pun terbentuk mendorong ekspansi Islam di seluruh dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here