Tarhib Ramadhan 2017

0
46

Bismillāh, Saudaraku, hari ini kita berada di bulan Sya’ban, tepatnya 05 Sya’bān 1438 H.

Perlu dipahami bahwa Sya’bān bermakna awal kelompok-kelompok manusia yang bergerak mencari air agar di bulan Ramadhān memiliki persediaan yang mencukupi. Namun, dapat dipahami juga, khususnya bagi kita di zaman ini, bahwa Sya’bān bermakna bulannya mencari sumber-sumber air ilmu agar di bulan Ramadhān, kita telah memiliki persediaan ilmu yang cukup untuk mengarungi bulan penuh kemuliaan tersebut.

Adapun terkait Ramadhān, bulan ini bermakna ‘yang membakar’, karena demikian panasnya bulan ini di Jazirah Arab, namun juga bermakna yang membakar dosa-dosa manusia, selama ia tidak mengerjakan dosa-dosa besar, insya Allah mengisinya dengan tips dan trik yang benar dan tepat, akan mengeluarkan dirinya laksana baru keluar dari rahim ibunya, bersih tanpa dosa.

Kita bukan Nabi, tidak ma’shum, hisab masih mengkhawtirkan, surga masih jauh, tentunya kita sangat membutuhkan Ramadhān ini.

Saudaraku yang semoga dimuliakan Allah Rabb al-‘Izzati wa al-Jalālah,

Ramadhān itu ada 30 hari, cara memandang kita akan bulan ini harus berawal dari cara pandang helicopter view. Kerinduan kepada bulan itu yang mendorong kita berdo’a, Allāhumma bāriklanā fī Sya’bān wa ballighnā Ramadhān, sehingga sangat wajar jika banyak yang begitu merindukan terkabulnya do’a ini, tatkala adzan Maghrib berkumandang di tempatnya berada, ia pun segera sujud syukur, bersyukur kepada Allah ﷻ yang telah mengabulkannya, ketika banyak manusia yang tidak dikabulkan-Nya.

Kalau Allah ﷻ mengizinkan kita memasuki Ramadhān bersama usia kita, tentunya Allah ﷻ menginginkan agar kita tidak menyia-nyiakan rahmat-Nya dengan cara tidak mengisinya kecuali dengan segala sesuatu yang telah direncanakan jauh hari sebelumnya. Demikian generasi terbaik dahulu telah melewati hari-harinya ketika hendak datang bulan Ramadhan.

 

Saudaraku yang semoga diberikan keistiqomahan oleh Allah ﷻ,

30 hari itu waktu yang tidak sebentar, tapi juga akan terasa sebentar ketika kita sudah berada di akhirnya. Ketika kita melihat cara Nabi Muhammad ﷺ mengisi Ramadhan, kita akan tersadar, bahwa minimal ada 4 (empat) hal yang perlu kita siapkan, yakni:

1⃣ Persiapan Jiwa agar berbahagia menyambutnya
2⃣ Persiapan Akal agar memahami Ilmu
3⃣ Persiapan Jasad agar kuat mengisinya hingga akhir
4⃣ Persiapan Harta agar lebih dermawan di dalamnya

Keempat bentuk persiapan (i’dād) ini penting untuk kita perhatikan agar bukan saja melewati Ramadhan dengan melepaskan seluruh kewajiban semata, namun melewati Ramadhan dengan maksimal, penuh penghayatan, dan meraih ridha Allah ﷻ.

 

Saudaraku yang semoga selalu berani, tenang dan optimis dalam mengarungi kehidupan,

Pertama, Persiapan jiwa agar berbahagia menyambutnya.

Berbahagia yang dimaksud adalah berbahagianya manusia karena memahami bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keutamaan (fadhilah), seperti bulan pendidikan, bulan jihad, bulan Al-Qur’an, bulan toleransi, bulan taubat, bulan diampuninya dosa, selain bahwa Ramadhan adalah bulan puasa.

Berbahagia yang berbeda mungkin dirasakan bagi sebagian manusia yang belum memiliki ilmu ketika ia mendengar Ramadhan akan hadir, ia berbahagia karena teringat dirinya akan pulang cepat di bulan Ramadhan, atau bisa tidur panjang bakda shalat Zhuhr, atau bisa punya baju baru, atau bisa pulang kampung di 10 hari terakhir, atau hal-hal lain yang bersifat mubah, tapi menunjukkan bahwa ia belum paham keutamaan Ramadhan.

Sebagian lainnya justeru mungkin bersedih ketika mendengar hadirnya Ramadhan, karena ia tidak bisa merokok, susah mencari makan dan minum, merasa tidak kuat berpuasa, merasa hidup akan menjadi sulit selama 30 hari. Wal ‘iyadzubillah.

Oleh karenanya, Bunda termasuk sosok yang perlu memanfaatkan momen strategis ini, dan menjadi sosok yang paling berbahagia, karena Allah akan mempermudah langkah Bunda dalam membina Ananda untuk dekat kepada Allah ﷻ khususnya Masjid dan Al-Qur’an, dan bisa menjadikan ini awal bagi Bunda dalam mengkondisikan rumah agar kondusif bagi tumbuh kembang jiwa seluruh penghuninya. Awalilah dengan spanduk ‘Marhaban Yaa Ramadhan’ di depan rumah, agar seisi rumah bersemangat bahkan menularkan aura positif ke tetangga yang akan berbalik memberikan aura positif kepada keluarga Bunda sekalian.

 

Saudaraku yang semoga memiliki anak-anak penghafal Al-Qur’an 30 Juz, bukan Juz 30,

Kedua, Persiapan Akal agar memahami Ilmu.

Berakal dan menggunakan akal untuk berpikir adalah perintah agama. Berpikir untuk mendapatkan hikmah dari setiap proses penghayatan yang dilakukan adalah aktifitas yang dimuliakan agama. Ilmu akan membimbing manusia dari kekosongan program dan penyimpangan pilihan kehidupan. Ramadhān yang hanya 30 hari sejatinya terbagi pada 3 (tiga) periode waktu, sebagai kehidupan manusia pun terbagi pada 3 (tiga) fase kehidupan.

Pemahaman akan 3 (tiga) periode waktu ini berawal dari puncak periode yang penuh kemuliaan, sehingga Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah meninggalkannya, hingga mengqadhanya jika meninggalkannya, dialah 10 (sepuluh) hari terakhir bulan Ramadhan. Bergerak dengan memulainya dari menetapkan target pencapaian akhir akan membuat program ikutannya terukur, dan bahkan menguatkan konsep agama untuk tidak terlalu bersemengat di awal, tapi jagalah semangat, dan terus tingkatkan, hingga di fase terakhir Ramadhan, pada saat itulah Allah ﷻ ingin melihat kita ada di Rumah-Rumah-Nya, i’tikaf, meraih kemuliaan lipatan umur, dan ini semua hasil kesabaran dan pintarnya kita menjaga semangat pada 20 hari sebelumnya.

 

Saudaraku yang semoga dikehendaki Allah ﷻ mudah memahami agama ini,

Ketiga, Persiapan Jasad agar kuat mengisinya hingga akhir.

Ramadhan termasuk ibadah yang membutuhkan kekuatan jasad, sama seperti Shalat dan Haji. Ketika Allah ﷻ menyandingkan kata Halāl dan Thayyib, bermakna jasad adalah salah satu fokus utama, karena ia telah dititipkan kepada ruh untuk dipelihara sebaik-baiknya.

Memiliki jasad yang sehat, tidak gendut tapi juga tidak terlalu kurus adalah hikmah agar mukmin dapat beribadah sempurna. Ramadhān mengingatkan kita bahwa jasad bisa lelah dalam menerima makanan, ia perlu melalui proses detoksifikasi racun-racun, sehingga idealnya, Ramadhan akan menjadikan pengeluaran mukmin semakin sedikit, dan menjadikannya lebih sehat. Jika tidak, berarti ia belum memahami poin kedua di atas, yakni ilmu yang belum memenuhi akal dan jiwanya.

Namun begitu, keutamaan Ramadhān pun membutuhkan kekuataan jasad, siang dan malam. Bagi Saudara yang punya penyakit khusus, seperti maag, asam urat, kolesterol, jantung, dan sejenisnya, tentu harus memiliki siasat sejak dini, atau kalau saat ini tidak memiliki gangguan itu, perlu memaksimalkan ikhtiar agar ketika Ramadhan tiba, Saudara berada dalam kondisi paling prima.

Memilih makanan di sisa bulan Sya’bān ini, memperbanyak olahraga, dan pemanasan dengan beberapa shaum sunnah, dan tilawah Qur’an adalah contoh persiapan yang baik dilakukan.

 

Saudaraku yang semoga selalu dijaga ALlah ﷻ,

Keempat, Persiapan Harta agar lebih dermawan di dalamnya.

Ramadhān adalah bulan dilipatgandakannya amal, termasuk dalam hal terkait infaq dan shadaqah. Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok dermawan setiap bulan, namun ketika datang Ramadhan, Jibril datang untuk memuraja’ah hafalan dan qira’at Nabi Muhammad ﷺ. Ketika itu, Nabi ingin ketika Jibril datang, ia dalam kondisi jauh lebih dermawan.

Kedermawanan ini adalah latihan agama. Kelaparan adalah juga latihan agama. Keduanya berpadu melahirkan sosok yang mencintai keadilan dan cinta kasih kepada orang-orang lemah. Tujuan ini harus kita dapatkan dalam proses rangkaian puasa di siang hari dan berdiri di malam hari, karena inilah tujuan besar agama.

Bunda, demikian ya pengantar dari saya, silahkan masukannya. Semoga Bunda semua masuk ke Jannah, dan dipanggil melalui pintu Ar-Rayyān, 1 dari 8 pintu Surga yang dikhususkan untuk pecinta Ramadhān.

Wassalāmu ‘alaikum wa rahmatullāh.
Dr. Wido Supraha
wido@supraha.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here